Top

Kemampuan Bahasa Inggris masih jadi tantangan pelajar TL akses beasiswa internasional

Direktur Eksekutif Dana Pengembangan Sumber Daya Manusia (FDCH), Júlio Aparício. Foto TATOLI

DILI, 05 Oktober 2026 (TATOLI) – Direktur Eksekutif Dana Pengembangan Sumber Daya Manusia (FDCH), Júlio Aparício, mengatakan kemampuan bahasa Inggris masih menjadi salah satu tantangan utama bagi pelajar Timor-Leste, khususnya mereka yang berasal dari kotamadya, dalam mengakses program beasiswa internasional.

Júlio Aparício menyampaikan hal tersebut dalam wawancara program BAINAKA KREDÍVEL TATOLI dengan tema “Antara Mimpi dan Realitas Investasi Sumber Daya Manusia” di Studio TATOLI, Farol, Dili, Senin ini.

Menurutnya, pengalaman FDCH selama ini menunjukkan banyak calon penerima beasiswa mengalami kesulitan ketika mengikuti seleksi bahasa Inggris untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.

“Penerima beasiswa yang datang dari kotamadya selalu mengalami kesulitan dalam tes bahasa Inggris. Mereka yang lulus IELTS kebanyakan memperoleh 5.0 untuk sarjana dan untuk master 6.0,” kata Júlio Aparício.

Ia menilai kondisi tersebut tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama untuk memperbaiki kualitas sistem pendidikan Timor-Leste mulai dari tingkat dasar.

“Berdasarkan pengalaman ini, kita tidak bisa menyalahkan satu orang, tetapi ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk memperbaiki sistem pendidikan dari dasar. Semua pihak harus bekerja sama untuk memperbaiki pendidikan,” ujarnya.

Júlio menjelaskan, FDCH terus berupaya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengakses beasiswa melalui proses seleksi yang ketat guna menjamin kualitas penerima beasiswa.

Untuk sejumlah program di Indonesia dan Malaysia, misalnya, pihak dari negara atau institusi tujuan datang langsung untuk melakukan proses seleksi terhadap calon penerima beasiswa.

Ia mengatakan, pelajar Timor-Leste pada dasarnya memiliki kemampuan intelektual yang baik. Hal tersebut terlihat dari prestasi sejumlah penerima beasiswa yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.

Menurutnya, pada 2024 dan 2025, banyak penerima beasiswa Timor-Leste memperoleh penilaian A dan B. Bahkan, mahasiswa yang belajar melalui program di PETRONAS, Malaysia, mampu menunjukkan kualitas sebagai mahasiswa internasional.

“Orang Timor-Leste pintar dan memiliki IQ yang mampu, tetapi kondisi ekonomi dan pendidikan kita yang masih belum baik,” katanya.

Júlio juga menyoroti keterbatasan sumber daya manusia pada bidang-bidang tertentu, khususnya Matematika, Kimia dan Fisika.

Ia mencontohkan seleksi program doktoral ke Brasil yang baru-baru ini dibuka FDCH. Dari peserta yang mengikuti seleksi, hanya dua orang yang berhasil lolos dan keduanya sebelumnya telah menyelesaikan pendidikan magister di Brasil.

“Ini merupakan masalah besar,” katanya.

 FDCH siapkan kuota untuk kotamadya

Untuk memperluas kesempatan bagi pelajar dari berbagai wilayah, FDCH berencana menerapkan sistem kuota bagi setiap kotamadya mulai 2027.

Júlio menjelaskan, calon penerima beasiswa dari kotamadya kerap mengalami kesulitan pada tahap awal seleksi. Namun, kemampuan mereka dapat meningkat setelah memperoleh kesempatan belajar di perguruan tinggi atau mengikuti pelatihan tambahan.

“Dalam proses seleksi kami selalu melihat kotamadya. Ketika mereka mengikuti tes memang mengalami kesulitan, tetapi setelah mereka belajar di universitas lain dan mengikuti kursus, ketika kembali mengikuti tes mereka bisa lulus,” jelasnya.

Meski demikian, penerapan kuota tidak menghilangkan persyaratan akademik maupun bahasa yang ditetapkan universitas dan negara tujuan.

Menurut Júlio, keberhasilan pelajar dalam memperoleh beasiswa internasional membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga pendidik, orang tua hingga pelajar itu sendiri.

“Guru harus bekerja keras, orang tua harus bekerja keras dan mahasiswa juga harus belajar keras. Tidak bisa hanya meminta FDCH. Otoritas juga harus bekerja. Kita tidak boleh saling menyalahkan karena pendidikan sangat penting,” tegasnya.

 7.734 penerima beasiswa telah lulus

Júlio mengungkapkan, sejak 2011 hingga September 2026, sebanyak 7.734 penerima beasiswa telah menyelesaikan pendidikan melalui program yang dikelola FDCH dan kini bekerja di berbagai institusi, termasuk kementerian.

Sementara itu, sebanyak 3.345 penerima beasiswa masih aktif melalui berbagai skema, termasuk beasiswa parsial dan beasiswa berdasarkan prestasi, yang tersebar di 23 negara.

Jumlah tersebut belum termasuk calon penerima beasiswa yang masih menjalani proses rekrutmen sehingga jumlah penerima aktif diperkirakan masih dapat bertambah hingga Desember 2026.

FDCH juga memberikan kesempatan beasiswa kepada penyandang disabilitas sebagai bagian dari upaya memperluas akses terhadap pengembangan sumber daya manusia.

Júlio menegaskan, investasi dalam sumber daya manusia tidak cukup hanya dengan menyediakan beasiswa ke luar negeri. Timor-Leste juga perlu memperkuat kualitas pendidikan dalam negeri agar pelajar memiliki kemampuan akademik dan bahasa yang memadai untuk bersaing mendapatkan kesempatan pendidikan di tingkat internasional. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!