Top

UNICEF soroti lambatnya penurunan presentasi malnutrisi di Timor-Leste

Perwakilan UNICEF untuk Timor-Leste, Patrizia DiGiovanni. Foto/Francisco Sony

DILI, 27 Agustus 2026 (TATOLI)–Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menilai penurunan malnutrisi anak di Timor-Leste masih berjalan lambat karena persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi anak, tetapi dipengaruhi berbagai faktor mulai dari pertanian, ketersediaan pangan, air, pasar hingga kondisi ekonomi keluarga.

Perwakilan UNICEF untuk Timor-Leste, Patrizia DiGiovanni, mengatakan persoalan malnutrisi merupakan tantangan besar yang membutuhkan keterlibatan berbagai sektor dan tidak seharusnya menjadi persoalan untuk saling menyalahkan.

Pernyataan itu disampaikan Patrizia ketika menanggapi pertanyaan mengenai data Demographic and Health Survey (DHS) yang menunjukkan persentase stunting hanya berkurang sekitar satu poin persentase dalam kurun waktu 15 tahun.

Menurutnya, upaya memahami malnutrisi harus dimulai dengan melihat apakah masyarakat memiliki akses terhadap makanan yang baik dan bergizi.

Berita terkait : Temui Presiden Republik, CARE Australia bahas pemberantasan malnutrisi dan stunting pada anak

Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pertanian dan air, tetapi juga pasar, sektor swasta serta kebijakan Pemerintah mengenai pangan, suplementasi makanan, pertanian dan kepemilikan lahan.

“Ketika kita berbicara mengenai malnutrisi, kita sering memikirkan anak dan makanan yang diterimanya. Tetapi kita harus melihat ke belakang. Kita harus memikirkan apa yang menjadi sumber masalah ini,” kata Patrizia.

Ia menilai kompleksitas tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sejumlah data terkait malnutrisi belum menunjukkan perubahan signifikan.

Patrizia mengatakan dalam beberapa tahun terakhir upaya mulai diarahkan pada pembangunan sistem yang dapat menangani persoalan gizi dalam jangka panjang.

Namun, pembangunan sistem saja belum cukup untuk membantu anak-anak yang saat ini telah berusia tiga atau empat tahun dan mengalami persoalan gizi. Karena itu, intervensi langsung kepada anak harus tetap dilakukan bersamaan dengan pembangunan sistem untuk melindungi generasi mendatang.

“Pembangunan sistem akan membantu kita pada masa depan. Pembangunan sistem akan menyelamatkan anak-anak di masa depan. Tetapi membangun sistem tidak selalu membantu anak-anak yang berusia tiga atau empat tahun saat ini,” ujarnya.

UNICEF juga menilai penyelesaian persoalan malnutrisi membutuhkan pembahasan yang lebih mendalam mengenai wasting dan stunting, termasuk memastikan ketersediaan pertanian yang baik, suplementasi pangan, akses terhadap makanan bergizi dan keterlibatan sektor swasta.

Patrizia mengingatkan banyaknya makanan yang tersedia di pasar tidak otomatis menjamin pemenuhan gizi apabila pilihan yang tersedia justru didominasi makanan yang tidak sehat.

“Ini jauh lebih kompleks daripada UNICEF datang ke masyarakat, melatih tenaga kesehatan dan memberikan beras kepada anak-anak,” katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Dewan Nasional Ketahanan dan Kedaulatan Pangan dan Gizi Timor-Leste (KONSSANTIL), Comar Mendonça, mengatakan lembaganya terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan kementerian terkait untuk menjamin ketersediaan pangan secara berkelanjutan bagi masyarakat.

“Produksi pangan dalam negeri hingga kini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut membuat koordinasi dengan kementerian dan institusi yang menangani impor serta stok pangan tetap diperlukan untuk menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat,” ucapnya.

Menurut Comar, upaya mengurangi malnutrisi juga perlu memberikan perhatian terhadap anak berusia enam hingga 23 bulan. Setelah melewati masa pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, orang tua perlu memberikan makanan pendamping yang memadai, bergizi dan sebisa mungkin bersumber dari produk pangan lokal.

Ia menegaskan sektor pertanian memiliki hubungan erat dengan pemenuhan gizi masyarakat.

“Gizi memiliki dasar dari pertanian. Jika pertanian tidak menghasilkan pangan secara berkelanjutan, kita tidak dapat menjamin upaya untuk memerangi malnutrisi,” ujarnya.

Comar menambahkan lambatnya penurunan malnutrisi juga dipengaruhi tingkat pengetahuan dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan maupun edukasi mengenai kesehatan dan penyediaan makanan bergizi.

Selain itu, kondisi pendapatan ekonomi keluarga yang belum maksimal turut berkontribusi terhadap lambatnya penurunan tingkat malnutrisi.

Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, menurutnya Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dan mengatasi malnutrisi di Timor-Leste.

Reporter     : Cidalia Fátima

Editor          : Julia Chatarina

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!