Timor-Leste dan Australia selesaikan tiga dokumen penting Greater Sunrise

DILI, 28 Agustus 2026 (TATOLI) – Menteri Perminyakan dan Sumber Daya Mineral, Francisco Monteiro, menginformasikan bahwa Pemerintah Timor-Leste dan Australia telah menyelesaikan negosiasi tiga dokumen penting untuk pengembangan ladang Greater Sunrise.
Ketiga dokumen tersebut meliputi Kode Pertambangan Perminyakan (Petroleum Mining Code/PMC), Kontrak Bagi Hasil Produksi (Production Sharing Contract/PSC), dan rezim fiskal.
“Dokumen Kode Pertambangan Perminyakan telah diselesaikan lebih dahulu pada Maret, sementara dua dokumen lainnya berhasil dinegosiasikan oleh tim kita pada pekan lalu di Australia. Joint Venture dan TIMOR GAP berhasil mencapai kesepakatan untuk menerima apa yang diajukan oleh kedua negara. Sekarang, ketiga dokumen tersebut telah diterima, disepakati dan difinalisasi,” kata Francisco Monteiro.
Berita terkait : Perusahaan Singapura dipercaya survei jalur pipa ekspor Gas Greater Sunrise Timor-Leste
Ia mengatakan, penyelesaian tiga dokumen penting tersebut merupakan langkah positif yang menandakan Timor-Leste telah melewati satu tahapan dalam proses pengembangan Greater Sunrise.
“Tahap berikutnya adalah membahas rencana dan konsep pengembangan ladang yang nantinya akan kita setujui. Saat ini terdapat dua konsep, satu ke Australia dan satu ke Timor-Leste. Karena itu, kita menjalankan seluruh proses agar dapat memfinalisasi satu konsep saja. Posisi kita adalah membawanya ke Timor-Leste,” tegasnya.
Menurut Menteri Francisco, saat ini Timor-Leste telah memiliki proyek tersebut dan pekerjaan besar selanjutnya adalah merealisasikan serta menjalankan proyek itu.
“Ke depan, kita harus mencari pembiayaan untuk proyek ini karena tidak dapat terlalu bergantung pada Anggaran Negara. Industri ini memiliki berbagai skema untuk mendapatkan pembiayaan bagi proyek tersebut. Tidak semua sumber daya harus berasal dari Anggaran Negara,” jelasnya.
Menurutnya, terdapat kekhawatiran dari sejumlah pihak bahwa proyek tersebut akan menggunakan Dana Perminyakan.
“Ada yang melihat bahwa dalam persentase tertentu kita memang harus melakukan investasi dari bagian negara dan Dana Perminyakan, tetapi sebagian besar pembiayaan akan dimobilisasi dari sumber-sumber pendanaan lainnya,” katanya.
Berdasarkan studi yang telah dilakukan, kebutuhan investasi untuk proyek Greater Sunrise pada sektor hulu (upstream) diperkirakan berkisar antara US$7 miliar hingga US$9 miliar. Sementara itu, sektor hilir (downstream) juga diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$7 miliar hingga US$9 miliar.
Reporter : Arminda Fonseca ( Penerjemah: Cidalia Fátima)
Editor : Julia Chatarina

