Nilai impor capai US$580 juta, Indonesia dan Taiwan dominasi pasokan barang ke TL

DILI, 04 September 2026 (TATOLI) – Banco Central de Timor-Leste (BCTL) mencatat nilai impor barang Timor-Leste mencapai US$580 juta selama semester pertama 2026, dengan Indonesia dan Taiwan menjadi dua sumber utama pasokan barang ke negara tersebut.
Dalam laporan Timor-Leste Mid Term Economic Review 2026, BCTL mencatat Indonesia menjadi pemasok terbesar dengan nilai barang mencapai US$177,9 juta, disusul Taiwan sebesar US$131,2 juta.
China berada di posisi berikutnya dengan nilai US$72,1 juta, Singapura US$33,3 juta dan India US$31,8 juta.
Selama periode Januari hingga Juni 2026, total impor barang Timor-Leste tercatat US$580 juta, sementara nilai merchandise imports berdasarkan Cost, Insurance and Freight (CIF) mencapai US$565,6 juta.
Dari berbagai komoditas yang diimpor, bahan bakar menyerap pengeluaran terbesar dengan nilai mencapai US$175 juta, diikuti kendaraan US$59 juta, sereal US$32 juta, mesin US$26 juta serta peralatan listrik US$19 juta.
Besarnya kebutuhan impor tersebut berbanding terbalik dengan nilai ekspor Timor-Leste. Pada periode yang sama, ekspor domestik nonmigas hanya mencapai US$15,5 juta, sementara total ekspor nonmigas termasuk re-ekspor tercatat US$19,7 juta.
BCTL menilai tingginya ketergantungan terhadap impor masih menjadi salah satu tantangan struktural perekonomian Timor-Leste. Ketergantungan tersebut membatasi nilai tambah domestik dari peningkatan permintaan sekaligus berkontribusi terhadap ketidakseimbangan eksternal yang terus berlangsung.
Kapasitas produksi domestik yang terbatas dan kendala dalam menyerap peningkatan permintaan juga membuat kemampuan produksi dalam negeri belum mampu mengimbangi ekspansi permintaan.
Kondisi perdagangan tersebut turut memengaruhi posisi eksternal Timor-Leste pada semester pertama 2026. BCTL mencatat defisit transaksi berjalan melebar 27 persen, dari US$294,4 juta pada semester pertama 2025 menjadi US$374,1 juta pada periode yang sama tahun ini.
Defisit perdagangan barang dan jasa juga meningkat 19,2 persen menjadi US$582,5 juta, sementara pendapatan primer turun 10,3 persen menjadi US$125,9 juta. Di sisi lain, pendapatan sekunder meningkat menjadi US$82,6 juta dan membantu menahan sebagian tekanan pada transaksi berjalan.
BCTL menyebut impor tetap tinggi, sedangkan ekspor nonmigas, meskipun mencatat pertumbuhan yang kuat, masih relatif kecil dibandingkan kebutuhan impor. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama melemahnya posisi eksternal Timor-Leste pada paruh pertama 2026.
Dalam jangka menengah, BCTL menilai tingginya ketergantungan terhadap impor, terbatasnya kapasitas produksi dan lemahnya diversifikasi ekspor masih menjadi kerentanan bagi perekonomian nasional.
Karena itu, peningkatan kapasitas produktif domestik dan diversifikasi ekspor dinilai penting untuk memperkuat ketahanan eksternal, mengurangi ketergantungan terhadap barang dari luar negeri dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih ditopang sektor swasta.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

