Ingatkan risiko fiskal, CGT-TL akui Proyek Chuditch perlu kajian lanjutan

DILI, 25 Juni 2025 (TATOLI)– Jaringan Masyarakat Sipil, melalui Kelompok Inti Transparansi Timor-Leste (Core Group Transparensia Timor-Leste/ CGT-TL), menyampaikan keprihatinan terhadap rencana pengembangan ladang gas Chuditch.
CGT-TL menilai proyek ini mengandung risiko fiskal yang tinggi dan mendesak perlunya kajian lanjutan sebelum pemerintah melanjutkan komitmen lebih jauh dalam skema kemitraan publik-swasta.
Dalam siaran pers yang dirilis hari ini, CGT-TL menyoroti keputusan Pemerintah untuk berinvestasi melalui perusahaan negara Timor GAP, bersama SundaGas dan Stream Tec, dalam proyek eksplorasi ladang Chuditch serta pengembangan fasilitas gas di Bayu-Undan.
Menurut mereka, proyek tersebut belum memiliki justifikasi teknis dan ekonomi yang jelas, terutama terkait dengan kepastian cadangan gas yang ada.
“Ladang Chuditch masih belum jelas cadangannya. Jika tanpa kajian yang kuat, proyek ini bisa memperbesar kerentanan terhadap Anggaran Negara Umum (OJE) dan stabilitas ekonomi nasional,” kata Koordinator CGT-TL, Jemicarter Monis dos Reis dalam konferensi pers di Caicoli, rabu ini.
Organisasi tersebut juga menyoroti bahwa Timor GAP hingga kini belum menghasilkan pendapatan sendiri, dan operasionalnya sepenuhnya bergantung pada anggaran negara, sehingga keputusan investasi dalam proyek bernilai besar perlu dipertimbangkan secara matang.
Sebelumnya, pada Desember 2024, Pemerintah Timor-Leste melalui Kementerian Perminyakan dan Sumber Daya Mineral (MPRM) menandatangani Nota Kesepahaman dengan Timor GAP dan SundaGas terkait pengembangan sumber daya gas di wilayah Chuditch PSC (Production Sharing Contract).
Nota tersebut memuat rencana pengembangan ladang gas melalui pengeboran sumur penilaian Chuditch-2, serta ekspor gas melalui pipa ke fasilitas Bayu-Undan dan selanjutnya ke terminal LNG yang direncanakan di pantai selatan Timor-Leste, tepatnya di Natarbora.
Meskipun potensi gas di wilayah ini sebelumnya telah diumumkan melalui laporan teknis, CGT-TL menilai bahwa komitmen finansial negara seharusnya tidak dilakukan tanpa hasil uji teknis yang konkret.
CGT-TL mengingatkan bahwa meskipun pengembangan sektor migas penting bagi masa depan energi nasional, namun pendekatan yang terburu-buru tanpa data valid dan transparansi berisiko menambah beban fiskal negara. Mereka meminta Pemerintah menunggu hasil pengeboran dan kajian kelayakan komersial sebelum menyusun komitmen investasi lebih lanjut.
“Pemerintah harus menempatkan prinsip kehati-hatian fiskal sebagai prioritas utama. Setiap keputusan investasi publik harus berbasis pada studi kelayakan yang lengkap, bukan pada proyeksi optimistis semata,” tegasnya
CGT-TL juga berkomitmen untuk terus memantau dan mengawal proses investasi di sektor strategis seperti migas, guna memastikan bahwa kebijakan pembangunan nasional berjalan secara adil, transparan, dan berkelanjutan.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

