DILI, 08 Mei 2025 (TATOLI)– Produksi ladang Bayu-Undan di lepas pantai Timor-Leste terus menurun, memicu diskusi intensif antara Pemerintah Timor-Leste dan operator proyek, Santos, terkait masa depan fasilitas tersebut.
Menteri Perminyakan dan Sumber Daya Mineral, Francisco da Costa Monteiro, mengonfirmasi bahwa diskusi sedang berlangsung melibatkan Kementerian Perminyakan dan Sumber Daya Mineral (MPRM), Otoritas Nasional Perminyakan (ANP), Timor GAP, serta pihak Santos.
“Memang benar saat ini kami dalam proses diskusi intens antara Santos dan Pemerintah Timor-Leste melalui Kementerian MPRM, ANP, dan Timor GAP. Diskusi ini masih berjalan, dan apabila sudah mencapai tahap akhir yang jelas, akan kami umumkan,” ujar Menteri Francisco pada Tatoli secara eksklusif.
Diketahui sesuai kontrak bagi hasil produksi (Production Sharing Contract/PSC) Bayu-Undan dijadwalkan berakhir pada 30 Juni 2026 atau saat produksi dihentikan, tetapi dengan produks yang terus menurun membuat masa depan proyek menjadi tidak pasti.
Berita terkait : Pemerintah setujui keinginan TIMOR GAP akuisi saham 16% di Bayu-Undan
Menteri Francisco menyebutkan bahwa meski cadangan masih ada, volume produksi tidak lagi optimal. Hal ini karena pasar utama gas Bayu-Undan saat ini hanya Power and Water Corporation (PWC) di Australia, keberlanjutan pasokan gas sangat bergantung pada permintaan dari perusahaan tersebut.
“Jika pasar PWC berhenti menerima gas, produksi terpaksa dihentikan dan kami harus mulai proses penghentian operasi (decommissioning),” jelasnya.
Proyek tersebut telah beroperasi sejak 2004 dan menyumbang lebih dari $25,25 miliar bagi ekonomi Timor-Leste terhitung sampai 31 Maret 2025 sesuai laporan Dana Perminyakan oleh BCTL (Bank Sentral Timor-Leste). Bayu-Undan juga mendukung sekitar 350 lapangan kerja, lebih dari separuhnya merupakan warga Timor-Leste.
Namun, kontribusi pendapatan dari Bayu-Undan terus menurun setiap triwulan. Berikut adalah sebagian rincian pendapatan per triwulan sesuai laporan BCTL :
- Triwulan I – 2025 (Jan–Mar): $6,2 juta
- Triwulan IV – 2024 (Okt–Des): $11,82 juta
- Triwulan III – 2024 (Jul–Sep): $41,28 juta
- Triwulan II – 2024 (Apr–Jun): $67,54 juta
- Triwulan I – 2024 (Jan–Mar): $20,46 juta
- Triwulan IV – 2023 (Okt–Des): $16,33 juta
- Triwulan III – 2023 (Jul-Sep): $57,06 juta
Saat ini, gas dari Bayu-Undan masih disalurkan ke pasar domestik Australia melalui perjanjian penjualan gas dengan PWC. Namun, rendahnya volume pembelian dari pasar tersebut menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan proyek ini dalam jangka pendek.
Berita terkait : CEO Santos Limited dari Australia bertemu Presiden Horta, bahas produksi Bayu-Undan
Sebagai langkah lanjutan, Santos yang memiliki 36,5% saham dan bertindak sebagai operator berencana untuk mengubah fasilitas Bayu-Undan menjadi proyek penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) berskala besar setelah produksi migas berakhir. Inisiatif ini diharapkan dapat menciptakan pendapatan baru dan membuka lapangan kerja bagi warga Timor-Leste.
Selain Santos, mitra proyek lainnya mencakup Timor GAP (16%), SK E&S (21%), INPEX (9,6%), Eni (9,2%), dan Tokyo Timor Sea Resources (7,7%).
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




