INTERPOL tingkatkan pengetahuan aparat Keamanan dan Militer dengan pelatihan

DILI, 28 September 2026 (TATOLI) – Organisasi Kepolisian Kriminal Internasional (INTERPOL), melalui program Stonefish meningkatkan pengetahuan aparat Keamanan dan Militer melalui pelatihan khusus di bidang investigasi terkait penggunaan senjata terlarang di Timor-Leste.
Pelatihan khusus yang diberikan INTERPOL itu kepada Kepolisian Nasional Timor-Leste (PNTL), Polisi Ilmiah Investigasi Kriminal (PCIC), dan anggota FALINTIL – Pasukan Pertahanan Bersenjata Timor-Leste (F-FDTL).
Dimana, tujuan pelatihan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan aparat kepolisian dan militer mengenai pencegahan dan penanggulangan kejahatan yang melibatkan senjata terlarang di Timor-Leste.
Direktur Nasional PCIC, Viçente Fernandes e Brito, menjelaskan bahwa tujuan utama pelatihan ini adalah untuk menangani kasus senjata terlarang, karena kepemilikan senjata semacam itu merupakan tindak pidana menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), sehingga pelatihan ini bertujuan membangun kapasitas pencegahan dan penindakan terhadap kejahatan terkait senjata terlarang.
“Pelatihan ini berkaitan dengan tugas aparat nasional seperti PNTL, PCIC, dan F-FDTL yang bertugas di wilayah perbatasan. Pelatihan ini sangat penting agar kita tetap memiliki aturan dan kapasitas untuk melakukan penyelidikan secara efektif, serta meningkatkan kemampuan pencegahan kita,” ujar Viçente.
Ia menyatakan bahwa kegiatan terkait senjata terlarang ini dapat dikategorikan sebagai kejahatan terorganisir lintas negara.
Viçente Brito menyebutkan bahwa PCIC mulai beroperasi pada tahun 2015 dan sejauh ini belum mencatat adanya kasus orang yang membawa masuk senjata terlarang.
Ia menyatakan bahwa sebagai anggota ASEAN, Timor-Leste memandang pelatihan ini sangat penting dalam rangka kesiapan melakukan penyelidikan tindak pidana terkait senjata terlarang.
Ia menegaskan bahwa tindak pidana memiliki sifat yang kompleks dan saling berkaitan satu sama lain.
Sementara itu, Line Haidar yang merupakan Petugas Spesialis senjata api di INTERPOL, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari Proyek Stonefish, yang termasuk dalam program senjata terlarang Interpol.
“Ini adalah proyek yang didanai oleh Departemen Energi AS, yang dengan sangat murah hati memberikan kesempatan bagi kami di Timor-Leste serta bekerja sama dengan kantor Interpol di Dili,” ujarnya.
Ia mengatakan, pelatihan ini bertujuan mengubah pendekatan penyelidikan sehingga setiap senjata terlarang yang disita dipandang sebagai bagian dari skema yang lebih luas—termasuk terkait keterkaitan atau sumber senjata tersebut—guna mengungkap pihak-pihak yang mengalihkan senjata dan mencegah pergerakan senjata terlarang ke Timor-Leste.
“Selain itu, tujuannya juga untuk memastikan Timor-Leste terintegrasi ke dalam kawasan dengan tingkat keamanan tinggi—kawasan yang berupaya mencegah serta merespons perdagangan senjata ilegal, termasuk yang berkaitan dengan berbagai bentuk kejahatan internasional dan transnasional,” ujar Line Haidar.
Ia menambahkan bahwa pelatihan ini sangat penting karena senjata terlarang merupakan faktor penghubung yang umum dalam berbagai bentuk kejahatan.
“Beberapa senjata yang disita di sini atau di negara lain mungkin juga terkait dengan senjata lainnya, atau mungkin diproduksi di negara lain, dipindahkan dari satu negara ke negara lain, dan pada akhirnya disita di tempat kejadian perkara. Tidak ada negara yang dapat bertindak sendiri. Kita semua harus bekerja sama dan memperkuat kerja sama internasional agar dapat mencapai hasil yang efektif,” ujarnya.
Untuk diketahui bahwa, proyek Stonefish adalah inisiatif penegakan hukum internasional yang dikoordinasikan oleh INTERPOL. Tujuan utamanya adalah memerangi perdagangan ilegal, dan penyelundupan senjata yang dilakukan oleh kelompok teroris dan kejahatan terorganisasi di Asia Tenggara dan kawasan Pasifik
Tim TATOLI

