Top

“Kapal di Atas Gunung”, Pinglu canal pangkas jarak pelayaran hingga 560 kilometer

Madao Water Control Project. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

QINZHOU, 17 September 2026 (TATOLI) – Pemandangan kapal-kapal besar bermuatan kontainer yang melintas di antara kawasan pegunungan menjadi salah satu hal yang paling menarik perhatian delegasi media ASEAN saat mengunjungi Madao Water Control Project, bagian dari megaproyek Pinglu Canal di Guangxi, China.

Kunjungan tersebut menjadi agenda terakhir delegasi media ASEAN di Kota Qinzhou pada hari kedua rangkaian kegiatan di Guangxi. Rombongan menempuh perjalanan hampir tiga jam dari China-Malaysia Qinzhou Industrial Park untuk mencapai Madao Water Control Project.

Sepanjang perjalanan menuju kawasan proyek, delegasi melewati jalan tol yang dikelilingi perbukitan hijau dan pepohonan. Deretan turbin angin pembangkit listrik yang berdiri di kawasan pegunungan turut menarik perhatian para jurnalis.

Namun, pemandangan yang lebih mengejutkan terlihat setelah rombongan tiba di Madao. Di tengah bentang pegunungan, kapal-kapal besar yang membawa kontainer terlihat melintasi jalur air yang telah dikembangkan untuk menjadi bagian dari Pinglu Canal.

Madao Water Control Project. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Pemandangan tersebut memberikan kesan seolah-olah terdapat “kapal di atas gunung”. Di balik pemandangan itu terdapat proyek rekayasa yang dirancang untuk mengatasi kondisi geografis Guangxi sekaligus membuka jalur transportasi air yang lebih langsung menuju laut.

Menurut penjelasan yang diberikan kepada delegasi, Pinglu Canal memiliki panjang 134,2 kilometer dan dibangun dengan standar jalur perairan pedalaman kelas satu yang dapat dilalui kapal kelas 5.000 ton. Kanal bermula dari Pingtang Estuary di Xijin Reservoir, Hengzhou, kemudian melewati Luwu di Lingshan menuju Sungai Qingjiang dan akhirnya mencapai laut. 

Pangkas pelayaran 560 kilometer

Salah satu manfaat utama proyek tersebut adalah memperpendek akses pelayaran dari kawasan pedalaman Guangxi menuju laut.

Berdasarkan penjelasan di lokasi, dibandingkan moda transportasi tradisional, jalur baru melalui Pinglu Canal dapat memangkas jarak pelayaran sekitar 560 kilometer dan diproyeksikan menghemat biaya sekitar 5,2 miliar yuan per tahun.

Madao Water Control Project. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Pinglu Canal juga menjadi proyek tulang punggung dan simpul utama New Western Land-Sea Trade Corridor, dengan menghubungkan jaringan perairan Xijiang, jaringan kereta api China barat daya dan sistem pelabuhan Teluk Beibu. Integrasi tersebut membentuk jaringan transportasi yang menghubungkan sungai, kereta api dan laut.

Jaringan New Western Land-Sea Trade Corridor sendiri, menurut penjelasan kepada delegasi, telah menjangkau 166 stasiun di 76 kota pada 18 wilayah tingkat provinsi China dan dapat terhubung dengan sekitar 500 pelabuhan di 128 negara dan wilayah. 

“Tangga air” untuk kapal

Membangun jalur tersebut bukan pekerjaan sederhana. Salah satu tantangan terbesar adalah kondisi geografis antara Sungai Xijiang dan Sungai Qingjiang serta perbedaan ketinggian permukaan air.

Sepanjang Pinglu Canal dibangun tiga pusat pengendalian utama, yakni Madao Hub, Qishi Hub dan Qingnian Hub. Salah satu tantangan konstruksinya adalah membuka jalur melalui kawasan pegunungan untuk menghubungkan sistem perairan tersebut.

