Top

Dijuluki Pulau Piano, Gulangyu simpan jejak pertemuan China dengan dunia

Delegasi jurnalis negara-negara ASEAN menyaksikan seorang pianis memainkan lagu saat mengunjungi Gulangyu, sebuah pulau kecil atau dijuluki Pulau Piano di lepas pantai Xiamen, Provinsi Fujian, China. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

XIAMEN, 23 September 2026 (TATOLI) – Alunan piano menyambut delegasi jurnalis negara-negara ASEAN saat mengunjungi Gulangyu, sebuah pulau kecil di lepas pantai Xiamen, Provinsi Fujian, China, Senin (21/09) sore. Di balik julukannya sebagai “Pulau Piano”, pulau tersebut menyimpan jejak panjang pertemuan budaya China, Asia Tenggara dan Barat yang masih dapat ditelusuri melalui musik hingga ratusan bangunan bersejarahnya.

Delegasi tiba di Xiamen sekitar pukul 16.00 waktu setempat setelah menempuh perjalanan darat sekitar satu jam 30 menit dari Quanzhou dalam rangkaian ASEAN Media Workshop di Provinsi Fujian.

Setibanya di Xiamen, rombongan langsung menuju terminal feri yang melayani wisatawan untuk menyeberang ke Gulangyu. Sebelum memasuki area keberangkatan, wisatawan asing diminta menunjukkan paspor untuk proses registrasi, sementara warga lokal menggunakan kartu identitas.

Dari kawasan pelabuhan, perbedaan antara Gulangyu dan pusat Kota Xiamen sudah terlihat jelas.

Di satu sisi, lanskap Xiamen dipenuhi deretan gedung bertingkat dengan arsitektur modern. Sementara di seberangnya, Gulangyu menampilkan pemandangan berbeda dengan kawasan hijau serta bangunan-bangunan lama tanpa dominasi gedung pencakar langit.


Koleksi museum memperlihatkan beragam bentuk dan perkembangan piano dari berbagai negara. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Perjalanan dengan kapal feri berlangsung kurang dari 10 menit sebelum delegasi tiba di pulau yang dalam dokumen UNESCO dikenal dengan nama historis Kulangsu.

Tidak lama setelah tiba, pemandu memperkenalkan sejarah pulau sebelum membawa para jurnalis menuju sebuah ruang pertunjukan musik.

Di sana, delegasi menyaksikan seorang pianis memainkan tiga lagu. Salah satu melodi yang dikenal dari film Harry Potter langsung menarik perhatian peserta dan mendapat tepuk tangan.

Pertunjukan tersebut menjadi pengantar untuk mengenal salah satu identitas paling terkenal Gulangyu sebagai “Piano Island” atau Pulau Piano.

Tradisi piano di Gulangyu berkembang seiring semakin kuatnya hubungan pulau tersebut dengan dunia luar sejak abad ke-19. Musik Barat masuk melalui komunitas internasional, sekolah, gereja dan keluarga sebelum berkembang menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat setempat.

Setelah menikmati pertunjukan, delegasi melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dan menaiki tangga menuju kawasan yang dipenuhi bangunan bersejarah.

Museum Piano di Gulangyu, sebuah pulau kecil atau dijuluki Pulau Piano di lepas pantai Xiamen, Provinsi Fujian, China. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Kolom, balkon, lengkungan, jendela hingga bentuk vila pada sejumlah bangunan memberikan kesan arsitektur Eropa. Namun, bangunan-bangunan bersejarah Gulangyu tidak seluruhnya dibangun oleh orang Eropa.

Perkembangan pulau melibatkan masyarakat lokal China, warga asing, misionaris, pejabat konsuler serta orang China perantauan yang kembali dari berbagai wilayah di luar negeri. Pertemuan komunitas tersebut secara bertahap membentuk karakter arsitektur Gulangyu.

Sejarah perubahan pulau itu berkaitan erat dengan dibukanya Xiamen sebagai pelabuhan perdagangan pada 1843. Gulangyu kemudian berkembang menjadi sebuah international settlement pada 1903, menjadikannya salah satu tempat berlangsungnya pertukaran antara China dan dunia luar.

Kehadiran komunitas internasional membawa berbagai pengaruh arsitektur dan kehidupan perkotaan. Pada saat bersamaan, masyarakat Fujian dan orang China perantauan yang kembali dari luar negeri, termasuk mereka yang memiliki hubungan dengan Asia Tenggara, turut membangun rumah dan vila dengan membawa pengalaman budaya dan arsitektur dari tempat mereka sebelumnya tinggal.

