iklan

EKONOMI, INTERNASIONAL

Agensi tolak tenaga kerja keluar dari sistem ikut Program PALM Scheme

Agensi tolak tenaga kerja keluar dari sistem ikut Program PALM Scheme

Para tenaga kerja Timor-Leste yang bekerja di Australia. Foto spesial

DILI, 24 mei 2022 (TATOLI)—Duta Besar Timor-Leste untuk Australia, Inês Maria de Almeida, mengatakan agensi menolak tenaga kerja Timor-Leste yang bekerja keluar dari system itu tak dapat mengikuti program PALM (Pacific Australia Labour Mobility) Scheme.

Berita Terkait: Juli mendatang: Pemilik kebun Tasmania akan rekrut 300 tenaga kerja TL

“Dalam program baru PALM Schemen ini beberapa tenaga kerja Timor-Leste ingin kembali lagi tetapi agensi tolak karena mereka sudah kaluar sistem,” kata Dubes Inês Maria de Almeida kepada Agência Tatoli di kantor Kementerian Luar Negeri dan Kerjasama, Avenida Portugal, Dili, senin.

Agensi dan Pemilik Kebun di Australia tidak ingin memberikan kesempatan lagi kepada tenaga kerja yang sebelumnya keluar dari sistem untuk mengikuti program tersebut karena harus memberikan prioritas kepada tenaga keraj yang lain.

Selain Timor-Leste, adapun tenaga kerja dari negara lain seperti Fiji, Kiribati, Nauru, Papua Nugini, Samoa, Kepulauan Solomon, Tonga, Tuvalu dan Vanuatu.

“Para agensi mengatakan bahwa sebelumnya telah membawa mereka ke sini dan jika keluar dari sistem mak tidak bisa memberi kesempatan kedua kalinya untuk kembali, karena di luar sana masih ada orang lain yang ingin bekerja dan ikuti program ini,” ujarnya.

Dijelaskan, para tenaga kerja yang keluar dari sistem ini disebabkan oleh pandemi COVID-19 yang membatasi akses Australia untuk kembali ke Timor-Leste sehingga harus mencari pekerjaan lain untuk membiayai hidup sehari-hari.

Ternyata keputusan mereka ini sangat beresiko untuk mangajukan TPV (Temporary Protection Visa atau Visa Perlindungan Sementara), karena kategori visa Australia yang dikeluarkan untuk orang-orang yang telah diakui sebagai pengungsi yang melarikan diri dari penganiayaan dan konflik di negaranya.

“Mereka berpikir bahwa ini adalah yang terbaik, tetapi ini pilihan yang salah. Jika kita datang dengan sebuah program dan bekerja dalam sistem, kita tidak boleh keluar karena ini memberikan dampak pada orang-orang Timor yang lain,” katanya.

Temporary Protection Visa atau Visa Perlindungan Sementara dikeluarkan untuk orang yang mengajukan status pengungsi setelah melakukan kedatangan yang tidak sah di Australia, dan merupakan jenis visa utama yang dikeluarkan untuk pengungsi ketika dibebaskan dari fasilitas penahanan imigrasi Australia.

Disebutkan, saat ini ada lebih dari 400 tenaga kerja TL yang keluar dari sistem database dan yang ada saat ini berjumlah 170 tenaga kerja yang sudah membatalkan visa tesebut tetapi tak dapat kembali lagi mengikuti program PALM Scheme.

Meskipun begitu, Dubes Inês meyakini bahwa pihaknya tidak melakukan diskriminasi dan memberikan layanan yang sama kepada masyarakat TL yang tinggal di Australia untuk bekerja, belajar dan lainnya melalui konsulat di Darwin, Sidney, Melbourne dan Perth.

“Selama dua tahun ini tidak ada mobilisasi jadi saya tidak bisa melihat sendiri para tenaga kerja kita. Kami mencari jalan agar membuat Zoom dengan para tenaga kerja kita dan jika ada masalah dan lainnya maka kami mencari jalan keluar agar bisa mendapatkan solusi terbaik,”  ucapnya.

Direktur Umum SEFOPE (Sekretariat Negara untuk Pelatihan Profesional Ketenagakerjaan), Paulo Alves mengakui bahwa pemerintah tidak menutup kesemapatan bagi tenaga kerja yang ingin mengikuti program PALM Scheme, tetapi keputusan perekrutan akan diambil oleh agensi dan pemilik kebun.

“Kami melakukan seleksi agar bisa masuk dalam sistem tetapi proses perekrutan akan dilakukan lansung oleh para agensy,” tuturnya.

Selain itu, ia menjelaskan mengenai progres kerjasama antara pemerintah Timor-Leste dengan Jepang untuk mengutus pekerja berpotensi kepada Jepang.

“Sebulan lalu kami sudah bertemu dengan Duta Besar Jepang di TL untuk membahas hal ini dan saya sendiri dulu sudah ke Jepang, tetapi progres kerjasama sementara masih dalam komunikasi antara kedua negara,” jelasnya.

Ia mengatakan, pemerintah juga tengah melakukan pendekatan pada pemerintah Kanada untuk bisa melakukan kerjasama lebih lanjut pada proses pengembangan sumber daya manusia TL.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor     : Cancio Ximenes

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!