DILI, 03 Juni 2025 (TATOLI) – Universidade da Paz (UNPAZ) bekerja sama dengan organisasi internasional Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) dan komunitas seni Arte Moris dalam sebuah inisiatif bersama untuk mempromosikan perdamaian dan keharmonisan di Timor-Leste melalui seni mural.
Kolaborasi ini diwujudkan melalui pengecatan dinding kampus UNPAZ yang bertema “Perdamaian”, sebagai bagian dari kampanye global HWPL dan rangkaian peringatan 10 tahun proklamasi Deklarasi Perdamaian dan Penghentian Perang (DPCW).
Perwakilan Rektor UNPAZ, Fernando Dias Gusmão, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya bersifat simbolis, melainkan merupakan wujud nyata dari komitmen institusi pendidikan dalam menciptakan ruang dialog yang damai dan menolak kekerasan.
“Hari ini UNPAZ bersama HWPL dan Arte Moris melaksanakan kegiatan melukis dinding bertema perdamaian di lingkungan kampus. Kami percaya bahwa pendidikan dan seni adalah dua kekuatan penting untuk mendorong perubahan sosial dan menciptakan masyarakat yang lebih harmonis,” jelas Fernando Dias di UNPAZ, selasa ini.
Fernando juga mengingatkan bahwa sejarah Timor-Leste penuh dengan konflik dan penderitaan, sehingga momen ini menjadi peluang untuk menanamkan semangat perdamaian di kalangan generasi muda.
Ia menegaskan bahwa inisiatif ini melibatkan mahasiswa, khususnya dari Departemen Studi Perdamaian dan Hubungan Internasional, namun terbuka untuk seluruh komunitas kampus.
“Lembaga akademis perlu menciptakan ruang interaksi antara dosen dan mahasiswa yang membahas pentingnya perdamaian. Kita harus membenci kekerasan dan menjadikan perdamaian sebagai landasan untuk hidup berdampingan secara harmonis,” tambahnya.
Sementara, Direktur Pelaksana HWPL, Joseph Whang, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari refleksi kolektif yang menyatukan masyarakat lintas latar belakang dalam upaya menciptakan dunia tanpa perang.
Ia juga menyinggung keberhasilan pelaksanaan Program Pelatihan Pendidik Perdamaian pada tahun 2024, yang diikuti oleh dosen-dosen UNPAZ dan kini telah diterapkan dalam kurikulum kampus.
“Para pendidik dari UNPAZ telah mendapatkan sertifikat sebagai Pendidik Perdamaian HWPL dan mulai membina generasi baru pendukung perdamaian. Kegiatan ini memperkuat upaya kami bersama dalam membangun budaya damai melalui pendidikan dan partisipasi aktif,” ujarnya.
Proyek mural perdamaian pertama HWPL diluncurkan pada 2023 di Xanana Sports Center dengan tema “Cintai Diriku, Cintai Keluargaku, Cintai Negaraku, Cintai Perdamaian, dan Cintai HWPL”. Kegiatan ini didukung oleh seniman Arte Moris, mahasiswa dari berbagai universitas, dan mendapatkan sponsor dari Vinod Patel.
Ketua Asosiasi Arte Moris, Iliwatu Danapere, mengungkapkan bahwa partisipasi mereka dalam proyek ini sejalan dengan misi organisasi mereka yang sejak krisis 2006 telah konsisten menggunakan seni sebagai sarana menyampaikan pesan damai dan mempromosikan sejarah serta budaya lokal.
“Program ini bagian dari misi kami. Dan, kami senang karena seni lukis dapat menyampaikan pesan perdamaian yang kuat kepada masyarakat, apalagi HWPL adalah organisasi dunia dengan visi besar,” katanya.
Seni mural sendiri adalah seni yang dibuat langsung di atas permukaan dinding atau bangunan besar, seperti dinding rumah, tembok jalan, atau bahkan bangunan umum. Mural dapat berupa lukisan, gambar, atau kombinasi keduanya yang menghiasi permukaan tersebut, bertujuan untuk menyampaikan pesan, ide, atau ekspresi diri.
Ia menambahkan bahwa proyek ini akan berfokus pada kegiatan Arte Moris di dalam negeri dan melibatkan pelukis lokal maupun kelompok seni lainnya. Saat ini pihaknya masih mempersiapkan bahan dan seniman yang akan berpartisipasi, dan rencananya kegiatan mural akan dimulai pada awal Juli 2025.
“Dulu, banyak pejuang menggunakan kekuatan fisik untuk meraih kemerdekaan. Hari ini, generasi muda harus melanjutkan perjuangan itu dengan cara yang berbeda, melalui seni, pendidikan, dan kerja sama damai,” tegas Iliwatu.
Melalui kolaborasi ini, UNPAZ, HWPL, dan Arte Moris menunjukkan bahwa perdamaian bukan hanya sebuah cita-cita, tetapi sebuah proses aktif yang bisa dibangun bersama melalui seni, pendidikan, dan semangat kolektif.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




