Presiden Republik soroti ODA internasional dalam pidatonya di Sidang Umum PBB

DILI, 24 September 2026 (TATOLI) – Presiden Republik sekaligus penerima Penghargaan Nobel Perdamaian, Jose Ramos-Horta, menyoroti dukungan Bantuan Pembangunan Resmi (ODA –Official Development Assistance) internasional saat menyampaikan pidato dalam side event tingkat tinggi Sidang Majelis Umum PBB ke-81.
Presiden Republik dalam pidatonya dalam side event tingkat tinggi Sidang Majelis Umum PBB yang bertema “Melampaui Tahun 2030: Memperbarui Komitmen untuk Mengakhiri Kemiskinan dalam Segala Dimensinya,” itu diselenggarakan di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Rabu (23/09).
Melansir Laman Kepresidenan Republik, disebutkan bahwa, acara tersebut bertujuan untuk mendorong refleksi mengenai perlunya memperbarui dan memperkuat komitmen internasional dalam mengentaskan kemiskinan melampaui tahun 2030, dengan menempatkan kemiskinan multidimensi sebagai inti dari prioritas pembangunan masa depan.
Dalam acara ini diselenggarakan bersama oleh Kerajaan Bhutan, Komisi Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Asia dan Pasifik (ESCAP), serta Multidimensional Poverty Peer Network (MPPN), yang Sekretariatnya berbasis di Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI) di Universitas Oxford.
Sesi ini dimoderatori oleh Sabina Alkire dari Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI) dan Adriana Conconi, Direktur Multidimensional Poverty Peer Network (MPPN).
Dalam sambutannya, Presiden Ramos-Horta memaparkan perkembangan Timor-Leste sejak restorasi kemerdekaan pada tahun Mei 2002, serta menyoroti kemajuan signifikan yang telah dicapai selama dua dekade terakhir.
Presiden menyatakan pada tengah malam tanggal 20 Mei 2002, bendera PBB diturunkan dan bendera Timor-Leste dikibarkan. “Kami mewarisi dampak dari 24 tahun kekerasan dan kemiskinan ekstrem, saat itu hanya 19 dokter, satu universitas dengan 3.000 mahasiswa, serta angka harapan hidup di bawah 60 tahun. Dua puluh lima tahun kemudian, kami memiliki 1.400 dokter, angka harapan hidup sekitar 70 tahun, 18 universitas, 210 penyandang gelar doktor (PhD), cakupan listrik 100%, serta keanggotaan ASEAN,” kata Kepala Negara.
”Saat ini, tidak ada kekerasan politik maupun ketegangan etnis atau agama. Namun, kemiskinan ekstrem masih terjadi, termasuk masalah gizi buruk pada anak. Kami menginvestasikan ratusan juta dana milik sendiri bukan dari donor, melainkan melalui dana perminyakan negara, untuk sektor pendidikan, kesehatan, kelistrikan, dan konektivitas,” jelasnya.
Dikatakan, dampak dari Bantuan Pembangunan Resmi (ODA –Official Development Assistance) internasional sangatlah terbatas. Pihak donor mengklaim bahwa dana sebesar 10 miliar dolar telah dialokasikan untuk Timor-Leste setelah tahun 1999.
“Namun, Anda menghabiskannya untuk Timor-Leste, bukan di Timor-Leste. Itulah kegagalan ODA. Kemudian, negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), menyalahkan pihak penerima, kebijakan yang keliru, prioritas yang salah. Tidak. Anda justru menghabiskan terlalu banyak dana untuk tenaga ahli Anda sendiri, untuk berbagai studi yang tak henti-hentinya, bahkan untuk sistem PBB,” tegas Presiden Republik dalam pidatonya.
Presiden Ramos-Horta menutup pidatonya dengan menegaskan kembali bahwa perjuangan melawan kemiskinan terus berlanjut, sembari mengakui kontribusi Muhammad Yunus bagi Timor-Leste melalui pembentukan program kredit mikro pertama di negara tersebut pada tahun 2003–2004, yang mengawali pendekatan berbasis masyarakat dalam mengatasi tantangan kemiskinan.
Sementara itu, acara tersebut mempertemukan para kepala negara dan pemerintahan, pejabat tinggi pemerintah, pimpinan organisasi internasional, serta mitra pembangunan, sekaligus menyediakan wadah untuk berbagi pengalaman nasional dan mendiskusikan pendekatan multidimensi dalam memerangi kemiskinan, mengatasi akar penyebabnya, dan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.
Para pembicara utama dalam acara itu meliputi :
— Tshering Tobgay, Perdana Menteri Bhutan
— Armida Salsiah Alisjahbana, Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (UNESCAP)
— José Ramos-Horta, Peraih Nobel Perdamaian dan Presiden Republik Demokratik Timor-Leste
— Juan Manuel Santos, Mantan Presiden Kolombia, pendiri MPPN, dan Ketua The Elders
— Shisir Khanal, Menteri Luar Negeri Nepal
— Carlos Antonio Mendoza Alvarado, Sekretaris Perencanaan dan Pemrograman Kepresidenan, Guatemala
— Kitila Alexander Mkumbo, Menteri Negara Urusan Perencanaan dan Investasi, Tanzania
— Denny Abdi, Wakil Menteri Luar Negeri untuk Urusan Multilateral, Indonesia
— Sergio Colina Martín, Direktur Jenderal Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan, Kementerian Luar Negeri, Spanyol
— Cataleya Phatoomros, Wakil Direktur Jenderal Departemen Organisasi Internasional, Thailand
— Ziggy Adam, Direktur Departemen Pengentasan Kemiskinan, Seychelles
Tim TATOLI

