iklan

KESEHATAN, OPINI

Tinjauan program pencegahan stunting di Timor-Leste : Dari strategi ke eksekusi

Tinjauan program pencegahan stunting di Timor-Leste : Dari strategi ke eksekusi

Cipriano do Rosario Pacheco

      “Sebuah  tinjauan strategis dan peta jalan untuk implementasi”

 Penulis: Cipriano do Rosario Pacheco

  1. Latar belakang

Masalah gizi stunting atau Balita pendek merupakan salah satu masalah yang krusiál, khususnya di megara-negara berkembang. Stunting sendiri merupakan bentuk kegagalan tumbuh kembang anak yang menyebablan gangguan pertumbuhan linear Balita akibat dari akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama, mulai dari masa kehamilan sampai usia 24 bulan.

Kekurangan gizi pada anak usia dini akan menghambat pertumbuhan, dapat menyebabkan kefatalan total. Pada Balita yang mengalami masalah gizi stunting memiliki risiko terjadinya kemampuan intelektual, produktivitas dan kemungkinan risiko mengalami penyakit degeneratif pada masa depan anak. Timor-Leste menghadapi salah satu tingkat stunting tertinggi di dunia, sebuah masalah kesehatan masyarakat kronis yang secara signifikan menghambat pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan produktivitas nasional di masa depan. Program pemerintah dalam pencegahan stunting pada Periode tahun 2020–2025 ditandai sebagai fase penting transisi tata kelola, di mana Pemerintah Timor-Leste (GoTL) berupaya mengatasi fragmentasi sektoral sebelumnya melalui pembentukan unit koordinasi sentral dan perumusan rencana aksi multisectoral yang komprehensif.

Pada tahun 2000 angka stunting secara global mencapai 32,6%, bila dibandingkan dengan angka stunting pada tahun 2017, diperoleh sekitar 150,8 juta atau 22,2% balita di seluruh dunia yang mnegalami stunting. Dari angka tersebut di perkirakan separuh Balita di seluruh duni yang mengalami stunting yaitu 55% dengan jumlah 83,6 juta Balita yang mengalami stunting berasal dari Asia, dan diatas sepertiganya dari Afrika dengan tingkat kejadian sebesar 39% . Pada tahun 2022 Prevalensi stunting telah mencapai 22,3%. Angka ini tergolong masih tinggi berada di antara 20-30%. Trend global stunting pada tahun 2025 merupakan tantangan yang signifikan, dengan kemajuan yang ada saat ini masih jauh dari target Wolrd Health Assembly  (majelis Kesehatan Dunia) 2025.

Proyeksi memperkirakan 125 juta anak Balita mengalami stunting pada tahun 2025, data terbaru menunjukkan 150,2 juta anak Balita terdampak stunting pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 26% dari tahun 2010, dengan target 40%. Target 2025 telah diperpanjang hingga tahun 2030. Bila ditinjau dari aspek pembangunan tarap internasional, secara global pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SD) telah menetapkan masalah gizi merupakan salah satu agensa esensial dalam Pembangunan pada SDG 2(“Zero Hunger”).

Secara khusus menetapkan untuk menurunkan angka malnutrisi pada tahun 2030 ini termasuk isu stunting, Aasting dan Underweight serta masalah mikronutrient. Data dari berbagai organisasi internasional, seperti World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF), menunjukkan bahwa Timor-Leste masih mengalami tingkat malnutrisi yang tinggi, termasuk stunting, wasting, dan defisiensi mikronutrien. Berdasarkan laporan Global Nutrition Report (2022), dan (Hasil survei Food and Nutriton Survei/TLFN) tahun 2020 tercatat 477,1 % anak di bawah lima tahun yang mengalami stunting.

Angka ini menunjukan bahwa Timor-Leste merupakan salah satu negara dengan tingkat stunting tertinggi bila dibandingkan dengan negara lainnya baik di Asia bahkan di dunia. Penyebab utamanya meliputi kurangnya literasi gizi masyarakat, akses terbatas ke layanan kesehatan primer, koordinasi antar-sektor yang lemah, serta ketergantungan pada bantuan luar negeri.

