iklan

INTERNASIONAL, PENDIDIKAN, SOSIAL INKLUSIF

Fasilitasi ujian kesetaraan kaum difabel, MEJD akan datangkan guru dari Indonesia

Fasilitasi ujian kesetaraan kaum difabel, MEJD akan datangkan guru dari Indonesia

Menteri Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Armindo Maia. Foto TATOLI/Francisco Sony

DILI, 27 juni 2022 (TATOLI)—Kementerian Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (MEJD) tahun ini akan mendatangkan guru dari Kupang, Indonesia untuk mamfasilitasi kaum difabel di Timor-Leste dalam  mengikuti ujian kesetaraan (Exame Equivalência).

“Program ini sudah berjalan sejak lama.  Namun, setelah COVID-19 ini kita akan melihat kemungkinan agar nantinya bisa mendatangkan guru dari Kupang, Indonesia. Itu dilakukan untuk bisa memberikan ujian disini agar tidak memakan terlalu banyak biaya,” kata Menteri MEJD, Armindo Maia kepada Tatoli, di kantor AHMDTL, Manleuana, senin ini.

Ia menambahkan pihaknya  sedang mengupayakan agar sebelum tahun ini berakhir, bisa mendatangkan guru dari Kupang.  Keuntungannya bagi kita, jika mendatangkan guru dari Kupang, akan lebih banyak kaum difabel yang bisa berpartisipasi.

Armindo Maia juga memastikan bahwa pihaknya telah merencakan strategis agar bisa memberikan pelatihan khusus kepada guru-guru. Itu dilakukan  agar nantinya sekolah Pendidikan Inklusif di Timor-Leste tidak sepenuhnya tergantung pada negara lain khususnya dalam memberikan ujian kesetaraan.

Perwakilan Yayasan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Mata Timor-Leste (AHMDTL), Gabriel de Sousa menginformasikan bahwa selama ini proses ujian kesetaraan yang dilakukan di Kupang, Indonesia sepenuhnya adalah dukungan dari para mitra.

Jadi, katanya setiap tahun AHMDTL hanya bisa mengirim tidak lebih dari sepuluh peserta untuk mengikuti ujian tersebut. Itu dikarenakan  biaya dan akomodasi yang cukup mahal.

“Menurut perhitungan kami pada saat mengirim enam peserta ke Kupang memakan biaya lebih dari $50.000. Jadi, jika ada 24 orang yang ingin ikut maka kita harus mempersiapkan dana lebih dari itu,” katanya.

Ia meminta kepada Pemerintah agar memiliki Pusat Uji Kesetaraan sendiri agar nantinya bisa memberikan pelatihan khusus kepada para guru dan memafasilitasi kaum difabel di seluruh teritori.

Menurut Sensus Penduduk 2015 disebutkan ada 38.118 penyandang disabilista, 14,828 diantaranya adalah tuna netra.

Reporter  : Cidalia Fátima

Editor      : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!