Top

Dari Kebijakan ke Gerakan: Refleksi Baru tentang Pembangunan Pertanian dan Ketahanan Pangan Timor-Leste

laka

Oleh: Remigio Laka Vieira

Lebih dari satu dekade yang lalu, ketika saya menulis buku tentang kebijakan pembangunan pertanian Timor-Leste pada tahun 2015, perhatian saya tertuju pada sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana kebijakan publik dapat digunakan untuk mendorong pembangunan pertanian, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan, memperkuat petani dan membangun ketahanan pangan nasional?

Pertanyaan tersebut hingga hari ini masih relevan. Bahkan, setelah lebih dari satu dekade, pertanyaan itu menjadi semakin penting.

Timor-Leste telah mengalami banyak perubahan. Infrastruktur berkembang, institusi negara semakin kuat, pendidikan semakin terbuka, generasi muda semakin banyak memperoleh akses ke universitas, dan hubungan internasional terus berkembang. Namun, dalam bidang pertanian dan ketahanan pangan, sejumlah persoalan mendasar masih terus hadir dalam kehidupan masyarakat.

Ketergantungan terhadap impor pangan masih tinggi. Produktivitas pertanian belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan nasional. Musim kering masih menjadi tantangan bagi banyak petani. Akses terhadap pasar belum merata. Kehilangan hasil setelah panen masih menjadi persoalan. Hubungan antara produksi di daerah dan kebutuhan pasar di perkotaan masih membutuhkan perbaikan.

Karena itu, setelah lebih dari sepuluh tahun, saya melihat bahwa pertanyaan kita tidak lagi hanya:

Kebijakan apa yang dibutuhkan Timor-Leste?

Pertanyaan yang lebih penting sekarang adalah:

Bagaimana kebijakan yang telah dirumuskan dapat benar-benar dihubungkan dengan ilmu pengetahuan, universitas, petani, inovasi, pasar dan praktik di lapangan?

Refleksi tersebut kembali muncul dalam pikiran saya ketika saya mendapat kesempatan hadir sebagai observer dalam sebuah pertemuan akademik di Timorence Catholic University.

Sebuah pertemuan dan sebuah refleksi

Dalam pertemuan tersebut, seorang profesor internasional berbicara tentang perjalanan panjangnya dalam bidang pertanian, ilmu tanaman, genetika, agroforestri dan pembangunan kapasitas ilmiah.

Ia berbicara tentang sesuatu yang sangat kecil: sebuah benih.

Benih tersebut sangat ringan, tetapi di dalamnya tersimpan informasi kehidupan yang luar biasa. Dari sesuatu yang hampir tidak terlihat dapat tumbuh sebuah pohon besar.

Pesan tersebut bukan hanya mengenai biologi.

Bagi saya, pesan itu juga merupakan metafora tentang pembangunan.

Perubahan besar dapat dimulai dari sesuatu yang kecil.

Profesor tersebut kemudian menjelaskan sebuah proses transformasi: Idea → Project → Program → Movement.

Sebuah ide tidak akan menghasilkan perubahan hanya karena ide tersebut baik. Ide harus diuji. Ia harus menjadi proyek. Proyek membutuhkan data. Data membutuhkan penelitian. Penelitian membutuhkan kolaborasi. Kolaborasi membutuhkan institusi dan manusia.

Ketika kapasitas semakin berkembang dan hasil dapat dibuktikan, proyek dapat menjadi program. Ketika masyarakat dan institusi mulai mengambil kepemilikan bersama, sebuah program bahkan dapat berkembang menjadi gerakan.

Bagi saya, pemikiran ini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan pertanyaan yang telah saya ajukan dalam buku saya pada tahun 2015.

Kebijakan pertanian tidak boleh hanya berhenti sebagai dokumen.

Kebijakan harus bergerak.

Ia harus sampai ke lapangan.

Ia harus dapat dilihat dalam kehidupan petani.

Ia harus dapat diukur melalui perubahan produktivitas, pendapatan, ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.

Dengan kata lain: Policy → Implementation → Evidence → Improvement → Transformation.

Dari kebijakan ke implementasi

Timor-Leste sebenarnya tidak memulai pembangunan pertanian dari titik kosong.