Pemerintah dan mitra pembangunan sedang berupaya menanganinya melalui berbagai kebijakan dan program intervensi, dengan target menurunkan stunting hingga 25% pada tahun 2030 Secara global kebijakan dalam mengatasi masalah penurunan kejadian stunting di haruskan untuk fokus pada pedoman jendela 1000 hari pertama kelahiran yang dibebut juga dengan SUN (Scaling up Nutrition) dimulia dari 0-24 bulan.

WHO (world Health Organization) merekomendasikan 3,9% penurunan stunting pertahun untuk memenuhi target penurunan stunting pada tahun 2025 sebesar 40%. Dimana intervensi yang di lakukan harus melibatkan berbagai sektor terkait baik setor kesehatan mapun non kesehatan yang berkontribusi baik itu pemerintah, swasta, dan kelompok Masyarakat, yang dilakukan melalui Tindakan kolektif dalam meningkatkan perbaikan gizi mellaui intervensi baik spesifik (jangka pendek) maunpun intervensi sensetif (Jangka Panjang).

  1. Sintesis strategis dan tinjauan eksekutif

Timor-leste menghadapi salah satu Tingkat stunting tertinggi di dunia, sebuah masalah Kesehatan Masyarakat kronis yang secara significant menghambat pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan productivitas nasional di masa depan. Periode tahun 2020-2025 ditandai sebagai fase penting transisi pada tata kelola, di mana pemerintah Timor-Leste (GoTL) berupaya mengtatasi fragmemntasi sektoral sebelumnya melalui pembentukan unit koordinasi sentral dan perumusan rencana aksi multisectoral yang komprehensif.

2.1. Temuan Inti : Kemajuan, Pergeseran Kebijakan, dan Hambatan Sistemik (Periode implementasi program 2020–2025) Tinjauan sistimatik terhadap kebijakan, dokumen program, dan artikel ilmiah yang relevan selama periode 2020 hingga 2025 mengungkapkan pergeseran struktural yang mendalam dalam respons pemerintah, namun juga terdapat hal-hal yang mnyeroti tentang kegagalan persisten dalam sistim transaksi atau pengriman layanan dan logistik yang memghambat dampak intervensi program yang dilaksanakan oleh pemerintah . dalam konteks ini dapat dicermati dari empat hal pokok, yaitu:

(i). Pergeseran Tata Kelola Kebijakan: Periode tinjauan ini memuncak pada transisi kelembagaan yang krusial, ditandai dengan pembentukan Unit Misi Untuk Memerangi Stunting (UNMIC) atau Mission Unit to End Stunting (UNMIC) yang di establish pada tahun 2023. UNMIC berperang sebagai badan untuk pusat yang berwewenang, didirikan melalui keputusan Udang-undang No. 91/2022. Perubahan ini diikuti dengan artikulasi Rencana Aksi Multisectoral Nasional untuk Memerangi Stunting (2024-2030). Perubahan ini secara eksplisit mengatasi kelemahan historis berupa implementasi sektoral vertikal dan tidak terkordinasi.

(ii). Tantangan Siklus Akhir: Meskipun kebijakan baru transformatif, implementasi kerangka kerja terkotdinasi (UNMICS/PANKOS) hanya terjadi pada dua tahun terkahir periode tahun 2020-2025. Hali ini sebgaian besar disebabkan oleh keterlambatan kelembagaan dan dampak guncangan ekonomi parah yang dialami negara ini termasuk kontraksi PDB (product Domestik Bruto) sebesar 8,6% pada tahun 2020 akibat pandemi COVID-19. Hal ini yang mengakibatkan efektivitas yang terstruktur dari arsitekstur kebijakan yang baru sangat bergantung pada keberhasilan peluncuran dan eksekusi PANKOS pada tahun 2024-2025 terkahir ini.

(iii). Kegagalan Pengiriman yang Persisten: evaluasi programatik, termasuk tinjauan terhadap program seperti: Ai-han Superserial dan Bolza da Māe secara konsisten menunjukan kendala parah dalam dimensi “Input” dan “Proses”. Masalah utama meliputi ketidakcukupan logistic, sumber daya manusia (SDM) yang terbatas, dan sistem Administrasi yang tidak memadai, terutama di daerah pedesaan yang terpencil.