Perbedaan ketinggian antara Sungai Xijiang dan Teluk Beibu mencapai sekitar 65 meter, atau kira-kira setara gedung 20 lantai. Khusus di Madao Hub, perbedaan muka air maksimum mencapai 29,6 meter, sekitar ketinggian gedung 10 lantai.

Untuk memungkinkan kapal melewati perbedaan ketinggian tersebut, Madao menggunakan sistem ship lock atau pintu air navigasi yang berfungsi seperti “tangga air” bagi kapal.

Struktur navigasinya terdiri dari dua jalur ship lock, masing-masing dengan panjang efektif 300 meter, lebar 34 meter dan kedalaman air delapan meter.

Ketika kapal bergerak dari hilir menuju hulu, kapal memasuki ruang ship lock. Pintu kemudian ditutup dan air dialirkan secara bertahap sehingga permukaan air di dalam ruang berubah. Setelah ketinggian air menjadi sama dengan sisi berikutnya, pintu kembali dibuka dan kapal dapat melanjutkan perjalanan.

Sistem ini membuat kapal-kapal besar dapat mengatasi perbedaan elevasi yang sebelumnya menjadi hambatan geografis. 

Kawasan Madao Water Control Project. Foto TATOLI/Cidalia Fatima

Hemat 1,05 miliar meter kubik air

Madao Hub juga dilengkapi kolam penghemat air tiga tingkat. Menurut penjelasan di lokasi, teknologi tersebut dapat menghemat sekitar 60 persen penggunaan air, atau sekitar 1,05 miliar meter kubik per tahun.

Air tersebut tidak hanya dibutuhkan untuk mendukung navigasi kapal, tetapi juga berkaitan dengan keamanan pasokan air di kawasan hilir.

Pengembangan kanal juga mengubah kapasitas jalur air secara signifikan. Sungai alami sebelumnya dinilai terlalu sempit dan dangkal untuk kapal besar. Setelah dikembangkan, beberapa bagian jalur memiliki lebar sekitar 80 hingga 130 meter, dan kanal dirancang untuk dilalui kapal kelas 5.000 ton.

Gunakan AI untuk mengatur navigasi

Tidak hanya mengandalkan konstruksi fisik, Pinglu Canal juga mengembangkan sistem pengoperasian cerdas yang mengintegrasikan data dari otoritas maritim, pengelolaan sumber daya air, meteorologi dan pengelola ship lock.

Sistem tersebut menggunakan teknologi AI untuk membantu mengatur navigasi kapal dan memberikan informasi secara waktu nyata. Sistem juga dapat menghasilkan rencana perjalanan kapal serta mengoordinasikan kapal, pelabuhan, pintu air dan pergerakan barang.

Pinglu Canal selanjutnya diarahkan untuk memperkuat akses kawasan barat dan barat daya China menuju laut serta meningkatkan konektivitas perdagangan dengan negara-negara ASEAN. Dalam penjelasan kepada delegasi, kanal tersebut diposisikan sebagai bagian dari jaringan yang menghubungkan ke Eropa dan Asia di utara serta ASEAN di selatan.

Selain delegasi media ASEAN, warga setempat juga terlihat datang ke sekitar kawasan proyek. Di sekitar jalur kunjungan terdapat sejumlah fasilitas pendukung seperti toko, restoran dan penginapan.

Delegasi menyelesaikan kunjungan ke Madao sekitar pukul 15.00 waktu setempat, kemudian meninggalkan Qinzhou menuju Nanning dan tiba di hotel sekitar pukul 16.30.

Bagi para jurnalis ASEAN, perjalanan panjang menuju Madao tidak hanya memperlihatkan skala pembangunan Pinglu Canal, tetapi juga memberikan gambaran langsung tentang bagaimana tantangan geografis di kawasan pegunungan diatasi untuk menciptakan jalur baru bagi kapal-kapal besar menuju laut. 

Reporter  : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!