Musik pererat Persahabatan TL – Indonesia di Cross Border Fest 2026

ATAMBUA, 08 Agustus 2026 (TATOLI) – Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI) mendorong Garuda Sakti Cross Border Fest 2026 di Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi ruang untuk mempererat persahabatan Timor-Leste dan Indonesia melalui musik, seni dan budaya.
Kepala Biro Data dan Sistem Informasi Kementerian Pariwisata RI, Nova Arisne, mengatakan kompetisi paduan suara yang menjadi bagian dari rangkaian Cross Border Fest tidak hanya menjadi ajang bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan, tetapi juga menjadi sarana membangun kebersamaan dan persaudaraan masyarakat kedua negara.
“Mari jadikan musik sebagai media untuk memperkuat dan mempererat hubungan persahabatan antara Timor-Leste dan Indonesia. Dan mari rayakan keberagaman dan saling menghargai dalam semangat persaudaraan,” kata Nova dalam kegiatan tersebut di Atambua.
Nova mengapresiasi partisipasi kelompok paduan suara dari Keuskupan Agung Dili dan Keuskupan Baucau di Timor-Leste yang mengikuti kompetisi bersama kelompok dari Dekanat Malaka, Kefamenanu dan Belu Utara dari Keuskupan Atambua, Indonesia.
Ia juga mengapresiasi dewan juri atas dedikasi dan profesionalisme dalam menyukseskan kompetisi yang mempertemukan kelompok paduan suara dari kedua negara tersebut.
Timor-Leste dalam kompetisi itu diwakili Paduan Suara Santa Cecilia Balide dari Keuskupan Agung Dili dan Paduan Suara Paroki Santo António Lacluta dari Keuskupan Baucau.
Berdasarkan hasil kompetisi yang diumumkan Jumat (07/08) malam, Santa Cecilia Balide meraih juara kedua, sedangkan Paroki Santo António Lacluta menempati posisi kelima.
Sementara itu, Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya (PENSOSBUD) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dili, Ratu Yulya Chaerani, mengatakan keterlibatan Timor-Leste dalam Garuda Sakti Cross Border Fest menjadi bagian dari upaya memperluas interaksi masyarakat kedua negara.
“KBRI Dili berperan sebagai jembatan yang mendorong partisipasi Timor-Leste dalam Garuda Sakti Crossborder Fest. Festival ini menjadi ruang bagi masyarakat Timor-Leste untuk menampilkan talenta seni dan budaya, sekaligus memperluas interaksi dengan masyarakat Indonesia sehingga semakin mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Timor-Leste melalui people-to-people contact,” kata Ratu kepada TATOLI.
Dalam mempersiapkan partisipasi Timor-Leste, KBRI Dili sebelumnya berkoordinasi dengan Sekretariat Negara Seni dan Budaya (SEAK) Timor-Leste serta pihak keuskupan untuk menghadirkan kelompok paduan suara dalam kompetisi tersebut.
Menurut Ratu, kegiatan lintas batas seperti Garuda Sakti Cross Border Fest memiliki arti yang lebih luas karena kawasan perbatasan dapat menjadi ruang untuk membangun persahabatan sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat kedua negara.
“Kami meyakini bahwa perbatasan bukan sekadar garis pemisah, melainkan jembatan persahabatan dan kemakmuran bersama (border prosperity),” ujarnya.
Ia berharap kegiatan seperti Cross Border Fest dapat mendorong peningkatan kunjungan masyarakat lintas batas yang kemudian memberikan dampak terhadap perkembangan pariwisata dan perekonomian lokal.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap kunjungan lintas batas terus meningkat, mendorong pariwisata, menggerakkan perekonomian lokal, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di kedua negara. Dengan semakin kuatnya interaksi antarmasyarakat, fondasi hubungan bilateral Indonesia dan Timor-Leste juga akan semakin kokoh,” katanya.
Kehadiran peserta Timor-Leste dalam Garuda Sakti Cross Border Fest menjadi salah satu bentuk hubungan antarmasyarakat atau people-to-people contact melalui seni dan budaya di kawasan perbatasan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belu, Januaria Nona Alo; Agen Konsul Timor-Leste di Atambua, Bonifâcio Fátima Martins Belo; perwakilan KBRI Dili; serta Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Dili, Pastor Graciano Santos Barros.
Garuda Sakti Cross Border Fest 2026 menjadi salah satu kegiatan lintas batas yang diharapkan dapat menjadikan kawasan perbatasan bukan hanya sebagai garis pemisah kedua negara, tetapi juga sebagai ruang pertemuan masyarakat yang memperkuat persahabatan, pariwisata dan kemakmuran bersama Timor-Leste–Indonesia.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

