DILI, 30 Juli 2025 (TATOLI)— Presiden Republik dan Peraih Nobel Perdamaian, Jose Ramos-Horta, Rabu (30/07) bertolak ke Republik Indonesia. Dalam kunjungan tersebut Kepala Negara dijadwalkan akan menjadi pembicara utama di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Indonesia.
Dalam siaran pers dari Istana Negara yang diakses Tatoli, menyebutkan kunjungan Kepala Negara itu dilakukan pada 30 hingga 31 Juli 2025. Dimana kunjungan tersebut untuk memperkuat hubungan bilateral pada diplomasi akademik, pembangunan perdamaia dan penguatan kemitraan antara Timor-Leste dan Indonesia.
Dijelaskan, poin utama dari kunjungan singkat Presiden Horta akan menjadi pembicara utama di Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta. Di mana Presiden Horta akan menyampaikan topik berjudul ‘Pengabdian Masyarakat sebagai Landasan Kepemimpinan Global,’ yang menginspirasi mahasiswa dan akademisi untuk menerjemahkan inisiatif mulai dari dasar menjadi solusi yang terukur bagi perdamaian dan pembangunan berkelanjutan.
Kepala Negara juga akan berinteraksi dengan komunitas akademik dan budaya Indonesia, termasuk kunjungan ke Festival Seni Rupa UGM, yang menggarisbawahi kekuatan seni dalam mendorong pemahaman lintas budaya.
Selain itu, Kepala Negara juga akan bertolak ke Jakarta, Indonesia. Dimana, Presiden Horta akan mengadakan dialog strategis dengan para pemimpin Indonesia dan menyampaikan kuliah umum di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), yang akan memperkuat komitmen Timor-Leste terhadap stabilitas regional dan persatuan ASEAN.
Kunjungan ini menggarisbawahi dedikasi Timor-Leste untuk memperluas kerja sama bilateral dengan Indonesia, memposisikan UGM sebagai pusat dialog strategis, dan memajukan aspirasi bersama untuk kawasan yang damai dan sejahtera.
Perlu diketahui bahwa, Universitas Gadjah Mada adalah gabungan dari beberapa sekolah tinggi, yaitu Sekolah Tinggi Teknik, Akademi Politik Yogyakarta, Balai Pendidikan Ahli Hukum di Solo, serta Perguruan Tinggi Kedokteran Bagian Praklinis di Klaten. Berdirinya universitas ini disahkan oleh Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949 tentang penggabungan perguruan tinggi menjadi universitas.
Sementara, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) adalah lembaga kajian independen nirlaba yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Lembaga ini berfokus pada riset berorientasi kebijakan, dialog, dan debat publik untuk berkontribusi pada perbaikan proses kebijakan, yang mencakup bidang-bidang seperti ekonomi, politik, perubahan sosial, dan hubungan internasional. CSIS juga terlibat dengan komunitas regional dan internasional untuk meningkatkan kesadaran akan kebijakan dan pembangunan Indonesia.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editor : Armandina Moniz




