Top

IGTL tegaskan tidak ada ancaman tsunami di Timor-Leste pasca gempa Flores

Foto TATOLI

DILI, 17 Agustus 2026 (TATOLI) – Institut Geosains Timor-Leste (IGTL) meminta masyarakat untuk tidak mempercayai rumor dan tidak panik menyusul gempa bumi kuat yang mengguncang wilayah Flores, Indonesia, pada Sabtu (15 Agustus 2026),  karena tidak ada indikasi ancaman tsunami di Timor-Leste.

Ketua IGTL, Job Brites dos Santos, mengatakan berdasarkan data pemantauan yang tersedia hingga saat ini, tidak terdapat indikasi ancaman tsunami signifikan bagi Timor-Leste.

Meski demikian, IGTL terus memantau aktivitas seismik di kawasan tersebut, termasuk kemungkinan gempa susulan (aftershocks) yang dapat terus terjadi setelah gempa berkekuatan besar tersebut.

“Penting untuk diketahui bahwa Timor-Leste berada di kawasan yang aktif secara tektonik, sehingga penting bagi kita semua untuk selalu siap. Kesiapsiagaan bukan berarti gempa besar akan terjadi sekarang, tetapi membantu kita merespons dengan tenang dan aman ketika suatu peristiwa terjadi,” kata Job Brites dos Santos kepada TATOLI, Senin ini.

Job menjelaskan, setelah gempa bumi di Flores yang menyebabkan korban jiwa, beredar pula rumor di masyarakat mengenai kemungkinan terjadinya tsunami di Timor-Leste.

Karena itu, IGTL meminta masyarakat untuk tidak panik dan tidak menyebarkan pesan berantai, rekaman suara, video maupun informasi mengenai gempa dan tsunami yang tidak memiliki sumber resmi.

Menurutnya, penyebaran informasi palsu atau hoaks berpotensi menimbulkan kepanikan dan kebingungan di tengah masyarakat.

IGTL juga menegaskan hingga saat ini belum tersedia metode ilmiah yang mampu memprediksi secara tepat kapan dan di mana gempa bumi akan terjadi.

Para ilmuwan dapat mengidentifikasi wilayah dengan risiko seismik tinggi, memantau aktivitas kegempaan serta membuat estimasi berdasarkan probabilitas. Namun, belum dapat menentukan secara pasti tanggal dan waktu terjadinya suatu gempa bumi.

Karena itu, IGTL mengimbau masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai gempa bumi dan tsunami melalui sumber resmi, terutama IGTL, Otoritas Perlindungan Sipil serta Direktorat Nasional Meteorologi dan Geofisika (DNMG).

Masyarakat juga dapat memantau informasi dan data gempa bumi secara waktu nyata melalui aplikasi pemantauan gempa bumi IGTL yang telah diluncurkan sebelumnya.

Sistem Pemantauan Gempa Bumi IGTL pada 15 Agustus 2026 mencatat gempa besar di wilayah Pulau Flores, Indonesia, dengan magnitudo 7,3 dan kedalaman sekitar 15 kilometer.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia kemudian memperbarui parameter gempa tersebut menjadi magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.

Menurut IGTL, gempa tersebut terjadi akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust, struktur tektonik aktif di bagian utara Pulau Flores yang terbentuk akibat proses konvergensi dan interaksi antarlempeng tektonik di kawasan tersebut.

BMKG Indonesia kemudian mengakhiri peringatan dini tsunami setelah hasil pemantauan menunjukkan tidak lagi terdapat indikasi ancaman tsunami signifikan.

IGTL tetap mengingatkan masyarakat bahwa posisi Timor-Leste yang berada di kawasan aktif secara tektonik membutuhkan kesiapsiagaan terhadap bencana. Namun, masyarakat diminta tetap tenang dan menjadikan informasi dari lembaga resmi sebagai rujukan utama serta tidak mudah mempercayai informasi yang beredar tanpa sumber yang jelas.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor   : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!