DILI, 13 Juli 2026 (TATOLI) – Manatuto Renewables Power S.A. (MRP) menargetkan memulai pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Manatuto pada Agustus 2026, setelah proses pendanaan proyek (financial close) rampung. Proyek senilai sekitar US$107 juta tersebut diproyeksikan selesai dan mulai beroperasi pada Juni 2028.
Executive Managing Director Manatuto Renewables Power S.A., Mark G. Argar, mengatakan pihaknya telah bertemu dengan Presiden Republik, José Ramos-Horta, untuk menyampaikan perkembangan proyek yang telah dipersiapkan selama tiga tahun terakhir.
“Hari ini kami berkesempatan memberikan penjelasan kepada Presiden Republik mengenai perkembangan proyek PLTS Manatuto. Ini merupakan proyek penting yang telah dikembangkan selama tiga tahun terakhir dan kini kami bersiap memasuki tahap konstruksi,” kata Argar kepada wartawan usai pertemuan di Istana Kepresidenan, Senin.
Menurutnya, dalam pertemuan tersebut pihaknya juga menginformasikan bahwa seremoni peletakan batu pertama (groundbreaking) akan segera dilaksanakan sebagai penanda dimulainya pembangunan proyek.
“Karena proyek ini sangat penting bagi sektor energi di Timor-Leste, kami merasa perlu terus memberikan informasi kepada Presiden mengenai setiap perkembangan proyek,” ujarnya.
Argar menjelaskan Presiden Ramos-Horta kembali menegaskan dukungannya terhadap proyek tersebut karena dinilai akan memberikan manfaat besar bagi negara, terutama dalam menekan biaya energi nasional sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat di Kotamadya Manatuto.
“Presiden Republik mengatakan bahwa beliau selalu mendukung proyek ini. Beliau memahami bahwa proyek ini akan sangat penting untuk menurunkan biaya energi di Timor-Leste dan membuka banyak kesempatan kerja bagi masyarakat di Manatuto,” katanya.
Selain itu, Presiden Republik juga menyampaikan keinginannya untuk menghadiri seremoni peletakan batu pertama apabila berada di Timor-Leste pada waktu pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Merupakan suatu kehormatan besar bagi kami apabila Presiden dapat hadir dalam seremoni groundbreaking. Beliau berharap proyek ini dapat segera memasuki tahap konstruksi,” ujar Argar.
Ia menambahkan, pekerjaan konstruksi pertama dijadwalkan dimulai pada Agustus tahun ini dan ditargetkan selesai pada Juni 2028.
Proyek Manatuto merupakan hasil kerja sama konsorsium EDF power solutions (EDF ps) dan ITOCHU, yang terpilih sebagai Independent Power Producer (IPP) melalui proses tender internasional yang diluncurkan Electricidade de Timor-Leste (EDTL) pada 2023 dengan dukungan teknis dari Asian Development Bank (ADB).
Kedua perusahaan menandatangani Perjanjian Jual Beli Listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dengan EDTL pada 22 Juli 2025, sebelum mendirikan Manatuto Renewables Power S.A. pada Februari 2026 sebagai perusahaan pelaksana proyek.
PLTS yang akan dibangun di Desa Lifau, Lalela, Kotamadya Manatuto ini memiliki kapasitas pembangkit surya sebesar 72 MWac yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System/BESS) berkapasitas 36 MWh.
Dengan nilai investasi sekitar US$107 juta, proyek tersebut akan didanai melalui kombinasi modal konsorsium dan pinjaman dari lembaga keuangan pembangunan internasional, termasuk International Finance Corporation (IFC), Asian Development Bank (ADB), dan Japan International Cooperation Agency (JICA).
Selama masa operasionalnya, proyek ini diperkirakan mampu menghemat biaya bahan bakar negara lebih dari US$50 juta per tahun, meningkatkan porsi energi terbarukan hingga sekitar 30 persen dari bauran listrik nasional, mengurangi emisi sekitar 2,5 juta ton karbon dioksida (CO₂), serta mengurangi ketergantungan Timor-Leste terhadap impor bahan bakar minyak hingga sekitar satu miliar liter sepanjang umur proyek.
Selain itu, proyek ini diharapkan menciptakan lapangan kerja, menjaga stabilitas harga listrik selama 25 tahun, memperkuat ketahanan energi nasional, dan mendorong investasi baru di sektor energi bersih.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




