Teknologi AI tingkatkan efisiensi pelabuhan Qinzhou hingga 30 Persen

QINZHOU, 16 September 2026 (TATOLI) – Delegasi media dari negara-negara ASEAN memasuki hari kedua kunjungan di Daerah Otonom Guangxi Zhuang, China, dengan melihat langsung pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pengoperasian Pelabuhan Qinzhou, salah satu simpul penting jalur perdagangan yang menghubungkan wilayah barat China dengan negara-negara ASEAN.
Kunjungan hari kedua berlangsung di Kota Qinzhou dan dimulai dari Beibu Gulf Smart Port Innovation Center, sebelum delegasi melanjutkan agenda ke Guangxi CNGR New Energy Technology, China-Malaysia Qinzhou Industrial Park, dan Madao Water Control Project of Pinglu Canal.
Dalam kunjungan ke kawasan pelabuhan, para jurnalis mendapatkan penjelasan mengenai transformasi fasilitas terminal, penerapan otomatisasi dan AI untuk mempercepat proses bongkar muat serta pergerakan kontainer.

Delegasi media dari negara-negara ASEAN melanjutkan kunjungan ke China-Malaysia Qinzhou Industrial Park. Foto TATOLI/Cidalia Fatima
General Manager Nanning Branch, Shanghai New Haifeng Container Transportation Co., Ltd., Li Chaofei, mengatakan penerapan AI telah memberikan dampak langsung terhadap efisiensi pengoperasian kapal dan terminal.
“Kami telah menerapkan kecerdasan buatan dalam operasi, termasuk proses bongkar muat dan pemindahan kontainer dari lapangan penumpukan ke truk kontainer,” kata Li Chaofei kepada delegasi media ASEAN.
Menurutnya, penerapan teknologi tersebut mampu meningkatkan efisiensi operasional sekitar 20 hingga 30 persen, sekaligus mempersingkat waktu kapal berada di terminal.
Selain peningkatan efisiensi, penggunaan teknologi dan perbaikan sistem operasi juga berkontribusi terhadap penurunan total biaya sandar dan operasional sekitar 20 persen.
Hubungkan China dengan ASEAN
Pelabuhan Qinzhou memiliki peran penting dalam New International Land-Sea Trade Corridor, yang menghubungkan kawasan pedalaman China bagian barat dengan jaringan perdagangan internasional melalui kombinasi transportasi kereta api dan laut.
Li menjelaskan jaringan pelayaran yang dilayani perusahaan mencakup sejumlah negara ASEAN, termasuk Vietnam, Thailand, Kamboja, Malaysia, Indonesia, Filipina dan Brunei Darussalam.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah layanan dari Pelabuhan Qinzhou menuju Pelabuhan Sihanoukville di Kamboja yang dapat ditempuh sekitar lima hari. Menurut Li, waktu tersebut berkurang lebih dari 50 persen dibandingkan pola pengiriman tradisional melalui Provinsi Guangdong, sekaligus menekan biaya pengiriman.

Jaringan perusahaan juga melayani sejumlah pelabuhan di Filipina, termasuk Manila, Subic, Iloilo dan Davao.
Sementara itu, Ling Guohua, Operations Department Manager Guangxi Beibu Gulf International Container Terminal Co., Ltd., mengatakan pengembangan pelabuhan tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga peningkatan fasilitas dan penyederhanaan prosedur agar kapal dapat masuk, melakukan kegiatan bongkar muat dan meninggalkan terminal dengan lebih cepat.
“Untuk Beibu Gulf Port, kami melakukan upaya untuk meningkatkan fasilitas perangkat keras sekaligus mempermudah prosedur, sehingga kapal yang datang ke terminal dapat masuk dengan cepat dan juga berangkat dengan cepat,” jelasnya.
Ia menjelaskan terminal memiliki fasilitas dermaga laut dalam untuk kapal berkapasitas 100.000 ton dengan kedalaman sekitar 15,1 meter dan kapasitas penanganan tahunan mencapai sekitar 700.000 TEU kontainer.
Menurut Ling, pengembangan fasilitas juga diarahkan untuk mendukung kapal yang beroperasi di jalur sungai maupun laut sebagai bagian dari sistem transportasi multimoda sungai-laut. Komoditas yang ditangani antara lain produk industri ringan, suku cadang kendaraan dan mineral.
Terminal otomatis
Materi yang diberikan kepada delegasi menjelaskan Qinzhou Automated Container Terminal of Beibu Gulf Port sebagai salah satu proyek unggulan Guangxi dalam pembangunan New International Land-Sea Trade Corridor.

Terminal tersebut memiliki garis pantai sepanjang sekitar 1.302 meter, dengan dua tempat sandar kontainer otomatis yang masing-masing mampu melayani kapal berkapasitas 100.000 dan 200.000 ton. Total kapasitas terminal mencapai sekitar 2,6 juta TEU.
Pengoperasiannya mengintegrasikan AI, big data, sistem penanganan otomatis dan teknologi transportasi horizontal untuk meningkatkan otomatisasi dan efisiensi operasional pelabuhan.
Dari pelabuhan menuju industri energi baru
Setelah melihat pengembangan pelabuhan pintar, delegasi media ASEAN melanjutkan perjalanan ke Guangxi CNGR New Energy Technology Co., Ltd., yang berada di China-Malaysia Qinzhou Industrial Park.
Perusahaan tersebut didirikan pada Februari 2021 dan merupakan anak perusahaan CNGR Advanced Material Co., Ltd., produsen material energi baru.
Kunjungan kemudian berlanjut ke China-Malaysia Qinzhou Industrial Park (CMQIP), sebuah kawasan kerja sama industri antara China dan Malaysia.
CMQIP dibentuk pada Maret 2012 dengan persetujuan Dewan Negara China dan dikembangkan bersama Malaysia-China Kuantan Industrial Park melalui konsep “Two Countries, Twin Parks”, yakni pembangunan kawasan industri di kedua negara sebagai bentuk kerja sama ekonomi lintas negara.

Delegasi media dari negara-negara ASEAN melanjutkan kunjungan ke Guangxi CNGR New Energy Technology Co. Ltd. Foto TATOLI/Cidalia Fatima
Pengembangan kawasan tersebut diarahkan antara lain untuk membangun pelabuhan gerbang internasional bagi New Western Land-Sea Corridor, klaster ekonomi maritim dan zona demonstrasi kerja sama China–ASEAN.
Setelah beristirahat untuk makan siang, delegasi dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Madao Water Control Project of Pinglu Canal, sebagai agenda terakhir kunjungan lapangan di Qinzhou pada hari kedua.
Rangkaian kunjungan hari kedua memberikan kesempatan kepada para jurnalis ASEAN untuk melihat dari dekat bagaimana Guangxi menggabungkan teknologi pelabuhan, jaringan logistik, industri energi baru dan kerja sama kawasan untuk memperkuat konektivitas perdagangan antara China dan Asia Tenggara.
Setelah menyelesaikan kegiatan di Qinzhou, delegasi akan kembali ke Nanning untuk melanjutkan rangkaian program di Guangxi.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

