DILI, 24 Juni 2026 (TATOLI) – Duta Besar Timor-Leste untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Dionísio Babo Soares, mengenang mendiang mantan Presiden Timor-Leste, Francisco Guterres Lú Olo, sebagai sosok pemimpin yang sepanjang hidupnya membela kepentingan nasional dan mengabdikan diri bagi bangsa Timor-Leste.
Pernyataan tersebut disampaikan Dionísio setelah bertemu Presiden Republik, José Ramos-Horta, untuk menyampaikan laporan mengenai berbagai capaian Misi Tetap Timor-Leste di PBB selama satu tahun terakhir.
Menurut Dionísio, kunjungannya ke Timor-Leste awalnya dilakukan karena urusan keluarga. Namun, kesempatan tersebut juga dimanfaatkannya untuk melaporkan perkembangan kerja diplomasi Timor-Leste di tingkat internasional, khususnya di PBB.
“Kami menyampaikan laporan mengenai pekerjaan yang telah dilakukan Misi Tetap Timor-Leste di PBB selama satu tahun terakhir, termasuk berbagai upaya untuk meningkatkan profil Timor-Leste di tingkat internasional,” katanya.
Ia menjelaskan, misi diplomatik Timor-Leste di PBB selama ini berfokus pada tiga prioritas utama, yakni meningkatkan visibilitas negara, memperkuat kredibilitas, dan membangun rasa hormat terhadap Timor-Leste di kalangan negara-negara anggota PBB.
Dionísio menilai berbagai langkah tersebut telah menghasilkan kemajuan yang positif. Selain itu, pihaknya juga membahas persiapan Timor-Leste menjelang High-Level Political Week yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang.
Dalam pertemuan dengan Presiden Ramos-Horta, mereka juga mendiskusikan perkembangan situasi politik internasional, khususnya konflik yang tengah berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, sebagai negara kecil dan anggota PBB, Timor-Leste perlu terus menegaskan posisinya berdasarkan Piagam PBB, konvensi internasional, resolusi-resolusi internasional, serta nilai dan prinsip demokrasi yang menjadi dasar negara.
Di tengah kunjungannya ke tanah air, Dionísio mengaku sangat terpukul saat menerima kabar wafatnya mantan Presiden Lú Olo ketika masih dalam perjalanan menuju Timor-Leste.
“Atas nama keluarga dan Misi Tetap Timor-Leste di New York, kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya.
Ia mengenang Lú Olo sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan bangsa yang menghabiskan 24 tahun dalam perjuangan gerilya demi kemerdekaan Timor-Leste.
Menurut Dionísio, setelah kemerdekaan diraih, Lú Olo tetap menunjukkan dedikasi yang sama melalui berbagai peran kepemimpinan yang diembannya, termasuk sebagai Presiden Republik.
“Ia adalah seorang pemimpin yang rendah hati, jujur, dan sangat teguh memegang nilai-nilai serta prinsip-prinsip masyarakat kita. Ia menghormati hukum dan memahami adanya perbedaan politik, tetapi tetap menunjukkan komitmen yang kuat dalam membela Timor-Leste, tanah airnya, dan kepentingan nasional,” katanya.
Dionísio menambahkan bahwa kepergian Lú Olo merupakan kehilangan besar bagi bangsa Timor-Leste karena negara telah kehilangan seorang pemimpin yang sepanjang hidupnya mengutamakan kepentingan rakyat dan negara.
Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga mendiang, Partai FRETILIN, serta seluruh rakyat Timor-Leste.
“Sebagai mantan Presiden yang sangat mencintai negeri ini, Ia akan selalu dikenang atas pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Semoga Tuhan memberikan tempat yang damai bagi Ia di kerajaan-Nya,” tutup Dionísio.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor: Armandina Moniz




