Vietnam siap dukung pengembangan pendidikan di Timor-Leste

DILI, 05 November 2026 (TATOLI) – Pemerintah Vietnam menyatakan kesiapan untuk memperkuat kerja sama dengan Timor-Leste di sektor pendidikan, khususnya dalam bidang digitalisasi dan pengajaran bahasa Inggris, sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan bilateral kedua negara.
Komitmen tersebut disampaikan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Vietnam untuk Timor-Leste, Pham Binh Dam, setelah melakukan pertemuan dengan Menteri Pendidikan Timor-Leste, Dulce Soares, di Dili, Kamis ini.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai peluang kerja sama untuk mendukung pengembangan sektor pendidikan, termasuk peningkatan kualitas pembelajaran dan pemanfaatan teknologi digital.
Duta Besar Pham Binh Dam mengapresiasi kemajuan yang telah dicapai Timor-Leste dalam sektor pendidikan selama beberapa dekade terakhir, mengingat negara tersebut baru memulihkan kemerdekaannya pada 2002.
“Saya menilai masih terdapat potensi yang sangat besar untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di Timor-Leste. Vietnam siap bekerja sama dengan Timor-Leste dalam bidang ini sesuai dengan kebutuhan dan prioritas negara, serta bersama mitra pembangunan lainnya,” kata Pham Binh Dam.
Diplomat Vietnam tersebut juga menekankan bahwa hubungan historis antara kedua negara, serta keanggotaan bersama dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), menjadi faktor penting untuk memperluas kerja sama bilateral, khususnya di sektor pendidikan.
Sementara itu, Menteri Pendidikan, Dulce Soares, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari komunikasi antara kementerian pendidikan kedua negara berdasarkan perjanjian kerja sama yang telah terjalin sebelumnya.
Menurutnya, Timor-Leste dan Vietnam tengah membentuk tim bersama untuk mengidentifikasi dan menjajaki peluang kerja sama di berbagai bidang pendidikan.
“Hari ini kami membahas kemungkinan kerja sama dalam bidang digitalisasi dan pengajaran bahasa Inggris, mengingat Kementerian Pendidikan memiliki rencana untuk memperkenalkan mata pelajaran tersebut pada kelas lima dan enam pendidikan dasar,” jelas Dulce Soares.
Menteri Dulce mengatakan bahwa saat ini bahasa Inggris dalam kurikulum nasional mulai diajarkan pada kelas tujuh. Namun, Kementerian Pendidikan sedang mengkaji kemungkinan untuk memperkenalkan mata pelajaran tersebut lebih awal, yakni pada kelas lima dan enam, mulai 2027.
Ia mengungkapkan bahwa Duta Besar Vietnam telah menyatakan ketertarikan untuk mendukung inisiatif tersebut melalui pelaksanaan proyek percontohan di salah satu sekolah yang akan dipilih, sebelum nantinya diperluas ke sekolah-sekolah lainnya.
Meski demikian, Dulce menegaskan bahwa rencana tersebut masih berada pada tahap pembahasan dan persiapan, dengan kemungkinan pelaksanaan pada 2027.
Terkait kesiapan tenaga pengajar, Menteri Pendidikan menjelaskan bahwa penerapan bahasa Inggris pada tingkat pendidikan dasar akan bergantung pada ketersediaan sumber daya manusia, fasilitas pembelajaran, serta pengaturan jam belajar di sekolah.
Menurutnya, pengenalan mata pelajaran baru memerlukan evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum nasional dan kerangka hukum pendidikan yang berlaku, karena dapat membawa perubahan signifikan terhadap sistem pembelajaran.
Oleh karena itu, salah satu alternatif yang sedang dipertimbangkan adalah memperkenalkan pengajaran bahasa Inggris sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah yang telah memiliki kesiapan tenaga pengajar dan fasilitas pendukung.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