Strategi pembangunan nasional telah memberikan perhatian terhadap pertanian, pembangunan pedesaan, ketahanan pangan, pengembangan sumber daya manusia, irigasi dan peningkatan produktivitas.

Secara kebijakan, banyak persoalan utama telah lama dikenali.

Kita mengetahui bahwa:

  • Pertanian penting bagi kehidupan masyarakat pedesaan;
  • Ketahanan pangan membutuhkan peningkatan produksi;
  • Air merupakan faktor penting bagi pertanian;
  • Petani membutuhkan pengetahuan dan teknologi;
  • Infrastruktur pasar harus diperkuat;
  • Sumber daya manusia harus dikembangkan;
  • Dan keberlanjutan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari pembangunan pertanian.

Namun, keberadaan kebijakan saja tidak cukup.

Inilah perbedaan antara policy formulation dan policy implementation.

Sebuah negara dapat memiliki kebijakan yang baik, tetapi apabila hubungan antara kebijakan dan pelaksanaan lemah, maka hasilnya tidak selalu sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan.

Setelah lebih dari satu dekade sejak buku saya diterbitkan, saya semakin melihat bahwa salah satu tantangan besar Timor-Leste bukan semata-mata kekurangan kebijakan.

Tantangan kita adalah bagaimana membangun hubungan yang lebih kuat antara: Government → Policy → University → Science → Farmer → Community → Market.

Tanpa hubungan tersebut, kebijakan dapat berhenti di kantor.

Penelitian dapat berhenti di universitas.

Inovasi dapat berhenti pada penciptanya.

Dan petani dapat tetap menghadapi persoalan yang sama.

Ketahanan pangan bukan hanya persoalan produksi

Dalam diskusi di Timorence Catholic University, muncul pertanyaan mengenai ketergantungan Timor-Leste terhadap impor pangan.

Pertanyaan tersebut sangat penting.

Namun, jawaban yang diberikan mengarahkan kita kepada perspektif yang lebih luas.

Ketahanan pangan tidak dapat hanya dilihat dari satu komoditas.

Kita sering berbicara tentang beras dan jagung. Keduanya penting. Namun, ketahanan pangan masyarakat juga berkaitan dengan kualitas nutrisi, buah-buahan, sayuran, protein hewani dan keberagaman makanan.

Karena itu, ketahanan pangan harus dipahami sebagai sebuah sistem: Water + Soil + Seeds + Crops + Livestock + Knowledge + Technology + Production + Storage + Transport + Market + Nutrition.

Apabila kita hanya meningkatkan produksi tetapi hasil pertanian rusak sebelum sampai ke pasar, maka persoalan belum selesai.

Apabila kita meningkatkan produksi tetapi masyarakat tidak memiliki akses terhadap makanan bergizi, maka ketahanan pangan belum lengkap.

Apabila petani berhasil menghasilkan produk tetapi tidak memiliki pasar, maka pembangunan pertanian belum berhasil sepenuhnya.

Karena itu, pertanyaan pembangunan pertanian tidak cukup hanya:

How do we grow more?

Kita juga harus bertanya:

What should we grow?

Where should we grow it?

Who needs it?

How will it reach the market?

How can farmers benefit economically?

How can we reduce waste?

Ini adalah pergeseran penting dari cara berpikir tentang pertanian sebagai sektor produksi menuju pemahaman tentang pertanian sebagai bagian dari sebuah food system.

Air sebagai persoalan kunci Salah satu refleksi penting dalam diskusi tersebut adalah mengenai air.

Timor-Leste memiliki pegunungan dan lereng yang luas. Pada musim hujan, air mengalir dari wilayah tinggi menuju sungai dan laut. Namun, pada musim kering, banyak kegiatan pertanian menghadapi keterbatasan air.

Pertanyaannya adalah:

Seberapa besar kemampuan kita untuk menangkap, menyimpan dan menggunakan kembali air yang tersedia pada musim hujan?

Masalah air sebenarnya memiliki hubungan dengan banyak persoalan lainnya.

Air mempengaruhi:

  • Produksi tanaman;
  • Peternakan
  • Ketahanan terhadap kekeringan;
  • Pendapatan petani;
  • Ketersediaan pangan;
  • Rehabilitasi lingkungan;
  • Dan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim.