Karena itu, lanskap Gulangyu tidak hanya menunjukkan arsitektur Barat, melainkan percampuran berbagai tradisi.

UNESCO mencatat terdapat 931 bangunan bersejarah yang menjadi bagian penting dari lanskap warisan Kulangsu. Bangunan tersebut memperlihatkan berbagai gaya, mulai dari arsitektur tradisional Fujian selatan, Western Classical Revival, Veranda Colonial, Modernisme hingga Art Deco.

Seorang pianis memainkan lagu. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Pertemuan berbagai pengaruh itu kemudian turut melahirkan gaya khas yang dikenal sebagai Amoy Deco.

“Amoy” merupakan nama historis Xiamen yang berasal dari bahasa lokal Hokkien. Amoy Deco menggabungkan tradisi bangunan Fujian selatan dengan pengaruh internasional, khususnya Modernisme dan Art Deco, serta pengalaman budaya masyarakat Fujian yang bermigrasi dan kemudian kembali dari luar negeri.

Nilai pertukaran budaya tersebut menjadi salah satu alasan “Kulangsu, a Historic International Settlement” dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO pada 2017.

UNESCO menilai pulau tersebut sebagai contoh penting pertemuan dan pertukaran nilai budaya serta arsitektur antara China, Asia Tenggara dan Barat yang berkembang terutama sejak pertengahan abad ke-19.

Upaya menjaga warisan Gulangyu juga memiliki hubungan dengan Presiden China Xi Jinping, jauh sebelum ia menjadi kepala negara.

Ketika bertugas sebagai Wakil Wali Kota Xiamen pada 1980-an, Xi terlibat dalam penyusunan strategi pembangunan ekonomi dan sosial Xiamen periode 1985–2000. Dalam perencanaan tersebut, perlindungan nilai sejarah, budaya dan lingkungan Gulangyu mendapatkan perhatian.

Salah satu contoh terjadi pada 1986 ketika Bagua Mansion atau Bagualou, salah satu bangunan bersejarah di Gulangyu, membutuhkan renovasi. Catatan pemerintah China menyebut Xi mendukung alokasi dana khusus sebesar 300.000 yuan untuk renovasi bangunan tersebut.

Bangunan berkubah merah yang dibangun pada awal abad ke-20 itu kemudian dilestarikan dan kini menjadi salah satu bangunan penting yang berkaitan dengan warisan musik Gulangyu.

Bangunan-bangunan di Gulangyu. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Peran Xi dalam sejarah modern Gulangyu dengan demikian berkaitan dengan upaya perencanaan dan pelestarian kawasan, sementara sebagian besar bangunan historis dengan pengaruh arsitektur internasional telah berdiri jauh sebelumnya.

Perjalanan delegasi kemudian berlanjut menuju Museum Piano, tempat berbagai piano bersejarah dari masa ke masa tersimpan.

Koleksi museum memperlihatkan beragam bentuk dan perkembangan piano dari berbagai negara dan periode, termasuk instrumen yang berasal dari Eropa, Amerika Serikat dan Australia.

Sebagian koleksi penting museum berkaitan dengan Hu Youyi, kolektor kelahiran Gulangyu yang kemudian tinggal di Australia dan membawa koleksi piano bersejarah untuk dipamerkan di kampung halamannya.

Koleksi tersebut bersama tradisi pendidikan dan pertunjukan musik yang telah berkembang selama bertahun-tahun semakin memperkuat identitas Gulangyu sebagai Pulau Piano.

Menjelang pukul 18.00, setelah menyelesaikan kunjungan yang membawa rombongan dari pertunjukan musik hingga bangunan dan koleksi bersejarah, delegasi kembali menuju dermaga dan menaiki kapal feri untuk kembali ke pusat Kota Xiamen.

Rombongan kemudian menuju XiamenAir Hotels untuk beristirahat sebelum melanjutkan agenda di Xiamen pada hari berikutnya, yang menjadi hari terakhir rangkaian ASEAN Media Workshop di Provinsi Fujian.

Setelah menyelesaikan agenda tersebut, delegasi dijadwalkan meninggalkan Fujian dan melanjutkan perjalanan menuju Beijing pada malam hari. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor   : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!