Pelestarian budaya dan tradisi Nahe Biti Boot jadi jalan menuju rekonsiliasi

LAUTÉM, 23 Oktober 2026 (TATOLI) – Pusat Nasional Chega! (Centro Nacional Chega! – CNC) dan Otoritas Kotamady Lautém menekankan pentingnya pelestarian budaya, ingatan sejarah, serta mekanisme tradisional Nahe Biti Boot sebagai jalan untuk memperkuat rekonsiliasi dan menyelesaikan konflik secara damai antarkomunitas.
Direktur Eksekutif CNC, Hugo Maria Fernandes, menegaskan bahwa rekonsiliasi bukan sekadar upaya mengakhiri siklus balas dendam, melainkan juga menjadi elemen fundamental dalam pembangunan bangsa dan penguatan hubungan antarkomunitas.
“Rekonsiliasi bukan hanya untuk menyatukan kembali sejarah dan hati yang pernah terpisah, tetapi rekonsiliasi merupakan jiwa dari pembangunan sebuah bangsa,” kata Hugo Fernandes dalam pembukaan Festival Fronteira 2026 di Desa Com, Kotamadya Lautém, Jumat ini.
Ia menjelaskan bahwa batas politik dapat memisahkan wilayah dua negara, tetapi tidak dapat menghapus identitas, ingatan sejarah, dan hubungan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat sejak zaman leluhur.
Menurutnya, Festival Fronteira juga menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, tradisi, dan cara hidup masyarakat, sekaligus melanjutkan upaya pelestarian identitas budaya.
“Festival Fronteira tidak hanya diselenggarakan untuk kita yang hadir di sini atau mereka yang sudah lanjut usia. Festival Fronteira diselenggarakan bagi generasi muda agar mereka memiliki pengetahuan tentang budaya kita,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Otoritas Kotamadya Lautém, Mélio de Jesus, menekankan pentingnya melestarikan mekanisme budaya Nahe Biti Boot, yaitu tradisi musyawarah yang memungkinkan masyarakat duduk bersama, saling mendengarkan, mencari kebenaran, dan menyelesaikan konflik secara damai.
“Salah satu poin penting dalam Festival Fronteira 2026 adalah mempromosikan proses rekonsiliasi masyarakat Timor melalui pelestarian adat istiadat dan kearifan lokal, khususnya mekanisme budaya Nahe Biti Boot yang menjadi ruang khusus untuk berdialog, saling mendengarkan, mencari kebenaran, memahami persoalan, dan menyelesaikan konflik secara damai,” kata Mélio.
Ia menjelaskan bahwa mekanisme tradisional tersebut dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul akibat peristiwa masa lalu, termasuk dampak peristiwa tahun 1999 yang menyebabkan perpecahan dalam sejumlah keluarga dan komunitas.
Mélio juga menyerukan partisipasi aktif para tokoh adat (lia-na’in), pemimpin tradisional, pemuda, dan masyarakat untuk memastikan bahwa rekonsiliasi tidak hanya terbatas pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dalam pidatonya, Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão juga mengajak generasi muda untuk tidak melupakan akar budaya mereka, terutama di tengah perkembangan teknologi yang terus mengubah cara hidup manusia.
Menurutnya, kemajuan dan modernisasi tidak seharusnya menghilangkan identitas serta warisan budaya yang diturunkan oleh para leluhur.
Para pemimpin berharap pelestarian budaya dan mekanisme tradisional dapat terus memperkuat perdamaian, solidaritas, serta saling pengertian antara masyarakat Timor-Leste dan Indonesia.
Perdana Menteri Xanana Gusmão juga menyoroti situasi dunia yang saat ini menghadapi tantangan besar akibat konflik bersenjata dan persaingan kepentingan antarnegara besar yang terus memengaruhi stabilitas internasional.
“Dunia sekarang sudah rusak, dunia benar-benar rusak. Saat ini tidak ada lagi kesempatan dan ruang untuk berdialog. Semua orang hanya ingin menang, menang, dan menang,” kata Xanana Gusmão.
Ia merujuk pada konflik di Ukraina dan Timur Tengah yang menurutnya telah membawa berbagai konsekuensi terhadap kehidupan masyarakat, termasuk kesulitan ekonomi dan terganggunya pelayanan publik di sejumlah negara.
Xanana juga menyampaikan kekhawatirannya mengenai penerapan hukum internasional yang menurut penilaiannya sangat bergantung pada kepentingan negara-negara besar.
“Hukum internasional hanya dapat diterapkan ketika kepentingan negara-negara besar mendapat perlindungan. Jika tidak, hukum internasional kehilangan nilainya,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa Timor-Leste, sebagai anggota ke-11 Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), harus terus mempromosikan prinsip perdamaian, dialog, dan kerja sama dalam hubungan regional maupun internasional.
“Sebagai anggota baru ASEAN, kita selalu berbicara tentang perdamaian, dialog, dan kerja sama,” ujarnya.
Xanana menilai bahwa negara-negara kecil dan negara berkembang juga memiliki peran penting dalam berkontribusi terhadap pembangunan dunia yang lebih damai.
Ia menegaskan bahwa melalui kegiatan sederhana yang melibatkan masyarakat, kedua negara dapat menunjukkan bahwa kerja sama dan saling pengertian tidak hanya bergantung pada kesepakatan politik antarpemerintah.
“Melalui kegiatan kecil seperti ini, kita dapat menyampaikan pesan kepada dunia bahwa kita harus hidup berdampingan, saling memahami, saling berkoordinasi, dan berdialog, sehingga kerja sama antarkomunitas dapat membuat generasi muda merasakan bahwa kita sebagai generasi yang lebih tua benar-benar memberikan perhatian terhadap kehidupan mereka,” katanya.
Kepala Pemerintahan itu juga menilai bahwa pengalaman hubungan antara Timor-Leste dan Indonesia dapat memberikan kontribusi terhadap upaya mempromosikan perdamaian dan kerja sama di kawasan ASEAN maupun dunia.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

