Top

PM Xanana Gusmão terima gelar Doctor Honoris Causa dari UNHAS

Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão menerima gelar kehormatan akademik Doctor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin (UNHAS), Indonesia. Foto GPM

DILI, 06 September 2026 (TATOLI) –  Perdana Menteri (PM) Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão menerima gelar kehormatan akademik Doctor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin (UNHAS), Indonesia. Penganugerahan tersebut dilakukan pada 05 September di Kampus UNHAS, Tamalanrea, Makassar, Indonesia.

Penganugerahaan gelar kehormatan akademik oleh  UNHAS Indonesia, kepada Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão, sebagai bentuk pengakuan atas kepemimpinan dan kontribusi Xanana  dalam proses membangun Timor-Leste, khususnya selama masa konflik hingga memasuki tahap pembangunan negara dan memperkuat demokrasi dan stabilitas negara.

Dekan FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) UNHAS sekaligus promotor utama penganugerahan ini, Prof. Dr. Phil. Sukri, M.Si., beserta timnya menyatakan dalam pernyataan bersama bahwa UNHAS tidak memandang pemberian gelar Doctor Honoris Causa ini sebagai seremoni atau penghargaan terkait jabatan politik, melainkan sebagai pengakuan akademis atas nilai dan kontribusi universal yang telah ditunjukkan oleh Xanana Gusmão melalui perjalanan hidup dan kepemimpinannya.

Dalam upacara penganugerahan tersebut, tim promotor yang diwakili oleh Prof. Hafid Abbas memaparkan pertimbangan yang mencakup empat alasan utama sebagai dasar pemberian gelar ini. Pertama, Xanana Gusmão dipandang sebagai simbol perjuangan kemerdekaan Timor-Leste dan salah satu tokoh kunci yang memimpin rakyat dalam proses perjuangan meraih kebebasan.

Kedua, Xanana dinilai berhasil mengubah luka akibat konflik menjadi jembatan menuju rekonsiliasi dan persahabatan, melalui upaya mendorong semangat saling memaafkan, sikap saling menghormati, serta hubungan damai antara Timor-Leste dan Indonesia.

Ketiga, Xanana berhasil bertransformasi dari seorang pemimpin perlawanan menjadi seorang negarawan, melalui kontribusinya dalam membangun institusi negara, memperkuat demokrasi, mendorong pembangunan, serta mempertahankan kedaulatan Timor-Leste lewat jalur diplomasi dan hukum.

Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão dalam acara penyerahaan gelar kehormatan akademik Doctor Honoris Causa. Foto GPM

Keempat, Xanana merepresentasikan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan, yang dianggap sebagai bagian penting dari misi UNHAS dalam memajukan ilmu pengetahuan, keadilan, perdamaian, dan peradaban.

“Rekam jejak Xanana Gusmão mencerminkan nilai-nilai universal seperti keberanian, ketegasan, rekonsiliasi, perdamaian, demokrasi, dan kemanusiaan, yang patut dipelajari serta diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” ujarnya.

Pengalaman Xanana dalam kepemimpinan publik dan tata kelola pemerintahan sangat relevan dengan bidang Administrasi Publik, yang menjadi landasan akademis bagi pemberian gelar ini.

“Jika kita melihat kontribusi dan capaiannya selama ini, hal itu sungguh luar biasa. Menurut saya, pengakuan ini merupakan salah satu dari sekian banyak penghargaan yang telah ia terima dari berbagai institusi. Namun, bagi kami, yang terpenting adalah bagaimana pengakuan ini diberikan dalam konteks kepemimpinan yang telah ia tunjukkan,” kata Hafid Abbas.

Menurut UNHAS, Xanana Gusmão merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Timor-Leste. Setelah referendum tahun 1999 dan transisi menuju kemerdekaan, ia terpilih sebagai Presiden pertama Timor-Leste pada tahun 2002.

