BCTL peringatkan risiko penyusutan jangka panjang dana perminyakan Timor-Leste

DILI, 04 September 2026 (TATOLI) – Banco Central de Timor-Leste (BCTL) memperingatkan bahwa pokok Dana Perminyakan (Petroleum Fund) menghadapi risiko penyusutan berkelanjutan dalam jangka panjang, di tengah berakhirnya pendapatan langsung minyak dan besarnya penarikan negara dibandingkan pendapatan investasi dana tersebut.
Dalam Timor-Leste Mid Term Economic Review 2026, BCTL mencatat saldo Dana Perminyakan berada di kisaran US$18,4 miliar pada 2026, turun sekitar US$200 juta dibandingkan US$18,6 miliar pada 2025.
BCTL menyebut modal dana tergerus sekitar US$0,2 miliar karena penarikan melampaui pendapatan. Pada saat bersamaan, penerimaan langsung dari sumber daya turun 61 persen, yang menurut BCTL menjadi indikasi menipisnya produksi di ladang.
Data laporan menunjukkan pendapatan petroleum turun dari US$36,1 juta pada 2025 menjadi US$14,1 juta pada 2026, sementara pendapatan investasi Dana Perminyakan tercatat US$621 juta pada 2026, dibandingkan US$1,772 miliar pada 2025.
Penarikan dari Dana Perminyakan tercatat US$800 juta pada 2026, lebih rendah dibandingkan sekitar US$1,451 miliar pada 2025. Tingkat pengembalian investasi tercatat 7,9 persen pada 2026, dibandingkan 9,9 persen pada tahun sebelumnya.
Meskipun demikian, BCTL mencatat kinerja pasar tetap kuat dan imbal hasil berada jauh di atas rata-rata historis.
Sejak Dana Perminyakan dibentuk pada 2005, total pendapatan petroleum mencapai US$25,3 miliar, sementara total pengembalian investasi mencapai US$12,6 miliar. Tingkat pengembalian investasi rata-rata sejak pembentukan dana tercatat 4,24 persen.
Pada periode yang sama, total penarikan mencapai US$19,6 miliar. Secara historis, kontribusi terhadap pengembalian investasi berasal dari instrumen pendapatan tetap (fixed income) sebesar 74 persen dan saham (equities) 26 persen, meskipun BCTL mencatat saham kini menjadi pendorong keuntungan terbaru.
BCTL menilai besarnya akumulasi penarikan negara dibandingkan pendapatan investasi, ditambah dengan berakhirnya pendapatan langsung minyak, menempatkan pokok Dana Perminyakan di bawah tekanan penyusutan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Berakhirnya produksi Bayu-Undan juga dinilai telah mengubah secara material kondisi fiskal dan eksternal Timor-Leste.
BCTL karena itu menekankan urgensi memperkuat mobilisasi pendapatan domestik, meningkatkan efisiensi belanja dan mempertahankan pengelolaan Dana Perminyakan secara hati-hati. Kebijakan fiskal perlu menyeimbangkan kebutuhan pembangunan jangka pendek dengan keberlanjutan fiskal dalam jangka menengah.
Secara lebih luas, BCTL menilai Timor-Leste masih menghadapi kerentanan jangka menengah akibat tingginya ketergantungan terhadap impor, terbatasnya kapasitas produksi, lemahnya diversifikasi ekspor, menurunnya pendapatan petroleum dan masih dangkalnya intermediasi keuangan.
Karena Timor-Leste menggunakan sistem dolarisasi penuh, ruang kebijakan menjadi lebih terbatas. BCTL menekankan pentingnya kehati-hatian fiskal, reformasi untuk meningkatkan produktivitas, mobilisasi pendapatan domestik, diversifikasi ekspor dan pendalaman intermediasi keuangan guna memperkuat ketahanan ekonomi serta menjaga kekayaan antargenerasi.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

