Program Sander Thoenes angkatan kedua buka kesempatan bagi tiga Jurnalis Timor-Leste

DILI, 08 Oktober 2026 (TATOLI) – Pemerintah Kerajaan Belanda kembali membuka kesempatan bagi tiga jurnalis Timor-Leste untuk mengikuti pelatihan jurnalistik internasional selama sepuluh (10) hari di Belanda pada April 2027 melalui Sander Thoenes Programme for Journalists angkatan kedua, yang bertujuan memperkuat kapasitas profesional, independensi media, dan keterampilan jurnalistik dalam menghadapi tantangan era digital.
Program yang memasuki tahun kedua tersebut merupakan inisiatif Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), bekerja sama dengan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Indonesia dan RNW Media. Sebanyak delapan jurnalis akan dipilih untuk mengikuti pelatihan, terdiri atas lima peserta dari Indonesia dan tiga dari Timor-Leste.
Duta Besar Belanda untuk Indonesia dan Timor-Leste, Marc Gerritsen, mengatakan program tersebut memberikan kesempatan bagi jurnalis Timor-Leste untuk meningkatkan keterampilan profesional sekaligus membangun jaringan dengan para jurnalis dari Belanda dan Indonesia.
“Melalui program ini, para jurnalis akan berinteraksi dengan jurnalis dari Belanda dan Indonesia, serta belajar menghadapi tantangan baru seperti berita palsu dan kecerdasan buatan (AI). Mereka juga akan mempelajari bagaimana menghasilkan berita yang baik, baik dalam bentuk tulisan, video maupun untuk platform daring,” kata Dubes Marc Gerritsen pada pembukaan di Palm Spring Hotel, Kamis ini.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan perubahan lanskap media telah menghadirkan berbagai tantangan baru bagi dunia jurnalistik, terutama dalam memastikan keakuratan informasi dan mempertahankan kepercayaan publik.
Oleh karena itu, pelatihan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga bertujuan membentuk jurnalis yang memiliki kemampuan berpikir kritis, independen, dan bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya.

Program Sander Thoenes angkatan kedua dengan membuka kesempatan bagi tiga Jurnalis Timor-Leste. Foto TATOLI/Cidalia Fatima
“Kami berharap melalui program ini dapat membantu dan mendorong para jurnalis menjadi independen. Seorang jurnalis dapat bekerja untuk organisasi media, tetapi independensi juga berarti memiliki kemampuan berpikir kritis dan selalu mengajukan pertanyaan, apakah informasi ini benar, apa yang sebenarnya terjadi, dan apakah ini merupakan kebenaran,” jelasnya.
Dubes Marc menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu prinsip penting dalam profesi jurnalistik karena memungkinkan wartawan melakukan verifikasi, mempertanyakan informasi, serta mengungkap fakta secara objektif.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh peserta dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap perkembangan karier jurnalis, kualitas pemberitaan, dan penguatan peran media dalam masyarakat Timor-Leste.
“Media sangat penting bagi masyarakat yang berfungsi dengan baik. Kita membutuhkan kebenaran, keterbukaan, transparansi, dan jurnalis yang mampu mengungkap fakta. Itulah dampak jangka panjang yang ingin kami capai,” tegasnya.
Selain meningkatkan kapasitas profesional, program tersebut juga diharapkan dapat memperluas jaringan kerja sama antarjurnalis dari Timor-Leste, Indonesia, kawasan Asia Tenggara, dan Belanda.
Menurut Dubes Marc, jaringan tersebut dapat menjadi wadah pertukaran pengalaman, berbagi pengetahuan, serta membuka peluang kolaborasi dan pengembangan karier bagi para peserta setelah menyelesaikan pelatihan.
Sementara itu, jurnalis Timor-Leste dari media daring berbahasa Portugis, Diligente, Antónia Martins, yang merupakan salah satu peserta angkatan pertama, mengaku memperoleh pengalaman berharga selama mengikuti pelatihan di Belanda pada Februari 2026.
Antónia mengatakan program tersebut memberikan kesempatan untuk mempelajari berbagai pendekatan baru dalam jurnalistik, termasuk teknik investigasi dan penggunaan kecerdasan buatan dalam pekerjaan media.
“Saya merasa sangat beruntung karena terpilih menjadi bagian dari program ini untuk pertama kalinya dan mendapatkan kesempatan mengunjungi Belanda pada Februari lalu. Kami belajar banyak hal, termasuk jurnalistik investigasi, AI, dan berbagai materi lainnya,” ungkap Antónia dalam acara peluncuran program angkatan kedua.
Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu pengalaman paling berkesan selama berada di Belanda adalah kesempatan bertemu langsung dengan keluarga mendiang Sander Thoenes, jurnalis Belanda yang namanya diabadikan dalam program tersebut.
Sebagai informasi, pada 02 hingga 10 Februari 2026, sebanyak empat jurnalis dari Indonesia dan Timor-Leste mengikuti program pelatihan angkatan pertama di Belanda.
Pelatihan tersebut mencakup berbagai materi, seperti penanggulangan disinformasi, pemanfaatan AI dalam jurnalistik, penguatan kemampuan berpikir kritis, keterampilan peliputan, serta strategi meningkatkan keterlibatan audiens.