Ia kemudian menjabat sebagai Perdana Menteri pada periode 2007–2015 dan kembali memimpin pemerintahan Timor-Leste mulai tahun 2023.

Pengalaman ini menempatkan Xanana pada posisi penting dalam dua fase utama, yaitu perjuangan membangun negara serta pengelolaan pemerintahan pada masa pascakemerdekaan.

UNHAS memandang pengalaman tersebut sebagai konteks akademis yang kuat untuk melihat kepemimpinan sebagai bagian dari proses pengembangan administrasi dan tata kelola pemerintahan.

Di tempat yang sama, Rektor UNHAS, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menyatakan bahwa berdasarkan kontribusinya dalam kepemimpinan pascakonflik, diplomasi rekonsiliasi, pembangunan perdamaian, penguatan institusi, kerja sama kawasan, serta diplomasi akademik yang inspiratif, Universitas Hasanuddin memandang Kay Rala Xanana Gusmão layak menerima gelar Doktor Kehormatan.

“Penganugerahan gelar ini bukanlah penilaian politis terhadap masa lalu. Ini merupakan pengakuan akademik bagi seorang negarawan yang menunjukkan bahwa, setelah perjuangan, keberanian terbesar adalah keberanian untuk membangun perdamaian; bahwa kemenangan yang paling bermakna adalah ketika masyarakat dapat hidup berdampingan; sebuah masa depan yang berhasil ia buka bagi negaranya,” ujar Rektor.

Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão menerima gelar kehormatan akademik Doctor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin (UNHAS), Indonesia. Foto GPM

Atas nama Universitas Hasanuddin, Rektor menyampaikan apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya atas ketegasan, keberanian, dan kebijaksanaan Xanana Gusmão.

Selamat datang dan selamat bergabung dalam keluarga besar Universitas Hasanuddin. Mulai hari ini, Xanana Gusmão bukan sekadar sahabat UNHAS, melainkan telah menjadi bagian dari sivitas akademika—sebuah komunitas yang menjunjung tinggi kebenaran, kemanusiaan, dialog, dan perdamaian.

UNHAS berharap gelar ini akan semakin memperluas kiprah kepemimpinan Xanana Gusmão bagi Timor-Leste, Indonesia, ASEAN, dan dunia. Diharapkan pula bahwa persahabatan antara kedua negara akan semakin dipererat.

“Dan kami berharap dari tempat ini akan lahir generasi pemimpin — khususnya dari kalangan mahasiswa dan civitas akademika UNHAS — yang memahami bahwa perdamaian bukanlah kelemahan, rekonsiliasi bukan berarti melupakan masa lalu, dan menjadi tetangga yang baik bukan sekadar soal etiket diplomatik. Semua ini merupakan bentuk kecerdasan untuk membangun masa depan bersama,” ujarnya.

Dalam upacara tersebut, Perdana Menteri Xanana Gusmão menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatannya kepada UNHAS atas penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa.

Xanana merasa sangat terhormat menerima gelar ini dari Universitas Hasanuddin, serta bangga dapat menjadi bagian dari deretan tokoh publik yang telah menerima pengakuan serupa.

Bagi Xanana, pengakuan dari UNHAS memiliki makna khusus karena universitas tersebut memainkan peran penting dalam sejarah pembangunan Indonesia serta pengembangan pengetahuan mengenai kelautan.

PM Xanana mengaitkan pengakuan ini dengan sejarah, kepemimpinan, dan kedaulatan, khususnya pengalaman Timor-Leste dalam perjuangan menentukan nasib sendiri, meraih kemerdekaan, dan proses pembangunan negara.

Xanana juga menyatakan bahwa universitas bukan sekadar institusi untuk mencetak tenaga profesional, melainkan memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, pemikiran kritis, serta kapasitas sumber daya manusia dalam pengambilan keputusan.

Dalam pidatonya, Xanana Gusmão menegaskan bahwa Timor-Leste dan Indonesia berbagi Pulau Timor serta perairan di sekitar kedua negara, sehingga kerja sama, penetapan batas maritim, dan pengelolaan sumber daya laut secara damai menjadi bagian penting dari hubungan bilateral.

