Top

WHO catat 1.300 kematian terkait gelombang panas ekstrem di Eropa

Heatwave di Paris, Prancis. Foto REUTERS/Tom Nicholson.

DILI, 30 Juni 2026 (TATOLI)–Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.300 kematian terkait gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak 21 Juni 2026. Fenomena cuaca ekstrem tersebut juga telah memengaruhi lebih dari 150 juta orang di seluruh benua itu.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, melalui unggahannya di platform X pada 28 Juni menyatakan bahwa suhu panas ekstrem telah menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat di berbagai negara Eropa.

Sementara itu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) melaporkan gelombang panas luar biasa tersebut telah memecahkan rekor suhu di sejumlah negara dan berdampak luas terhadap kesehatan manusia, ekosistem, sektor pertanian, infrastruktur, serta produktivitas tenaga kerja. Kondisi tersebut juga disertai badai lokal, kekeringan yang semakin parah, dan meningkatnya risiko kebakaran hutan di beberapa wilayah.

Kepala Informasi Iklim WMO, John Kennedy, mengatakan gelombang panas yang terjadi saat ini merupakan dampak yang telah diperkirakan akibat perubahan iklim.

“Gelombang panas seperti ini adalah kondisi yang diperkirakan akan terjadi di tengah perubahan iklim. Dalam 50 tahun sejak gelombang panas bersejarah pada 1976, Eropa telah mengalami kenaikan suhu rata-rata sekitar dua derajat Celsius dan menjadi benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia,” ujar John Kennedy dalam laman resmi WMO.

Menurut WMO, gelombang panas yang bermula dari Semenanjung Iberia diperkirakan meluas ke sebagian besar wilayah Eropa Barat, Eropa Tengah, Eropa Selatan hingga kawasan Balkan.

Sejumlah negara mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah maupun rekor baru untuk bulan Juni. Di Jerman, kota Coschen mencatat suhu 41,7 derajat Celsius pada 28 Juni, sementara 252 stasiun cuaca melaporkan suhu tertinggi sepanjang masa. Suhu malam hari di wilayah Saxony Timur juga mencapai 29,4 derajat Celsius sehingga Badan Meteorologi Jerman (DWD) menyebut fenomena tersebut sebagai gelombang panas yang “bersejarah”.

Rekor serupa juga terjadi di Hungaria yang mencatat suhu 40,7 derajat Celsius, Polandia sekitar 40,5 derajat Celsius, Austria mencapai 40 derajat Celsius di Wina, serta Britania Raya yang mengalami tiga hari berturut-turut dengan rekor suhu tertinggi bulan Juni. Belanda, Denmark, Swiss, Prancis, dan Spanyol juga melaporkan suhu ekstrem yang melampaui rekor sebelumnya.

Di Prancis, suhu mencapai 43,8 derajat Celsius di kota Pulluau, sementara pemerintah mengeluarkan peringatan merah di 58 departemen akibat tingginya risiko kebakaran hutan. Sedikitnya 40 orang dilaporkan meninggal akibat insiden tenggelam yang berkaitan dengan cuaca panas ekstrem. Di Spanyol, kota Bilbao mencatat suhu 42,7 derajat Celsius, tertinggi yang pernah tercatat pada bulan Juni.

WMO menjelaskan bahwa panas ekstrem sering dijuluki sebagai “pembunuh senyap” karena banyak kasus kematian tidak dilaporkan secara langsung sebagai dampak suhu tinggi. Berdasarkan estimasi, sekitar 489.000 orang meninggal setiap tahun akibat panas antara 2000 hingga 2019.

Risiko kesehatan meningkat ketika suhu tetap tinggi pada malam hari sehingga tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan diri dari paparan panas sepanjang siang. Lansia, anak-anak, ibu hamil, pekerja luar ruangan, serta penderita penyakit kronis menjadi kelompok yang paling rentan.

Menanggapi kondisi tersebut, WMO bersama WHO terus memperkuat sistem peringatan dini, rencana aksi kesehatan, dan koordinasi internasional melalui inisiatif Early Warnings for All. Kedua lembaga juga mengembangkan sistem peringatan dini gelombang panas untuk membantu pemerintah, otoritas kesehatan, dan masyarakat mempersiapkan diri serta mengurangi dampak cuaca ekstrem yang diperkirakan akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Reporter : Cidalia Fátima

Editór       : Cancio Ximenes

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!