Sander Thoenes Programme for Journalists diselenggarakan untuk mengenang kehidupan dan warisan Sander Thoenes, seorang jurnalis asal Belanda yang terbunuh ketika meliput konflik di Timor-Leste pada 1999.
Program tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap dedikasinya dalam memperjuangkan kebebasan pers, keberanian mencari kebenaran, dan pentingnya praktik jurnalistik yang beretika serta bertanggung jawab.
Melalui program ini, penyelenggara berupaya mendukung jurnalis dari Indonesia dan Timor-Leste yang memiliki komitmen terhadap pemberitaan independen, berani, dan berdampak bagi masyarakat.
Pelatihan selama 10 hari di Belanda pada pertengahan April 2027 dirancang untuk meningkatkan keterampilan peliputan, memperdalam pemahaman peserta mengenai praktik media internasional, serta memperkuat kolaborasi jurnalistik lintas negara.
Pendaftaran program angkatan kedua dibuka mulai 08 Oktober hingga 20 November 2026, dengan batas akhir pengiriman aplikasi pada pukul 22.00 Waktu Indonesia Barat (WIB), atau pukul 00.00 waktu Timor-Leste pada 21 November 2026.
Program tersebut terbuka bagi warga negara Timor-Leste dan Indonesia yang memiliki pengalaman jurnalistik minimal dua tahun, baik di media cetak, daring, televisi maupun radio, serta menguasai bahasa Inggris secara lisan dan tulisan.
Penyelenggara tidak menetapkan batasan usia bagi calon peserta selama memenuhi persyaratan pengalaman profesional yang ditentukan.
Pelamar diwajibkan menyerahkan Curriculum Vitae (CV) dalam format PDF yang memuat posisi pekerjaan saat ini, afiliasi media, serta ringkasan pengalaman jurnalistik.
Selain itu, pelamar harus mengirimkan video berbahasa Inggris berdurasi maksimal empat menit dalam format MP4 atau MOV, yang menampilkan contoh karya jurnalistik relevan dan menjelaskan motivasi serta pengetahuan yang ingin diperoleh melalui program tersebut.
Dokumen lainnya meliputi salinan kartu identitas nasional, contoh karya jurnalistik yang telah dipublikasikan, baik berupa artikel maupun laporan video, serta konfirmasi kesediaan mengikuti pelatihan selama 10 hari di Belanda.
Seluruh biaya perjalanan udara, akomodasi, dan uang harian bagi delapan peserta terpilih akan ditanggung oleh Kementerian Luar Negeri Belanda.
Berdasarkan jadwal penyelenggara, proses seleksi administrasi dan penyusunan daftar pendek calon peserta akan berlangsung pada 23 November hingga 6 Desember 2026, sedangkan seleksi akhir dijadwalkan pada 07 hingga 13 Desember 2026.
Pengumuman peserta terpilih akan dilakukan pada 14 hingga 20 Desember 2026 melalui saluran komunikasi resmi FPCI dan Kedutaan Besar Belanda.
Jurnalis Timor-Leste yang berminat dapat mendaftarkan diri melalui laman resmi Sander Thoenes 2026, sedangkan informasi lebih lanjut dapat diperoleh dengan menghubungi sekretariat FPCI melalui alamat surel cindy@fpcindonesia.org.
Pelatihan angkatan kedua dijadwalkan berlangsung pada pertengahan April 2027, dengan tanggal pelaksanaan yang masih dapat berubah sesuai ketentuan penyelenggara.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

