ERMERA, 17 Desember 2025 (TATOLI) – Perdana Menteri, Kay Rala Xanana Gusmão, pada Rabu (17/12/2025), setelah kembali dari perjalanan luar negeri untuk diskusi Perbatasan Maritim di Indonesia, melanjutkan kunjungan ke Nunu-Tali, Ermera, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Veteran Armanda Araújo Arranhado “Hallima” (13/02/1954), yang wafat pada Selasa, 16 Desember 2025.
Sekitar pukul 15.00 waktu setempat, Xanana memasuki rumah duka dengan langkah berat. Matanya berkaca-kaca, dan sorot wajahnya menunjukkan kesedihan yang dalam. Di setiap sudut rumah, ia menatap kenangan seorang perempuan yang selama ini dianggapnya bukan sekadar pejuang, tetapi seperti saudara perempuan sendiri.
Dalam momen yang hening itu, Xanana menyalami suami Mediang, Luis António Salsinha “Airmano Raikutun”, serta anak-anak dan keluarga yang hadir. Suasana sunyi dipenuhi rasa duka, rasa hormat, dan kehangatan kenangan masa lalu.
Hallima dikenal sebagai sosok yang ulung dan tak kenal lelah dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Timor-Leste. Pada tahun 1991, saat masih menjadi Komandan Perjungan Kemerdekaan (FALINTIL), Xanana mendapatkan perlindungan penuh dari Hallima dan suaminya di rumah mereka di Nunu – Tali dari ancaman tentara Indonesia.
Dalam wawancara eksklusif, suami mendiang, Luis António Salsinha, menggambarkan Hallima sebagai perempuan yang selalu hadir dalam setiap urusan keluarga, gereja, dan masyarakat, meski kesehatannya menurun.
“Sejak lama, dia merasa sakit, tapi tidak pernah mengeluh. Dia selalu memikirkan orang lain lebih dulu. Ketika kami menyarankan agar ia berobat ke rumah sakit, dia bilang jangan khawatir dan lebih percaya pada obat tradisional. Itu menunjukkan besarnya tanggung jawab dan kepedulian yang dimilikinya,” kata Luis António dengan suara bergetar.
Xanana terlihat terhanyut oleh kenangan itu. Dalam hatinya, rasa kehilangan Hallima terasa seperti kehilangan saudara perempuan sendiri, sosok yang selama ini menjadi teman perjuangan, penasihat, dan pelindung bagi banyak orang.

Ia berdiri lama di samping jenazah, menundukkan kepala, dan menyalami setiap anggota keluarga dengan hati penuh hormat dan duka.
Dalam keheningan rumah duka, tatapan penuh haru Xanana Gusmão menyiratkan rasa kehilangan mendalam, bukan hanya seorang pejuang bangsa, tetapi saudara perempuan yang selama ini menjadi inspirasi, penopang, dan saksi sejarah perjuangan Timor-Leste.
Luis António mengakui bahwa perjalanan hidup mediang penuh dengan pengabdian sehingga ia tidak merasa sedih atas kematiannya tetapi merasa sedih karena apa yang telah dilakukan, terutama sejak masa pembebasan nasional.
“Saya bersedih bukan karena ia telah meninggal, tapi karena semua yang ia lakukan yang tidak bisa saya lakukan sendiri. Ia adalah perempuan yang mampu berbuat banyak, melindungi pejuang, membimbing anak-anak, dan aktif di gereja. Saya mengagumi hal itu,” katanya.
Ia mengatakan situasi menjadi lebih sulit bagi keluarga karena mendiang meninggal sebelum proses rehabilitasi untuk tempat Abriggo Nunu-Tali yang didukung oleh AMRT (Arsip & Museum Perlawanan Timor) berakhir.
Sebagai pengakuan atas jasa-jasanya, Hallima telah menerima medali kehormatan Negara Timor-Leste sebagai Vetran 8/14, serta penghargaan dari Keuskupan Agung Dili sebagai Katekista dan anggota Leigu Canosiana. Penghargaan itu menegaskan pengabdian dan kontribusinya bagi bangsa dan masyarakat.
Hallima meninggalkan suami dan 10 anak (3 laki-laki dan 7 perempuan), meski satu anak laki-laki telah lebih dahulu meninggal pada 21 Mei 2025. Rencananya, upacara pemakaman akan digelar pada Kamis, 18 Desember 2025, dengan misa di Kapel Humboe pukul 09.30 WTL, sebelum jenazah dimakamkan di Abrigo Nunu Tali (Tempat Persembunyian), di Ermera.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




