iklan

POLITIK, HEADLINE

Misa syukuran HUT Restorasi, PM Xanana serukan reformasi dan aksi nyata pemerintah

Misa syukuran HUT Restorasi, PM Xanana serukan reformasi dan aksi nyata pemerintah

Misa Syukuran dalam rangka memperingati HUT Restorasi Kemerdekaan Timor-Leste ke – 23. Foto GPM

DILI, 19 Mei 2025 (TATOLI)– Dalam rangka memperingati HUT Restorasi Kemerdekaan Timor-Leste ke – 23, Perdana Menteri, Kay Rala Xanana Gusmão menyerukan reformasi dan tindakan nyata dari seluruh lembaga negara guna menjawab penderitaan panjang rakyat dan memperkuat pembangunan nasional.

Seruan itu dikatakan dalam Misa Syukuran yang digelar di Gereja Paroki Imaculada da Conceição, Balide-Dili. Hadir dalam misa ini Xanana Gusmão bersama para anggota Pemerintah, anggota Parlemen Nasional, serta umat Kristiani, dalam suasana penuh hikmat dengan tema nasional tahun ini: “Memperkuat Perdamaian dan Pembangunan.”

PM Xanana menekankan bahwa setelah 23 tahun restorasi kemerdekaan dan 24 tahun sebelumnya diwarnai penderitaan di bawah pendudukan, rakyat Timor-Leste masih menghadapi berbagai tantangan. Ia meminta agar para pejabat publik dan pemegang amanah bertindak dengan kejujuran, integritas, dan hati nurani.

“Rakyat telah lama menderita. Sekarang, lembaga-lembaga negara harus mengembang tanggung jawab dengan sungguh-sungguh untuk membawa pembangunan yang layak diterima rakyat,” ujar Xanana.

Ia juga menyerukan kepada masyarakat untuk terus mendoakan agar lembaga-lembaga negara yang sedang mengalami tantangan internal dapat bangkit dan menegakkan amanat konstitusi.


Perdana Menteri, Kay Rala Xanana Gusmão . Foto GPM

PM Xanana menambahkan pentingnya generasi muda memahami sejarah perjuangan bangsa. Ia menjelaskan bahwa meski kemerdekaan pertama diproklamasikan pada 28 November 1975, invasi Indonesia enam hari kemudian memulai babak baru penjajahan yang hanya berakhir setelah intervensi misi PBB (UNAMET), yang akhirnya memfasilitasi restorasi kemerdekaan pada 20 Mei 2002.

Dalam kesempatan yang sama, umat Kristiani Deonizia Tilman menyampaikan harapan dan keprihatinannya terhadap ketimpangan pembangunan. Ia menyoroti berbagai permasalahan seperti kekurangan guru di sekolah terpencil, minimnya obat-obatan di rumah sakit, ketiadaan ambulans di pedesaan, hingga buruknya infrastruktur jalan dan distribusi listrik.

“Pendidikan di pelosok masih terbengkalai, kesehatan menyedihkan, dan akses air bersih masih jadi masalah, bahkan di Dili. Tapi kami harap pemerintah bisa terus memperbaiki semua ini,” tegasnya.

Meski begitu, Deonizia mengapresiasi program rekrutmen tenaga kerja muda ke Australia dan Korea Selatan yang dinilai bisa meningkatkan ekonomi keluarga di dalam negeri melalui remitansi.

Sementara itu, Romo Juvito Rêgo de Jesus Araújo dalam khotbah misa menekankan bahwa kemerdekaan adalah berkat yang harus dijaga dengan tiga kunci utama: perdamaian, pengampunan, dan kasih.

“Pengampunan harus tulus, bukan karena alasan politik, dan kasih adalah kekuatan yang kita butuhkan untuk membangun bangsa ini bersama, bukan hanya untuk elite, tapi untuk seluruh rakyat Timor-Leste,” katanya.

Romo Juvito juga menyampaikan terima kasih kepada para pemimpin nasional dan mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam bekerja sama dengan pemerintah.

“Kami mohon maaf bila sering kali perkataan dan perilaku kami tidak membantu. Namun mari kita cari cara terbaik untuk bekerja sama, karena kemerdekaan ini hanya akan berarti jika kita semua berjalan di jalan yang benar,” tambahnya.

Usai misa, para pejabat negara, anggota parlemen, dan umat melanjutkan kegiatan ke Pemakaman Santa Cruz, sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan yang telah gugur. 

Reporter : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!