g7+ perkuat diplomasi perdamaian melalui berbagai misi internasional

DILI, 30 Juli 2026 (TATOLI) – Kelompok negara-negara rentan terhadap konflik dan krisis, g7+, terus memperkuat perannya dalam diplomasi perdamaian melalui berbagai misi internasional, mulai dari pemantauan pemilu, mediasi konflik, hingga penguatan kerja sama dengan organisasi regional dan internasional.
Perdana Menteri Timor-Leste sekaligus tokoh yang berperan penting dalam pembentukan g7+, Kay Rala Xanana Gusmão, mengatakan organisasi tersebut tetap berkomitmen mendukung perdamaian, stabilitas, dan pembangunan di negara-negara yang menghadapi tantangan akibat konflik dan kerapuhan institusi.
Xanana menjelaskan bahwa dalam beberapa waktu terakhir g7+ telah mengirimkan delegasi ke sejumlah negara untuk menjalankan berbagai misi perdamaian dan demokrasi.
“Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah mengirimkan tim pemantau pemilu ke São Tomé dan Príncipe guna mendukung proses demokrasi yang transparan dan damai. Selain itu, delegasi g7+ juga melakukan kunjungan ke Kepulauan Solomon sebagai bagian dari upaya memperkuat dialog dan kerja sama dengan negara-negara anggota,” ucapnya di Kantor Pemerintah, hari ini.
Di kawasan Timur Tengah, g7+ menerima delegasi dari Yaman untuk membahas perkembangan situasi di negara tersebut sekaligus menjajaki peluang dukungan terhadap proses perdamaian.
Menurut Xanana, g7+ juga terus memperluas kemitraan strategis dengan berbagai organisasi internasional, termasuk menjalin kerja sama dengan Komunitas Negara-Negara Berbahasa Portugis (CPLP) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam mendorong pembangunan berkelanjutan serta penguatan kapasitas negara-negara anggota.
Selain itu, organisasi tersebut turut berpartisipasi dalam berbagai dialog perdamaian di Jenewa yang mempertemukan para pemimpin, diplomat, dan mitra internasional untuk membahas penyelesaian konflik secara damai melalui pendekatan dialog dan diplomasi.
Xanana menegaskan bahwa g7+ dibentuk berdasarkan pengalaman bersama negara-negara yang pernah mengalami konflik dan memahami pentingnya kepemilikan nasional (national ownership) dalam membangun perdamaian yang berkelanjutan.
Ia mengatakan pengalaman tersebut menjadi landasan bagi g7+ untuk terus berbagi praktik terbaik, memperkuat solidaritas antarnegara anggota, serta menyuarakan kepentingan negara-negara rentan di berbagai forum internasional.
Sejak didirikan di Dili pada 2010, g7+ telah berkembang menjadi platform kerja sama yang mewakili negara-negara yang terdampak konflik dan kerapuhan institusi. Organisasi ini secara konsisten mendorong pendekatan pembangunan yang berpusat pada perdamaian, ketahanan negara, serta kemitraan internasional yang lebih inklusif.
Melalui berbagai misi internasional tersebut, g7+ menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam penyelesaian konflik, memperkuat demokrasi, dan mendukung pembangunan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mewujudkan perdamaian global.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