Karena itu, manajemen air dapat disebut sebagai salah satu keystone issues dalam pembangunan pertanian.

Keystone issue adalah persoalan yang apabila ditangani dengan baik dapat membuka jalan bagi penyelesaian berbagai persoalan lainnya.

Timor-Leste membutuhkan investasi dalam infrastruktur air skala besar. Namun, kita juga perlu memperhatikan solusi di tingkat lokal:

  • Penangkapan air hujan;
  • Kolam pertanian;
  • Konservasi tanah dan air;
  • Rehabilitasi vegetasi;
  • Pengelolaan lereng;
  • Agroforestri;
  • Dan sistem irigasi yang lebih efisien.

Kita perlu bergerak dari pertanyaan:

Bagaimana mendapatkan lebih banyak air?

Menjadi:

Bagaimana menggunakan setiap tetes air secara lebih efektif?

Pertanian harus mengikuti realitas Timor-Leste

Timor-Leste memiliki kondisi geografis yang beragam.

Kita memiliki daerah pesisir, dataran rendah, pegunungan dan lereng.

Karena itu, kita tidak dapat menggunakan satu model pertanian untuk seluruh negara.

Pembangunan pertanian harus dimulai dari pertanyaan tentang kesesuaian lokal.

Tanaman apa yang paling sesuai dengan kondisi wilayah?

Jenis peternakan apa yang sesuai dengan ketersediaan lahan?

Komoditas apa yang memiliki permintaan pasar?

Tanaman apa yang mendukung nutrisi keluarga?

Jenis pohon apa yang dapat mendukung sistem agroforestri?

Bagaimana hubungan antara tanaman, ternak dan lingkungan dapat diperkuat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan penelitian dan data.

Inilah salah satu alasan mengapa hubungan antara universitas dan lapangan harus diperkuat.

Universitas tidak hanya berperan menghasilkan lulusan.

Universitas dapat menjadi pusat untuk menghasilkan local evidence.

Mahasiswa dapat melakukan penelitian lapangan.

 

Mereka dapat mengumpulkan data.

Mereka dapat membangun demonstration plots.

Mereka dapat bekerja dengan petani.

Mereka dapat membandingkan berbagai metode.

Mereka dapat membantu menjawab pertanyaan pembangunan yang benar-benar dihadapi oleh masyarakat.

Dengan demikian: University → Research → Evidence → Field → Farmer → Community → Policy.

Data sebagai dasar pembangunan

Salah satu pesan yang paling kuat dari profesor tersebut adalah pentingnya data.

Dalam pertanian, kita sering mengatakan bahwa sesuatu berhasil karena tanaman terlihat lebih baik.

Tetapi ilmu pengetahuan meminta kita untuk bertanya lebih jauh.

Berapa besar pertumbuhannya?

Berapa tingkat kelangsungan hidup tanaman?

Apakah hasil panen meningkat?

Apakah penggunaan air lebih efisien?

Apakah biaya produksi lebih rendah?

Apakah kualitas tanah berubah?

Apakah hasil tersebut konsisten pada lokasi yang berbeda?

Data tidak menggantikan pengalaman petani.

Sebaliknya, data membantu mendokumentasikan pengalaman sehingga dapat dipelajari, dibandingkan dan dikembangkan.

Timor-Leste membutuhkan lebih banyak penelitian berdasarkan kondisi lokal.

Kita perlu belajar dari negara lain, tetapi kita juga harus menghasilkan bukti kita sendiri.

Apa yang berhasil di negara lain belum tentu menghasilkan hasil yang sama di Timor-Leste.

Karena itu: Global Knowledge + Local Conditions + Local Research = Local Solutions.

Ini merupakan salah satu perkembangan penting dari cara saya melihat kebijakan pertanian.

Jika pada masa sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada hubungan antara pemerintah, kebijakan dan pembangunan masyarakat, hari ini saya melihat bahwa kebijakan modern harus semakin terhubung dengan evidence.

Kebijakan yang baik harus dapat belajar dari lapangan.

Dan pengalaman lapangan harus dapat memberikan masukan kepada kebijakan.