(iv). WASH sebagai kendala Mendasar: Tinjauan menguatkan bahwa meskipun Upaya perubahan perilaku, seperti peningkatan pemberian Air Susu Ibu eksklusif (ASI Eksklusif) dari 50% (2026) menjadi 64% (2020) ini telah mencapai Tingkat keberhasilan, kemajuan ini tertahan oleh kesenjangan infrastruktur mendasar. Bukti yang paling memberatkan Adalah kurangnya akses air yang terdapat pada pos Kesehatan (Health Post) di pedesaan sebesar 50%, yang secara mendasar merusak efektivitas intervensi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan pencegahan penyakit.

2.2. Imperatif strategis

          (i) Rekomendasi Prioritas Tinggi Rekomendasi: Strategis berikut berfokus pada pengoptimalan kapasitas pengiriman dan penargetan finansial yang diperlukan untuk menjamin implementasi PANKOS (2024–2030) yang berhasil. Prioritas Ketahanan Logistik dan Pengiriman: UNMICS harus segera mengalihkan fokus dari perumusan kebijakan tingkat tinggi ke penyelesaian masalah operasional yang terperinci. Hal ini memerlukan pengamanan mekanisme transportasi dan distribusi yang andal untuk pasokan penting (makanan fortifikasi, suplemen zat besi-folat) dan memastikan kehadiran SDM yang konsisten di wilayah terpencil.

(ii). Konvergensi Infrastruktur Wajib: Diperlukan arahan bersama antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pekerjaan Umum untuk membiayai dan menyediakan infrastruktur Air, Sanitasi, dan Kebersihan (WASH) dasar di semua pos kesehatan pedesaan. Penyediaan ini harus dianggap sebagai prasyarat bagi efektivitas layanan dan pesan KIA.

(iii). Penargetan Perlindungan Sosial yang Diperhalus: Sumber daya harus difokuskan pada pembangunan cepat sistem administrasi yang diperlukan untuk mengubah program Bolsa da Mãe menjadi program Transfer Tunai Bersyarat (CCT) yang andal. Program ini harus secara ketat menargetkan wanita hamil dan bayi dalam periode penting 1.000 hari pertama kehidupan.

2.3. Epidemiologi kontekstual dan tantangan mendasar

Pada bagian ini menetapkan Tingkat keparahan, skala, dan sifat spesifik krisis stunting di Timor-Leste dalam konteks regional dan global. Padaa bagian ini beban Stunting yang Persisten dan Status Global Outlier Prevalensi stunting di Timor-Leste berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Laporan menunjukkan bahwa prevalensi stunting pada anak di bawah 5 tahun berkisar antara 47.1% . Angka ini menempatkan Timor-Leste sebagai salah satu negara dengan tingkat stunting tertinggi di dunia. Selain masalah kronis ini, prevalensi wasting (malnutrisi akut) adalah 11% yang melebihi ambang batas darurat, menunjukkan bahwa sistem gagal melindungi anak-anak dari krisis gizi akut maupun kronis.

Faktor yang memperburuk situasi ini adalah status Timor-Leste sebagai outlier (penyimpangan signifikan) secara global. Negara ini memiliki prevalensi stunting tertinggi ketiga di dunia, dan angka tersebut dianggap “signifikan relatif terhadap tingkat pembangunan ekonomi” negara . Hal ini menunjukkan bahwa krisis stunting tidak hanya disebabkan oleh kelangkaan sumber daya nasional absolut, tetapi didorong oleh masalah mendalam terkait kesetaraan, kualitas layanan, konvergensi sumber daya yang tidak efektif, dan tata kelola.

Pengamatan ini menggarisbawahi mengapa pergeseran kebijakan menuju koordinasi dan penargetan yang dipimpin oleh UNMICS dan PANKOS adalah pendekatan yang paling relevan. Penting untuk dicatat bahwa meskipun terdapat komitmen yang kuat terhadap rekonsiliasi dan pembangunan manusia sejak kemerdekaan pada tahun 2002, Timor-Leste tetap menjadi negara kurang berkembang dengan tingkat kemiskinan multidimensi sebesar 45,8% tertinggi di Asia Tenggara. Kerentanan ekonomi ini dipertajam oleh kontraksi PDB (Produc domestik Bruto) sebesar 8,6% pada tahun 2020, yang merupakan penurunan terbesar sejak kemerdekaan, secara langsung membatasi kapasitas pemerintah untuk meluncurkan dan mendanai strategi gizi komprehensif yang baru.

