Usai jelajahi China, Jurnalis ASEAN pulang bawa pengalaman dan persahabatan baru

BEIJING, 29 September 2026 (TATOLI) – Setelah menempuh perjalanan panjang melintasi sejumlah wilayah di China, mengikuti forum, mengunjungi pusat industri dan teknologi hingga menelusuri warisan budaya, para jurnalis dari negara-negara ASEAN mulai kembali ke negara masing-masing dengan membawa pengalaman, pengetahuan dan persahabatan baru yang terjalin selama ASEAN-China Media Workshop.
Sejak Senin (28/09) pagi, sebagian peserta mulai meninggalkan Beijing menuju negara masing-masing setelah menyelesaikan rangkaian terakhir kegiatan. Perpisahan itu sekaligus mengakhiri perjalanan yang tidak hanya membawa para jurnalis mengenal lebih dekat perkembangan China, tetapi juga membuka ruang bagi mereka untuk saling mengenal sebagai sesama pekerja media dari negara-negara Asia Tenggara.
ASEAN Media Workshop diikuti jurnalis dari Timor-Leste, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Laos, Kamboja, Filipina, Vietnam dan Thailand.
Timor-Leste diwakili Agência Noticiosa de Timor-Leste, Instituto Público (TATOLI, I.P.) dan Media Center di Kepresidenan Republik Timor-Leste. Indonesia diwakili Kompas, sementara Malaysia diwakili BERNAMA (Pertubuhan Berita Nasional Malaysia) dan Sin Chew Daily.
Dari Myanmar terdapat Myanmar National Post, Yangon Events News dan Myawaddy Media Center. Laos diwakili Lao National Radio (LNR), Khaosan Pathet Lao (KPL/Lao News Agency) dan Bokeo Provincial Television.

Kamboja mengikutsertakan jurnalis dari The Phnom Penh Post, Khmer Times dan FRESH NEWS, sedangkan Filipina diwakili BusinessMirror, Vietnam oleh Nhân Dân, serta Thailand oleh National Broadcasting Services of Thailand (NBT) dan THE STANDARD.
Aye Myat Tharahi dari Myanmar National Post mengaku perjalanan tersebut meninggalkan kesan emosional baginya karena persahabatan yang terbentuk selama kegiatan.
“Saya sangat senang bisa mengenal kalian. Saya orang yang sangat emosional, mungkin saya akan menangis. Tetapi ini merupakan pertemuan yang luar biasa karena dapat bertemu dengan kalian semua,” kata Aye dalam perbincangan bersama para jurnalis menjelang perpisahan.
Menurutnya, pengalaman selama berada di China tidak hanya memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempelajari budaya dan perkembangan negara tersebut, tetapi juga mengenal lebih dekat jurnalis dari negara-negara ASEAN lainnya.
“Kita tidak hanya belajar tentang budaya dan kemajuan China, tetapi juga mengenal lebih dekat jurnalis-jurnalis ASEAN lainnya. Saya berharap kita bisa bertemu lagi. Jika kalian ingin berkunjung ke Myanmar, kami akan selalu menanti kalian,” ujarnya.
Sebelum perpisahan tersebut, Beijing menjadi perhentian terakhir delegasi setelah sebelumnya menjalani berbagai kegiatan di Guangxi dan Fujian.

Di ibu kota China, pada 24 September delegasi mengunjungi Kementerian Luar Negeri China dan ASEAN-China Centre (ACC). Pada malam harinya, peserta menghadiri 2026 Beijing Chaoyang International Light Festival.
Keesokan harinya, delegasi menyaksikan pertunjukan akrobatik Legend of Chinese Charm (Guo Yun Chuan Qi). Perjalanan kemudian dilanjutkan pada 26 September dengan kunjungan ke Tongzhou Canal Culture Plaza dan partisipasi dalam Beijing International Canal Arts Week.
Pada 27 September, para jurnalis mengunjungi Juyongguan Great Wall, sebelum pada 28 September kembali ke Kementerian Luar Negeri China untuk berdiskusi dengan diplomat senior dari Department of Asian Affairs. Pertemuan tersebut menjadi salah satu agenda terakhir delegasi sekaligus menutup rangkaian kegiatan di China.
Selanjutnya, pada 28 September, Jurnalis Timor-Leste berkesempatan mengunjungi Kedutaan Besar Timor-Leste di China, dan bertemu dengan Duta besar Timor-Leste untuk China, Loro Horta.
Media sebagai jembatan ASEAN-China
Saat menerima delegasi di ASEAN-China Centre pada 24 September, Sekretaris Jenderal ACC, Zhang Lizhong, menjelaskan bahwa hubungan ASEAN-China terus berkembang, tidak hanya dalam perdagangan dan investasi, tetapi juga pendidikan, budaya, pariwisata, media serta bidang-bidang baru seperti ekonomi digital dan pembangunan hijau.

