Jurnalis ASEAN telusuri kekayaan musik etnik dan sejarah Guangxi

NANNING, 15 September 2026 (TATOLI) – Delegasi jurnalis negara-negara ASEAN memulai rangkaian kunjungan di Daerah Otonom Guangxi Zhuang, China, dengan mengenal kekayaan musik etnik, seni, dan sejarah masyarakat setempat melalui kunjungan ke Guangxi Arts University dan Museum of Guangxi Zhuang Autonomous Region, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kota Qinzhou.
Kegiatan tersebut menjadi agenda lapangan pertama setelah para peserta tiba di Nanning pada Senin, 14 September 2026, usai menempuh perjalanan panjang dari negara masing-masing.
Empat peserta dari Timor-Leste tiba di Nanning setelah menempuh perjalanan lebih dari 12 jam dari Dili. Setelah tiba, para peserta menggunakan waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisi fisik sebelum mengikuti makan malam bersama.

Pada Selasa (15/09) pagi, setelah sarapan, sekitar 29 peserta berkumpul di lobi Wo Sheng Hotel. Sekitar pukul 08.30 waktu setempat, rombongan meninggalkan hotel menggunakan bus menuju lokasi kunjungan pertama, Guangxi Arts University.
Setibanya di kampus tersebut, delegasi disambut 17 mahasiswa dengan pakaian tradisional dari sejumlah kelompok etnik di Guangxi. Mereka menyambut para peserta dengan nyanyian dan mengalungkan Xiuqiu, atau bola sulam tradisional yang dikenal sebagai simbol keberuntungan.
Para jurnalis kemudian mengunjungi Guangxi Ethnic Music Museum, yang menyimpan beragam alat musik tradisional dan menjadi salah satu sarana universitas untuk memperkenalkan kebudayaan musik Guangxi serta Asia Tenggara.
Dalam kunjungan itu, mahasiswa memperagakan sejumlah instrumen tradisional, mulai dari gendang, gong Yunluo, lonceng Bianzhong, alat musik tiup Sheng, hingga Tianqin atau alat musik petik tradisional yang diperagakan oleh mahasiswa dengan mengenakan pakaian etnik Zhuang.
Delegasi juga diperlihatkan penggunaan lesung untuk menghasilkan irama musik, serta koleksi topeng kayu tradisional yang digunakan dalam ritual tertentu. Museum turut memamerkan berbagai busana tradisional dari kelompok etnik di Guangxi, termasuk Zhuang, Dong dan Yao.

Menariknya, koleksi museum tidak terbatas pada instrumen China. Sejumlah alat musik dari negara-negara Asia Tenggara juga menjadi bagian dari koleksi, termasuk gamelan, gendang dan angklung dari Indonesia. Para peserta bahkan memperoleh kesempatan mencoba memainkan angklung.
Direktur International Education Center Guangxi Arts University, Zhau Ke, mengatakan media memiliki peran penting dalam memperkenalkan Guangxi sebagai salah satu pusat pertukaran antara China dan negara-negara ASEAN.
“Melalui media, kita dapat mempromosikan peran Guangxi sebagai pusat pertukaran antara China dan ASEAN. Kami juga berharap dapat bekerja sama dengan negara-negara ASEAN untuk mendorong pembelajaran bersama, terutama dalam bidang seni dan musik,” kata Zhau kepada TATOLI.
Ia menjelaskan universitas tersebut telah membangun kerja sama dengan institusi pendidikan di kawasan ASEAN, termasuk di Indonesia, serta memanfaatkan gamelan dalam kegiatan dan festival musik internasional.
Menurutnya, pertukaran tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengenalan instrumen musik, tetapi berkembang menjadi kerja sama dan pertukaran seniman yang lebih luas antara Guangxi dan negara-negara ASEAN.

Guangxi Arts University saat ini juga menerima mahasiswa internasional dari sejumlah negara ASEAN, di antaranya Kamboja, Indonesia, Laos, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.
Namun, Zhau Ke mengungkapkan universitas tersebut hingga kini belum memiliki kerja sama maupun mahasiswa yang berasal dari Timor-Leste.
“Khusus untuk Timor-Leste, kami belum memiliki kerja sama dan juga belum ada mahasiswa dari Timor-Leste. Kami berharap ke depan bisa ada,” ujarnya.
Guangxi Arts University merupakan salah satu dari delapan institusi pendidikan tinggi seni komprehensif di China. Universitas tersebut memiliki tiga kampus, yakni Nanhu Campus, Xiangsihu Campus dan Guilin Campus, dengan luas keseluruhan sekitar 40,7 hektare.
Sementara itu, Guangxi Ethnic Music Museum didirikan pada Juni 2015 dan berada di Nanhu Campus. Museum seluas sekitar 2.600 meter persegi tersebut dibuka untuk umum pada Oktober 2018 dan memiliki lebih dari 1.600 benda atau set koleksi, mulai dari alat musik, buku lagu tradisional, partitur dan manuskrip hingga materi audio-visual.

Museum itu juga disebut memiliki salah satu koleksi alat musik ASEAN terbesar di antara universitas-universitas di China, sehingga menjadi platform untuk memperkenalkan musik etnik Guangxi sekaligus kebudayaan musik Asia Tenggara.
Menelusuri sejarah Guangxi
Usai mengunjungi universitas, delegasi melanjutkan kegiatan ke Museum of Guangxi Zhuang Autonomous Region untuk mengenal perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Guangxi dari masa ke masa.
Di museum tersebut, para jurnalis melihat berbagai peninggalan yang menggambarkan bagaimana masyarakat pada masa lampau menjalani kehidupan dan membangun peradaban di wilayah Guangxi.
Koleksi yang diperlihatkan antara lain gambar dan peninggalan pada batu, wadah memasak, guci, mata panah, pisau serta berbagai artefak lain yang memiliki nilai sejarah.

Museum of Guangxi Zhuang Autonomous Region mulai dibangun pada 1934 dan merupakan museum komprehensif tingkat daerah otonom yang berfokus pada sejarah dan seni. Museum tersebut juga termasuk dalam kategori museum nasional kelas satu di China.
Arsitektur bangunannya turut menampilkan karakter budaya Zhuang, sekaligus memadukan ruang peninggalan budaya, pameran, teknologi modern dan fasilitas kegiatan kebudayaan.
Rangkaian kegiatan pagi ditutup dengan pertunjukan tari bambu, sebelum para peserta makan siang dan bersiap meninggalkan Nanning menuju Qinzhou.

Sesuai agenda, perjalanan menuju Qinzhou dimulai sekitar pukul 13.00. Di kota tersebut, delegasi dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Qinzhou Blue Bay Mangrove Nature Reserve, fasilitas logistik di Qinzhou Port serta Qinzhou Nixing Pottery Museum and Experience Center, sebelum mengikuti jamuan malam yang diselenggarakan Pemerintah Kota Qinzhou. Agenda tersebut sesuai dengan jadwal resmi program Guangxi pada 15 September.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