2.4. Determinan Sosial Ekonomi, lingkungan, dan Kesehatan yang Mendasari Perjuangan melawan Stunting di perumit oleh hambatan Infrastruktur dan Kemiskinan yang mendasar.

(i). Kemiskinan dan Defisit Pangan: Timor-Leste merupakan negara defisit pangan, mengimpor 60% kebutuhan pangannya. Meskipun makanan pokok umumnya terjangkau, diet yang memenuhi persyaratan nutrisi penuh tidak terjangkau oleh sebagian besar rumah tangga. Mayoritas keluarga pedesaan, yang mencapai 70% dari populasi, mengandalkan pertanian subsistem, membatasi keragaman diet yang krusial selama periode 1.000 hari pertama kehidupan.

(ii). Lingkungan WASH dan Kesehatan: Kebersihan yang buruk dan kurangnya kesadaran berkontribusi terhadap penyakit anak. Namun, masalah infrastruktur mendasar jauh lebih parah: 50% pos kesehatan pedesaan dilaporkan tidak memiliki akses air. Kekurangan kelembagaan ini secara fundamental melemahkan pesan promosi kesehatan dan membatasi kualitas perawatan, menciptakan umpan balik terus-menerus antara penyakit (diare/infeksi) dan malnutrisi. Peningkatan tingkat ASI Eksklusif (64%) menunjukkan bahwa komunikasi perilaku berhasil, tetapi anak yang mendapat gizi baik namun terpapar lingkungan sanitasi yang buruk dan dirawat di fasilitas tanpa air akan tetap menderita infeksi berulang, yang menyebabkan malabsorpsi nutrisi dan stunting. Oleh karena itu, upaya perubahan perilaku telah mencapai plafonnya dan harus dipaketakan dengan perbaikan infrastruktur WASH skala besar yang mendesak.

(iii). Hambatan Kesehatan Ibu: Separuh dari wanita Timor-Leste tidak melahirkan di fasilitas kesehatan. Tingkat kematian ibu yang tinggi dan kurangnya pemanfaatan layanan kesehatan, khususnya di daerah pedesaan karena maldistribusi tenaga kerja , mengkompromikan hasil selama kehamilan dan masa bayi awal.

III.        Kerangka kebijakan dan tata kelola (2020–2025)

Bagian ini merinci respons kelembagaan dan strategis yang dirumuskan oleh GoTL untuk mengatasi kesenjangan tata kelola yang teridentifikasi pada tahun-tahun sebelumnya.

3.1. Institusionalisasi aksi

Pendirian dan Mandat Unit Misi untuk Memerangi Stunting (UNMICS), yang diluncurkan pada 10 Maret 2023, mewakili mekanisme kelembagaan formal GoTL untuk mengatasi defisit koordinasi historis. UNMICS didirikan berdasarkan Keputusan-Undang-undang No. 91/2022, 22 Desember.

Mandat UNMICS sangat luas dan berada di tingkat tinggi, mencakup penyusunan rencana nasional (PANKOS), implementasi tindakan yang terkandung di dalamnya, penyebaran informasi dan pencerahan kepada masyarakat tentang penyebab dan konsekuensi stunting, mobilisasi masyarakat untuk mengadopsi perilaku preventif, dan dukungan aktivitas mitigasi. UNMICS bertanggung jawab untuk mengkordinasikan semua sumber daya yang ada di Timor-Leste, baik di tingkat institusi pemerintah, badan PBB, Mitra Pembangunan, sektor swasta, dan masyarakat sipil, yang terkait dengan gizi dan ketahanan pangan. Komitmen Timor-Leste terhadap gerakan global juga diperkuat, dengan konfirmasi sebagai anggota Gerakan Scaling Up Nutrition (SUN) dan validasi komitmen nasional terhadap inisiatif internasional Nutrition for Growth (N4G) pada Februari 2025. Keterlibatan ini menunjukkan keselarasan dengan praktik terbaik global untuk aksi multisectoral dan akuntabilitas.