“ACC berperan sebagai jembatan untuk memperluas pertukaran dan kerja sama antara ASEAN dan China, termasuk melalui program pengembangan kapasitas, hubungan antarmasyarakat dan pertukaran media,” jelasnya.
Tahun 2026 juga menandai 35 tahun hubungan dialog ASEAN-China, lima tahun Kemitraan Strategis Komprehensif ASEAN-China serta 15 tahun berdirinya ASEAN-China Centre. ACC merupakan organisasi antarpemerintah yang didirikan bersama oleh negara-negara ASEAN dan China.
Di bidang media, Zhang menilai masih terdapat ruang besar untuk memperkuat pertukaran profesional, pelatihan, berbagi sumber daya serta kerja sama antara media ASEAN dan China.
Pertukaran jurnalis juga menjadi salah satu bidang yang tercantum dalam Plan of Action to Implement the ASEAN-China Comprehensive Strategic Partnership (2026–2030). Dokumen tersebut antara lain mendorong dialog mengenai perkembangan media, pertukaran antara media arus utama ASEAN dan China, kunjungan timbal balik jurnalis serta kerja sama pemberitaan.
Namun, pengalaman dan informasi yang diperoleh selama perjalanan juga berhadapan dengan realitas dan persepsi publik yang berbeda di masing-masing negara ASEAN.
Jurnalis Business Mirror Filipina, Von Zyron Alimorong, mengatakan perjalanan tersebut memberinya kesempatan mempelajari dan melihat berbagai hal baru secara langsung di tiga wilayah yang dikunjungi delegasi.
Dalam diskusi di ACC, ia menjelaskan bahwa media Filipina bekerja dalam lingkungan yang memiliki tantangan tersendiri ketika memberitakan China.
“Masyarakat Filipina tidak serta-merta menganggap setiap informasi mengenai China sebagai propaganda atau memandang China secara antagonistik. Namun, berbagai persoalan, termasuk perselisihan maritim yang sering muncul dalam pemberitaan, ikut membentuk persepsi masyarakat,” ucapnya dalam pertemuan tersebut.

Jurnalis dari negara-negara ASEAN berada di teater di China. Foto Spesial
Kondisi itu, menurut Von, membuat pengalaman positif yang dilihat langsung oleh seorang jurnalis selama berada di China tidak selalu mudah disampaikan kepada masyarakat hanya melalui tulisan.
Ia mencontohkan berbagai bentuk kerja sama dan pertukaran ASEAN-China yang dilihat peserta selama perjalanan sebagai sesuatu yang dapat memberikan perspektif tambahan, tetapi pada saat bersamaan publik Filipina juga menerima pemberitaan mengenai persoalan politik dan maritim.
Karena itu, pandangan tersebut menunjukkan bahwa pertukaran media bukan hanya kesempatan memperkenalkan pencapaian masing-masing pihak, tetapi juga ruang bagi jurnalis untuk berdialog mengenai perbedaan persepsi, tantangan pemberitaan dan realitas yang dihadapi masyarakat di negara masing-masing.
Dari Guangxi hingga Beijing
ASEAN-China Media Workshop membawa para peserta menempuh perjalanan melalui Guangxi, Fujian hingga Beijing.
Di Guangxi, para jurnalis mengikuti dan meliput China-ASEAN Expo (CAEXPO), mengunjungi Qinzhou serta melihat perkembangan konektivitas, industri dan teknologi. Perjalanan kemudian berlanjut ke Fujian, dengan kunjungan ke Ningde, Dehua, Quanzhou, Jinjiang dan Xiamen.

Jurnalis Kantor Berita TATOLI, IP, Cidalia Fatima dan Arminda Fonseca melakukan wawancara dengan Duta Besar Timor-Leste untuk China, Loro Horta disela-sela kunjungan program ASEAN-China Media Workshop yang belangsung di China. Dua jurnalis TATOLI juga ikut dalam program ASEAN-China Media Workshop tersebut. Foto Spesial
Di sepanjang perjalanan tersebut, peserta melihat berbagai sisi pembangunan China, mulai dari transformasi Xiaqi Village, industri baterai energi baru, budidaya perikanan, tradisi porselen Dehua, warisan sejarah Quanzhou hingga pengelolaan perkotaan dan lingkungan di Xiamen.
Program tersebut diselenggarakan oleh China International Press Communication Center (CIPCC) di bawah naungan Kementerian Luar Negeri China melalui kolaborasi dengan China Media Group (CMG), sebagai bagian dari kegiatan pertukaran dan komunikasi media.
Bagi para peserta, perjalanan itu akhirnya tidak hanya meninggalkan catatan berita, foto dan rekaman dari tempat-tempat yang dikunjungi. Hari-hari yang dihabiskan bersama juga membuka kesempatan bagi jurnalis dengan bahasa, budaya dan latar belakang berbeda untuk berbagi pengalaman serta membangun hubungan profesional dan persahabatan.
Sementara sebagian peserta telah kembali ke negara masing-masing, delegasi Timor-Leste masih dalam perjalanan pulang. Delegasi dijadwalkan tiba di Timor-Leste pada 30 September 2026, setelah transit di Kuala Lumpur Malaysia.
Berakhirnya perjalanan di China pun menjadi awal bagi para jurnalis untuk membawa pulang apa yang mereka lihat, dengar dan pelajari untuk diceritakan kembali kepada masyarakat di negara masing-masing bersama jejaring dan persahabatan baru yang terbentuk sepanjang perjalanan.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

