DILI, 24 Juni 2025 (TATOLI)— Uni Eropa, WFP (Program Pangan Dunia), UNICEF (Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), selaku mitra pembangunan mendukung Pemerintah Timor-Leste dengan menandatangani perjanjian baru yang ditujukan untuk mengatasi masalah gizi dan inklusi sosial di negara ini.
Acara penandatanganan ini dilakukan di ruang pertemuan JL World Metiaut, Dili, Selasa ini dengan dan disaksikan Wakil Perdana Menteri, Menteri Koordinator Urusan Sosial, dan Menteri Pembangunan Pedesaan dan Perumahan, Masyarakat Mariano Assanami Sabino.
Wakil PM Mariano Assanami dalam acara itu mengucapkan terima kasih kepada WFP, UNICEF dan ILO dalam merayakan tonggak penting ini, dimana berkemitraan dengan Uni Eropa dan Pemerintah Timor-Leste dalam menangani masalah gizi, pendidikan, dan kesehatan, dan meningkatkan inklusi sosial bagi perempuan dan anak-anak yang rentan.
“Kolaborasi ini bukan hanya tentang program atau kebijakan. Ini tentang warga Timor-Leste dengan memastikan bahwa seorang ibu tidak harus memilih antara memberi makan anaknya dan menyekolahkan mereka. Ini tentang memberikan sistem yang mendengarkan, mengikutsertakan, dan mengangkat. Dan ini tentang bekerja berdampingan, masing-masing dari kita membawa kekuatan kita, untuk membangun masa depan di mana tidak seorang pun tertinggal, dan setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dengan mendapatkan gizi, pendidikan, dan keamanan yang cukup,” kata Wakil PM Mariano Assanami.
Mariano Assanami menegaskan kebanggaan Pemerintah Timor-Leste bekerjsama dengan Uni Eropa sebagai mitra utama yang berkontribusi dalam keuangan dan Pemerintah Timor-Leste juga akan memajukan ambisinya untuk program pemberian makanan di sekolah yang dimiliki secara nasional dan dikembangkan di dalam negeri untuk memperkuat sistem, meningkatkan pengetahuan dan kapasitas lokal, serta mempromosikan produksi pangan lokal, dan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.
Ditempat yang sama, Duta Besar Uni Eropa di Timor Leste, Marc Fiedrich mengutarakan bahwa dalam penandatangan perjanjian baru tersebut harus menunjukan bahwa gizi dan inklusi sosial tetap menjadi agenda utama di Timor-Leste.
“Ini merupakan suatu kehormatan untuk berdiri di hadapan Anda hari ini untuk menandai penandatanganan Proyek baru yang didanai oleh Uni Eropa. Kita berkumpul di sini sebagai mitra yang dipersatukan oleh tujuan bersama, meningkatkan status gizi masyarakat Timor-Leste, dengan fokus khusus pada perempuan, anak-anak, dan khususnya, pada kaum muda,” ujarnya.
Dikatakan, Uni Eropa berkomitmen untuk mengurangi stunting global di antara anak-anak di bawah usia lima tahun setidaknya sebesar 40% pada tahun 2025 ini. Karena, Uni Eropa telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan dengan mitra pembangunan lainnya seperti UNICEF dan WFP yang berkontribusi anggaran senilai EUR 25 juta untuk program gizi penting di Timor-Leste.
“Sekarang kami menginvestasikan tambahan EUR 12 juta selama tiga hingga empat tahun ke depan untuk mendukung gizi dan inklusi sosial.” tuturnya.
Selain itu, Perwakilan WFP di Timor-Leste, Jacqueline de Groot atas nama tiga mitra yang mendukung program tersebut (WFP, ILO, dan UNICEF), mengatakan bahwa kolaborasi ini melampaui nutrisi sekolah, menghubungkan ke pendidikan, perlindungan sosial, pertanian, dan mata pencaharian.
“Dengan mendukung gizi keluarga dan memberikan pemberian makanan di sekolah dengan produksi pangan lokal, kita dapat meningkatkan pola makan, memerangi kekurangan gizi, dan memberdayakan masyarakat. Kemitraan ini menyoroti tindakan kolektif menuju sistem yang lebih kuat yang melayani mereka yang paling rentan, terutama perempuan dan anak-anak, serta membantu setiap orang menjalani hidup yang lebih sehat,” katanya.
Program ini akan difokuskan pada penguatan kapasitas sumber daya manusia, mendukung lembaga-lembaga nasional, dan melibatkan organisasi-organisasi masyarakat sipil, dan diharapkan dapat secara langsung memberi manfaat bagi 150.000 orang di masyarakat pedesaan di delapan kotamadya yaitu, Dili, Aileu, Ainaro, Covalima, Ermera, Lautem, Liquica, dan Viqueque.
Perjanjian baru ini merupakan bagian dari strategi Uni Eropa yang lebih luas untuk mendukung intervensi terpadu dan terkoordinasi yang meningkatkan gizi dan mempromosikan inklusi sosial.
Kekurangan gizi masih menjadi tantangan kritis di Timor-Leste, yang memiliki salah satu tingkat stunting anak tertinggi di dunia. Menurut survei yang didukung Uni Eropa tahun 2020 yang dilakukan oleh UNICEF dan Kementerian Kesehatan, 47,1% anak di bawah lima tahun mengalami stunting. Selain itu, 27% penduduk mengalami kerawanan pangan akut, yang menimbulkan ancaman serius terhadap pembangunan sosial ekonomi jangka panjang negara ini.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editor : Armandina Moniz