3.2. Respons Strategis Nasional: PANKOS 2024–2030 Rencana Aksi Gizi Multisectoral Nasional untuk Memerangi Stunting, diaman berfungsi sebagai peta jalan kebijakan sentral GoTL. Dikembangkan di bawah kepemimpinan UNMICS dengan bantuan teknis dari mitra seperti UNICEF, PANKOS bertujuan untuk memastikan pendekatan yang komprehensif dan partisipatif, melibatkan perwakilan dari berbagai Kementerian dan Mitra Pembangunan. Tingkat konvergensi politik yang diperlukan untuk rencana tersebut ditunjukkan dalam sesi ministerial pada Juli 2024, di mana Wakil Perdana Menteri dan Menteri Koordinator Urusan Sosial dan Menteri Koordinator Urusan Ekonomi membahas dan menyetujui PANKOS.

Sesi tersebut melibatkan menteri Kesehatan, Solidaritas Sosial, Perdagangan dan Industri, Kehakiman, dan Perencanaan. Keterlibatan multisectoral tingkat tinggi ini mengonfirmasi pengakuan politik bahwa pencegahan stunting melampaui mandat tradisional kesehatan dan pertanian. PANKOS menyelaraskan tujuannya dengan Rencana Strategis Pembangunan Nasional (SDP 2011-2030) dan Rencana Aksi Nasional untuk Mengakhiri Kelaparan (PANHAMTIL).

Strategi ini menekankan pendekatan terpadu termasuk peningkatan keragaman diet, penguatan ketahanan iklim, dan peningkatan perlindungan sosial. Penting untuk dicatat bahwa meskipun GoTL mencapai institusionalisasi yang signifikan pada tahun 2023 (UNMICS) dan 2024 (PANKOS), arsitektur kebijakan ini hanya efektif pada akhir periode tinjauan 2020–2025. Dengan demikian, prestasi utama periode ini adalah penciptaan prasyarat struktural untuk keberhasilan di masa depan, bukan dampak populasi yang terukur dari kebijakan baru itu sendiri. Keberlanjutan inisiatif ini akan bergantung pada kemampuan GoTL untuk memanfaatkan dukungan teknis dan finansial dari mitra (seperti WFP dan UNICEF) untuk membangun sistem administrasi domestik yang tahan lama, sehingga menghindari ketergantungan siklus yang terlihat dalam proyek-proyek multisectoral sebelumnya.

  • Evalluasi intervensi programatik prioritas tinggi

Pada bagian ini akan menyajikan evaluasi yang serius terhadap tiga intervensi inti yang aktif selama periode 2020-2025.Analisis menggunakan kerangka kerja evaluasi program untuk membedakan antara relevansi kebijakan, kapasitas input, fidelitas proses, dan hasil produk akhir.

4.1. Pemberian makanan tambahan tertarget

Program Ai-Han Supersereal, yang diimplementasikan sejak tahun 2004, merupakan intervensi nutrisi langsung yang fundamental, menyediakan makanan tambahan yang difortifikasi untuk kelompok berisiko tinggi (wanita hamil dan menyusui). Relevansinya tetap tinggi mengingat tingkat malnutrisi dan anemia yang terus tinggi pada kelompok ini. Sebuah studi evaluasi ilmiah (publikasi 2025) yang menggunakan data dari Covalima (di mana prevalensi stunting mencapai 49%) menyimpulkan bahwa program ini secara kontekstual relevan dan, ketika berhasil, mampu meningkatkan pengetahuan gizi ibu dan berkontribusi pada hasil gizi yang lebih baik.

Namun, studi yang sama secara eksplisit menunjukkan bahwa program tersebut sangat dibatasi oleh kegagalan implementasi di dimensi input dan proses. Hambatan utama meliputi: sumber daya manusia yang terbatas, fasilitas transportasi yang tidak memadai, jadwal distribusi yang tidak teratur, dan edukasi gizi pendamping yang tidak mencukupi. Kegagalan proses ini menunjukkan paradoks di mana intervensi memiliki efikasi yang tinggi (bekerja saat disampaikan) tetapi efisiensi yang rendah (gagal menjangkau semua penerima secara konsisten karena kegagalan logistik).

Kegagalan untuk memastikan distribusi yang andal dalam jendela 1.000 hari yang penting sangat mengkompromikan potensi dampak Ai-Han. Studi tersebut menyimpulkan bahwa penguatan manajemen distribusi adalah keharusan mutlak untuk efektivitas jangka panjang.