Xanana Gusmão juga berbicara mengenai perjuangan Timor-Leste untuk menentukan nasib sendiri dan meraih kemerdekaan, yang menurutnya didasarkan pada hukum internasional, diplomasi, dan solidaritas internasional.

Setelah merdeka, Timor-Leste memilih jalan rekonsiliasi dengan Indonesia demi membangun masa depan yang berlandaskan perdamaian, persahabatan, dan kerja sama.

Terkait kedaulatan maritim, Xanana mengenang kembali proses negosiasi dengan Australia yang menghasilkan penetapan batas maritim, serta menyatakan bahwa saat ini Timor-Leste terus merundingkan batas maritim dengan Indonesia sesuai dengan UNCLOS dan hukum internasional. Proses ini diyakini dapat diselesaikan dalam semangat persahabatan dan saling menghormati.

Xanana Gusmão juga menegaskan bahwa kedaulatan bukan sekadar soal bendera, konstitusi, atau keanggotaan di Perserikatan Bangsa-Bangsa, melainkan juga menuntut kekuatan politik, ekonomi yang tangguh, ketahanan pangan, serta lapangan kerja dan peluang bagi generasi muda.

Oleh karena itu, Timor-Leste perlu membangun ketahanan ekonomi demi menjamin kemandirian bagi generasi mendatang.

Di tengah dunia yang kian tidak stabil, Xanana memperingatkan tentang konflik bersenjata, ketegangan geopolitik, ketimpangan, serta melemahnya sistem internasional.

Pemimpin tersebut mendorong kerja sama multilateral dan penghormatan terhadap hukum internasional, khususnya bagi negara-negara kecil dan rentan.

Xanana Gusmão juga menyoroti bergabungnya Timor-Leste ke dalam ASEAN sebagai perwujudan aspirasi nasional yang telah lama diperjuangkan. Pada tahun 2029, Timor-Leste akan memegang keketuaan ASEAN; sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab untuk berkontribusi terhadap perdamaian, persatuan, dan kerja sama kawasan.

Terakhir, Xanana menekankan pentingnya universitas, pendidikan, dan pengetahuan bagi kedaulatan nasional. Di era Kecerdasan Buatan AI (Artificial Intelligence), ia mengatakan bahwa orang-orang perlu memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, mengevaluasi informasi, dan mengambil keputusan sendiri.

“Pengetahuan membantu kita memahami dunia, sementara kemampuan menilai membantu kita menentukan apa yang harus kita lakukan,” ujar Xanana.

Dengan penganugerahan gelar tersebut, Xanana Gusmão kini termasuk dalam daftar tokoh penting yang telah menerima gelar Doktor Honoris Causa dari UNHAS.

Sebelumnya, UNHAS telah menganugerahkan gelar kehormatan kepada Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pada tanggal 29 April 1963 di bidang Ilmu Politik Hubungan Internasional, serta kepada Nelson Mandela, Presiden Afrika Selatan dan tokoh penting dalam perjuangan melawan apartheid, pada tanggal 10 Agustus 2005. 

Berdasarkan sejumlah dokumen, Xanana Gusmão telah menerima 16 gelar Doktor Honoris Causa dari berbagai universitas di Portugal, Australia, Korea Selatan, Jepang, Malaysia, China, Kamboja, Brasil, dan Indonesia, termasuk Universitas Lusiada, Universitas Porto, Universitas Nasional Victoria, Universitas Nasional Suncheon, Universitas Takushoku, Universitas  Coimbra, Universitas Charles Darwin,  ISCSP, Universitas Malaysia Sabah, Universitas Melbourne, Universitas Waseda, Universitas Madeira, Universitas Hunan,  Universitas Cambodia, Universitas Mackenzie Presbyterian, dan sekarang Universitas Hasanuddin.

Tim TATOLI

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!