iklan

DILI, KEADILAN, LSM, SOSIAL INKLUSIF

Oktober 2022, CNC pertemukan 30 WNTL di Indonesia dengan keluarga di Timor-Leste

Oktober 2022, CNC pertemukan 30 WNTL di Indonesia dengan keluarga di Timor-Leste

Direktur Eksekutif Pusat Nasional Chega, Institut Publik (CNC, I.P), Hugo Maria Fernandes. Foto TATOLI/Egas Cristóvão

DILI, 18 Agustus 2022 (TATOLI)— Direktur Eksekutif Pusat Nasional Chega, Institut Publik (CNC, I.P),  Hugo Maria Fernandes mengatakan pihaknya melalui  program ‘Reunificação’ pada oktober mendatang akan mempertemukan 30 warga Timor Leste (WNTL) yang ada di Indonesia dengan keluarga di Timor-Leste (TL).

Direktur Hugo Maria Fernandes menjelaskan, sebelumnya sejak 2019 hingga saat ini, CNC telah pertemukan 50 lebih  WNTL yang ada di Indonesia dengan keluarga di TL. Jadi, jika pertemuan pada oktober mendatang dilakukan, maka CNC telah pertemukan 90 WNTL yang ada di Indonesia dengan keluarga di TL.

Dikatakan, dalam program ‘Reunificação’, CNC bekerja sama dengan Asia Justice and Rights (AJAR) di TL.

Berita terkait : Hilang selama penjajahan Indonesia, AJAR: 30 korban butuh dukungan bertemu keluarga di TL

“Program ‘Reunificação’, telah didirikan  sejak  2018. Dimana sejak 2019 kita telah mempertemukan kembali keluarga WNTL  yang hilang sejak periode konflik yang terjadi di TL. Sejak 2019 hingga sekarang  kita telah mempertemukan sekitar 50 lebih warga TL di Indonesia dengan keluarga di TL,” kata Direktur CNC, Hugo Fernandes pada  TATOLI di CNC Balide Dili, rabu.

Dikatakan,  program tersebut sempat dihentikan pada  2021 dan 2022, akibat dampak dari  pandemic COVID-19.

“Program ‘Reunificação’ tersebut merupakan suatu program yang mempertemukan kembali WNTL  yang dulu masih kecil, para  militer membawa ke Indonesia, tinggal disana dan hingga kini tidak ada komunikasi dengan keluarga di TL,” katanya.

Direktur Hugo menambahkan, lebih banyak lagi WNTL yang dibawa   militer ke Indonesia, dan  untuk mempertemukan mereka butuh proses.  Karena, negara Indonesia sangat luas, dan mereka tinggal di tempat yang berbeda. Dan mereka dibawa ke Indonesia sejak konfilik tahun 1975.

“Kita mendaftar disini dengan membagikan formulir kepada keluarga di TL. Dari formular tersebut kita mengirimkan kepada pihak di Indonesia untuk mencari. Karena, merekalah yang mengetahui wilayah tersebut,” paparnya.

Berita terkait : Kedubes Portugal komitmen dukung CNC promosi HAM

Dikatakan, para  WNTL  tersebut saat ini mayoritas telah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI), dan mereka datang hanya untuk bertemu dengan keluarga. Jadi, setelah sepuluh (10) hari, mereka akan pulang kembali ke Indonesia. Itu karena mereka juga telah berkeluarga.

“Hingga kini, hanya satu orang yang ingin merubah identitasnya menjadi WNTL, dan sisanya ingin pulang kembali ke Indonesia,” ujarnya.

Ia mengatakan, kunjungan mereka ditanggung oleh Pemerintah Indonesia dan TL. Namun, ada  beberapa diantaranya yang menanggung sendiri biaya selama di TL.

Reporter : Mirandolina Barros Soares

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!