4.2. Perlindungan sosial

Program Bolsa da Mãe Program Bolsa da Mãe (Tunjangan Ibu) adalah mekanisme perlindungan sosial pemerintah yang memiliki potensi strategis besar untuk diubah menjadi program transfer tunai yang sensitif gizi. Bukti dari Bank Dunia (2024) menekankan pentingnya mekanisme dukungan yang berfokus pada gizi, khususnya program bantuan tunai, untuk secara efektif menargetkan dan mendukung wanita hamil dan anak kecil selama 1.000 hari pertama kehidupan. Kendala Kapasitas Administratif Meskipun potensi kebijakannya diakui, pada periode 2020–2024, analisis menunjukkan bahwa program Bolsa da Mãe “saat ini tidak memiliki kapasitas, sistem administrasi, atau ruang fiskal yang memadai untuk meningkatkan penyediaan cakupan yang andal”.

Program ini secara historis tidak ditargetkan secara memadai untuk meningkatkan gizi. Rencana GoTL di masa depan telah mengidentifikasi perlunya menargetkan Bolsa da Mãe secara lebih spesifik kepada keluarga dengan anak di bawah lima tahun. Rekomendasi tindakan menekankan perlunya memperkuat program untuk mencakup transfer tunai langsung dan mengintegrasikan pendidikan kesehatan dan gizi untuk memberdayakan ibu dan remaja putri. Peningkatan strategis ini diperkuat oleh perjanjian kemitraan GoTL dengan Program Pangan Dunia (WFP) pada akhir tahun 2025 untuk memperkuat sistem perlindungan sosial demi gizi ibu dan anak.

Kendala utama Bolsa da Mãe bukanlah kesadaran kebijakan, tetapi kelemahan administrasi yang serupa dengan yang dihadapi oleh Ai-Han Supersereal. Kegagalan administratif dan logistik ini menunjukkan adanya isu struktural sistemik yang luas dalam kapasitas pengiriman GoTL di seluruh sektor (Kesehatan dan Perlindungan Sosial). Untuk menghasilkan dampak stunting, Bolsa da Mãe tidak hanya harus memberikan uang, tetapi harus terintegrasi dengan langkah-langkah pendamping yang mendorong pemanfaatan layanan KIA dan pendidikan gizi.

4.3. Promosi kesehatan dan strategi perubahan perilaku

Upaya promosi kesehatan dan perubahan perilaku yang dilakukan oleh GoTL dan mitranya telah menunjukkan keberhasilan parsial yang signifikan. Tingkat pemberian ASI Eksklusif (EBF) pada bayi usia 0-5 bulan meningkat dari 50% pada tahun 2016 menjadi 64% pada tahun 2020. Tingkat EBF ini bahkan lebih tinggi di daerah pedesaan (71%) dibandingkan daerah perkotaan (61%) dan di kalangan wanita berpendapatan rendah (72%) , yang menunjukkan penetrasi pesan yang efektif di antara kelompok yang paling rentan.

  1. Konvergensi multisectoral dan hambatan sistem pengiriman

PANKOS dirancang untuk mendorong konvergensi, namun tinjauan ini menunjukkan bahwa Timor-Leste masih berjuang untuk menjembatani kesenjangan antara perencanaan multisectoral dan eksekusi multisectoral.

5.1. Menilai konvergensi multisectoral dalam praktik

Periode 2020–2025 merupakan puncak transisi dari program-program multisectoral sebelumnya yang terpisah (seperti TOMAK 2016–2020 dan Hamutuk 2016–2019) menuju arsitektur PANKOS yang dimiliki pemerintah. Meskipun PANKOS mencakup sektor-sektor non-kesehatan yang vital (Pendidikan, Perlindungan Sosial, Pertanian) pengamatan sebelumnya mencatat bahwa sektor-sektor ini cenderung tetap vertikal dalam pelaksanaan. Tantangan mendasar bagi implementasi PANKOS pada tahun 2024–2025 adalah memastikan bahwa anggaran sektoral dan mekanisme pengiriman benar-benar menyelaraskan diri untuk mencapai penerima manfaat yang sama—khususnya kelompok 1.000 hari—pada waktu yang tepat. Tanpa konvergensi yang terkoordinasi secara ketat, intervensi dapat mencapai keberhasilan di sektor masing-masing (misalnya, meningkatkan kehadiran di sekolah, meningkatkan daya beli) tetapi gagal menghasilkan dampak kumulatif yang diperlukan untuk mencegah stunting.