Hubungannya harus dua arah:

Policy → Practice

Dan

Practice → Evidence → Policy Improvement.

Kolaborasi: kita tidak dapat melakukannya sendiri

Profesor tersebut berulang kali menekankan satu hal:

Collaboration.

Pesannya sederhana:

You don’t have to do it alone.

Pemerintah tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan sendiri.

Universitas tidak dapat bekerja sendiri.

Petani tidak dapat memecahkan seluruh persoalan sistem pasar sendiri.

Sektor swasta tidak dapat membangun ketahanan pangan hanya melalui bisnis.

Mitra internasional juga tidak dapat memberikan solusi tanpa keterlibatan lokal.

Kita membutuhkan sebuah community of practice.

Di dalamnya terdapat:

  • Petani;
  • Mahasiswa;
  • Dosen;
  • Peneliti;
  • Pemerintah;
  • Sektor swasta;
  • Organisasi masyarakat
  • Ahli nutrisi;
  • Insinyur;
  • Ahli lingkungan;
  • Dan masyarakat.

 

Pembangunan pertanian masa depan membutuhkan kemampuan untuk bekerja lintas disiplin.

Masalah tanah dapat berkaitan dengan air.

Masalah air berkaitan dengan tanaman.

Tanaman berkaitan dengan nutrisi.

Nutrisi berkaitan dengan kesehatan.

Produksi berkaitan dengan transportasi.

Transportasi berkaitan dengan pasar.

Pasar berkaitan dengan pendapatan.

Pendapatan berkaitan dengan kesejahteraan.

Karena itu, pembangunan pertanian harus dilihat secara sistematis.

Dari ide menjadi gerakan

Pelajaran yang paling relevan bagi Timor-Leste adalah bahwa kita tidak harus menunggu proyek nasional yang sangat besar untuk memulai perubahan.

Sebuah ide dapat dimulai dari komunitas.

Sebuah universitas dapat memulai penelitian kecil.

Sekelompok mahasiswa dapat membuat satu demplot.

Satu kelompok petani dapat menguji metode baru.

Satu inovasi lokal dapat diuji secara ilmiah.

Jika hasilnya dikumpulkan sebagai data, pengalaman tersebut dapat menjadi bukti.

Jika bukti tersebut cukup kuat, kegiatan dapat diperluas.

Jika beberapa institusi mulai terlibat, proyek dapat berkembang menjadi program.

Jika masyarakat mulai mengambil kepemilikan dan mengembangkan sendiri pendekatan tersebut, maka program dapat tumbuh menjadi gerakan.

Itulah: Idea → Project → Program → Movement.

Namun, bagi Timor-Leste, saya percaya bahwa proses tersebut harus memiliki satu unsur tambahan:

Local Ownership.

Kita tidak membutuhkan pembangunan yang hanya datang dari luar.

Kita membutuhkan kerja sama internasional, teknologi dan pengetahuan global. Namun, solusi tersebut harus akhirnya dimiliki oleh masyarakat Timor-Leste sendiri.

Petani harus menjadi bagian dari proses.

Mahasiswa harus terlibat.

Universitas harus berkontribusi.

Pemerintah harus mendukung.

Sektor swasta harus dapat berinovasi secara bertanggung jawab.

Dan masyarakat harus merasakan manfaatnya.

Sebuah perkembangan pemikiran

Bagi saya pribadi, refleksi ini juga merupakan perkembangan dari pemikiran yang saya mulai lebih dari satu dekade lalu.

Ketika menulis tentang kebijakan pembangunan pertanian Timor-Leste pada tahun 2015, perhatian saya berpusat pada peran kebijakan publik dalam pembangunan pertanian, pembangunan pedesaan, ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat.

Hari ini, setelah melihat perkembangan Timor-Leste dan semakin dekat dengan berbagai pengalaman praktik pertanian dan inovasi di lapangan, saya melihat bahwa kebijakan saja tidak cukup.

Kita membutuhkan: Policy + Science + Innovation + Evidence + Collaboration + Implementation.

Kebijakan tanpa implementasi hanya akan menjadi dokumen.

Inovasi tanpa data akan sulit dibuktikan.

Penelitian tanpa hubungan dengan masyarakat akan sulit memberikan dampak.