5.2. Keterkaitan dengan sektor-sektor sensitif gizi kunci

(i). Sektor Pendidikan, Program Makanan Sekolah (SFPs) telah diakui relevansinya dalam mengatasi ketidaksetaraan pendidikan dan meningkatkan motivasi serta kehadiran siswa. WFP mendukung peningkatan infrastruktur, seperti pembangunan dapur sekolah dan fortifikasi beras pada tahun 2025. Namun, program ini menunjukkan ketidaksesuaian penargetan yang kritis dalam konteks pencegahan stunting. SFPs “tidak ditargetkan dengan baik untuk memiliki dampak pada stunting” karena mereka umumnya menargetkan anak usia sekolah, yang telah melewati jendela kritis pencegahan 1.000 hari (0–2 tahun). Ketidaksesuaian ini mewakili ketidakefisienan yang signifikan dalam pengerahan sumber daya yang langka relatif terhadap tujuan pencegahan stunting.

(ii). Kesiapan Sistem Kesehatan (WASH dan Sumber Daya Manusia) Kesiapan sistem kesehatan sangat terhambat oleh masalah infrastruktur dan SDM. Maldistribusi tenaga kerja kesehatan yang kronis menyebabkan konsentrasi personel di daerah perkotaan, membatasi akses ke layanan di daerah pedesaan. Hambatan ini diperburuk oleh masalah WASH: 50% pos kesehatan pedesaan tidak memiliki akses ke air. Institusi ini secara langsung membatasi kemampuan tenaga kesehatan untuk menjalankan praktik kebersihan dasar dan menyalurkan pesan kesehatan yang efektif. Peningkatan model pekerja kesehatan komunitas (CHW) dapat menjadi solusi untuk meningkatkan jangkauan di daerah pedesaan yang terisolasi.

(iii). Pertanian dan Gizi , GoTL berkomitmen untuk meningkatkan keragaman diet dan ketahanan terhadap iklim. Namun, sektor pertanian sangat rentan terhadap risiko bencana dan perubahan iklim. Agar konvergensi sektor pertanian sensitif gizi berhasil, intervensi harus memastikan bahwa peningkatan produksi pertanian menghasilkan peningkatan konsumsi rumah tangga akan makanan yang terdiversifikasi dan kaya nutrisi, alih-alih hanya berfokus pada peningkatan produksi komoditas ekspor.

5.3. Kelemahan Sistem Pengiriman dan Mobilisasi Finansial

Tinjauan ini mengidentifikasi kelemahan sistemik yang mendasari kegagalan programatik di seluruh sektor, dari logistik pendistribusian Ai-Han superserial hingga kelemahan administrasi Bolsa da Mãe dan kurangnya infrastruktur dasar di pos kesehatan.

Kelemahan operasional yang berulang ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar adalah kemampuan pemerintah untuk mempertahankan rantai pengiriman yang memiliki fidelitas tinggi di daerah pedesaan. Dari perspektif finansial, Bank Dunia memperkirakan bahwa investasi tambahan sebesar $55 juta diperlukan selama periode 2023–2030 untuk mencapai target pengurangan malnutrisi. Kebutuhan fiskal yang besar ini menekankan pentingnya efisiensi alokasi sumber daya. UNMICS harus secara strategis memprioritaskan pendanaan menjauh dari program yang memiliki dampak pencegahan stunting rendah (misalnya, SFP yang tidak bertarget) menuju intervensi yang secara eksklusif berfokus pada 1.000 hari pertama kehidupan, seperti transfer tunai yang ditargetkan dan peningkatan infrastruktur WASH.

  1. Kesimpulan dan rekomendasi strategis

6.1. Kesimpulan 

Tinjauan periode 2020-2025 menunnukan bahwa Timor-Leste telah emncapai kematangan kelembagaan dan kebijakan yang diperliukan (UNMICS dan PANKOS) untuk secara efektif menghadapi krisis stunting. Namun, keberhasilan dalam perumusan kebijakan ini harus diwarnai oleh kesenjangan tata kelola dan terkenan fiskal terkait guncangan ekonomi 2020.

Kemajuan secara keseluruhan terhambat secara kritis oleh kegagalan yang meluas dalam rantai pengiriman di seluruh domain fisik, Administrasi, dan infrastruktur. Tantangan mendasar saat beralih ke fase implementasi PANKOS adalah berpindah dari relevansi kebijakan (yang tinggi) ke fidelitas proses (yang rendah) untuk mencapai hasil produk yang diperlukan. Masalah stunting di Timor-Leste bukanlah hanya kegagalan pengetahuan, tetapi juga kegagalan sistem pengiriman yang terkordinasi. Upaya perubahan perilaku berhasil meningkatkan EBF, namubn infrastruktur WASH yang buruk difasilitas pelayanan kesehatan dan ketidakmampuan untuk mendistribusikan input gizi penting secara konsisten membatasi penerjemahan pengetahuan menjadi pertumbuhan yang optimal.

6.2. Rekomendasi yang dapat di tindaklanjuti untuk aplikasi dampak (2025)

Tahap pertama: Ketahanan Sistem Pengiriman (Tindakan Segera) Ketahahan Sistem distribusi (Tindakan segerra)

  1. Untuk Kelompok Logistik UNMICS: UNMICS harus segera berfungsi sebagai komando logistik terpusat untuk input gizi kritis. Ini mencakup investasi cepat dalam armada transportasi khusus, peningkatan pergudangan, dan pelacakan pasokan terstandar untuk mengakhiri distribusi program seperti Ai-Han Supersereal yang tidak teratur.
  2. Untuk Konvergensi Infrastruktur WASH-Kesehatan: Diperlukan alokasi dana PANKOS yang ditargetkan untuk Pekerjaan Umum guna memastikan penyediaan akses air dan sanitasi dasar segera di semua pos kesehatan pedesaan yang kekurangan infrastruktur ini. Konvergensi ini harus dilacak sebagai metrik input yang tidak dapat dinegosiasikan untuk semua aktivitas anti-stunting berbasis kesehatan.

Tahap Kedua: Penargetan Program Strategis dan Penguatan Administrasi (Jangka Menengah)

  1. Perombakan Administratif Bolsa da Mãe: Memanfaatkan sepenuhnya kemitraan WFP untuk membangun sistem administrasi dan M&E yang kuat yang diperlukan untuk transfer tunai yang dapat diandalkan. Pelaksanaan harus secara ketat menegakkan mekanisme penargetan yang berfokus pada wanita hamil dan anak-anak usia 0–24 bulan. Program ini harus dihubungkan dengan kondisionalitas pemanfaatan layanan KIA untuk memastikan kegiatan penciptaan permintaan kesehatan dan gizi
  2. Fidelitas Implementasi Terdesentralisasi: Memberdayakan Komite Eksekutif Kota (MEC) untuk menegakkan konvergensi lokal. Hal ini menjamin bahwa layanan Kesehatan, Perlindungan Sosial (Bolsa da Mãe), dan WASH menjangkau rumah tangga sasaran yang sama (penerima manfaat 1.000 hari) secara simultan, memanfaatkan model kolaboratif lokal yang berhasil diidentifikasi dalam tinjauan ilmiah

References

  1. Global Nutrition Report. (2022). Global nutrition report 2022: The state of global nutrition. https://globalnutritionreport.org/reports/2022-global-nutrition-report/
  2. Timor-Leste Government. (2022). National strategy for nutrition improvement and stunting reduction 2020-2025. Government of Timor-Leste.
  3. United Nations Children’s Fund [UNICEF]. (2024). Timor-Leste: Nutrition and health situation analysis. https://www.unicef.org/timorleste/nutrition-health
  4. World Health Organization [WHO]. (2024). Nutrition and health in Timor-Leste: A comprehensive report. https://www.who.int/timorleste/publications/nutrition-and-health
  5. Food and Nutrition Surveillance/TLFN. (2020). Food and Nutrition Survey Report 2020, Timor-Leste.
  6. Bank Dunia. (2024). World Bank report on nutrition and health in Timor-Leste

NPM     : 506560842

Afiliasi : Mahasiswa S3 (Program Doktor) Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (UI)

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!