Sektor swasta tanpa tanggung jawab sosial dapat kehilangan hubungan dengan pembangunan.

Dan masyarakat tanpa akses terhadap pengetahuan akan sulit menjadi bagian dari transformasi.

Karena itu, tantangan pembangunan pertanian Timor-Leste sekarang adalah bagaimana menyatukan semua bagian tersebut.

Dari konsumen pengetahuan menjadi produsen pengetahuan

Generasi muda Timor-Leste memiliki peran yang sangat penting.

Kita tidak boleh hanya menjadi konsumen pengetahuan.

Kita harus menjadi produsen pengetahuan.

Kita harus membaca penelitian dari luar negeri, tetapi juga melakukan penelitian kita sendiri.

Kita harus belajar teknologi internasional, tetapi juga mengembangkan inovasi lokal.

Kita harus mendengar pengalaman dari Afrika, Asia, Eropa dan Australia, tetapi kita juga harus menghasilkan jawaban berdasarkan realitas Timor-Leste.

Pertanyaan terpenting bagi kita adalah:

What works for Timor-Leste?

Dan jawaban tersebut tidak dapat diberikan oleh satu orang.

Jawaban tersebut harus ditemukan bersama.

Melalui penelitian.

Melalui data.

Melalui eksperimen.

Melalui kegagalan dan perbaikan.

Melalui kolaborasi.

Penutup: menyatukan kebijakan, ilmu pengetahuan dan praktik

Lebih dari satu dekade setelah saya menulis tentang kebijakan pembangunan pertanian Timor-Leste, saya semakin percaya bahwa negara kita tidak kekurangan potensi.

Kita memiliki tanah.

Kita memiliki air.

Kita memiliki pegunungan.

Kita memiliki keanekaragaman hayati.

Kita memiliki petani.

Kita memiliki universitas.

Kita memiliki mahasiswa.

Kita memiliki kebijakan.

Kita memiliki mitra internasional.

Tantangan kita adalah menyatukan semuanya.

Kita harus membangun hubungan yang lebih kuat antara: Policy → Science → University → Innovation → Farmer → Community → Market.

Apabila hubungan tersebut dapat diperkuat, maka kebijakan tidak akan berhenti sebagai dokumen.

Penelitian tidak akan berhenti sebagai laporan.

Inovasi tidak akan berhenti sebagai eksperimen.

Dan proyek tidak akan berhenti ketika pendanaan berakhir.

Semuanya dapat berkembang.

Dari sebuah ide.

Menjadi proyek.

Dari proyek menjadi program.

Dari program menjadi gerakan.

Namun, gerakan tersebut harus menjadi milik Timor-Leste.

Bukan sekadar meniru negara lain.

Bukan sekadar mengikuti teknologi dari luar.

Tetapi membangun solusi berdasarkan:

Timor-Leste’s land.

Timor-Leste’s people.

Timor-Leste’s knowledge.

Timor-Leste’s challenges.

And Timor-Leste’s future.

Mungkin pertanyaan kita hari ini bukan lagi:

Apa saja masalah pertanian Timor-Leste?

Kita telah mengetahui banyak di antaranya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Masalah kunci mana yang harus kita selesaikan bersama terlebih dahulu agar perubahan tersebut membuka jalan bagi perubahan lainnya?

Mungkin jawabannya adalah air.

Mungkin tanah.

Mungkin benih.

Mungkin akses pasar.

Mungkin pendidikan.

Mungkin penelitian.

Atau mungkin semuanya dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana.

Sebuah ide kecil.

Tetapi jika ide tersebut didukung oleh kebijakan yang baik, ilmu pengetahuan, data, inovasi, kolaborasi dan kepemilikan lokal, maka ide itu dapat tumbuh.

Dan ketika cukup banyak orang mulai bekerja bersama, sebuah ide kecil dapat menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Idea → Project → Program → Movement.

Itulah tantangan sekaligus peluang pembangunan pertanian Timor-Leste pada masa depan: bukan hanya membuat kebijakan yang lebih baik, tetapi memastikan bahwa kebijakan, pengetahuan dan praktik akhirnya bergerak bersama untuk menghasilkan perubahan nyata bagi masyarakat.

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!