Ramos-Horta : Timor-Leste harus ciptakan pengetahuan, bukan sekadar konsumen teknologi

DILI, 26 Agustus 2026 (TATOLI) – Presiden Republik, José Ramos-Horta, menegaskan Timor-Leste perlu membangun kapasitas ilmu pengetahuan, institusi dan sumber daya manusia agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi yang dikembangkan negara lain, tetapi mampu berpartisipasi menciptakan solusi bagi kebutuhan nasional.
Presiden Ramos-Horta menyampaikan hal tersebut dalam pidato penutupan Science for Development Summit 2026, di Pusat Konvensi Dili (CCD), Selasa (25/08).
Menurut Kepala Negara, perkembangan ilmu pengetahuan telah mengubah kehidupan manusia secara signifikan. Namun, kemajuan tersebut harus memberikan manfaat kepada masyarakat yang paling membutuhkan dan tidak hanya dinikmati negara, universitas, perusahaan atau individu yang memiliki kemampuan finansial.
“Untuk negara muda seperti kita, ini berarti terbuka terhadap inovasi sambil membangun pengetahuan, institusi dan kapasitas manusia kita sendiri, sehingga kita tidak hanya menjadi konsumen teknologi yang dikembangkan di tempat lain, tetapi semakin menjadi bagian dalam menciptakan solusi yang kita butuhkan,” kata Presiden Ramos-Horta.
Ia menjelaskan, ilmu pengetahuan dapat menjadi instrumen pembangunan ketika pengetahuan dan pengalaman diterapkan sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.
Menurut Presiden Republik, sebuah penemuan yang dihasilkan di laboratorium ribuan kilometer dari Timor-Leste dapat memberikan manfaat bagi petani di Baucau yang mencari cara melindungi tanaman dari kekeringan, seorang ibu di Oecusse yang membutuhkan pelayanan kesehatan lebih baik bagi anaknya, guru di Ermera yang ingin menginspirasi murid, hingga generasi muda Timor-Leste yang bercita-cita menjadi ilmuwan.
“Di sinilah ilmu pengetahuan menjadi pembangunan, ketika kita memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman serta menerapkannya dalam konteks lokal kita,” ujarnya.
Presiden Republik mengingatkan, sejak restorasi kemerdekaan, Timor-Leste harus membangun kembali institusi negara, sekolah, jalan, fasilitas kesehatan dan perekonomian. Meskipun negara telah mencatat kemajuan besar, kemiskinan, malnutrisi, kerawanan pangan dan ketimpangan akses terhadap kesempatan masih menjadi tantangan.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi membutuhkan pengetahuan, pendidikan, penelitian serta keberanian untuk menerapkan ilmu pengetahuan terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Kepala Negara juga menekankan bahwa pengetahuan harus menjangkau masyarakat yang membutuhkannya, teknologi harus terjangkau dan kerja sama penelitian internasional harus membantu membangun kapasitas lokal, bukan menciptakan ketergantungan permanen.
Dalam pidatonya, Ramos-Horta memberikan perhatian khusus kepada generasi muda Timor-Leste agar memiliki rasa ingin tahu, kepercayaan diri dan keberanian untuk terlibat dalam ilmu pengetahuan.
“Jangan berpikir bahwa ilmu pengetahuan adalah milik orang lain. Jangan berpikir bahwa penemuan hanya terjadi di Boston, Oxford, Singapura, Tokyo atau Beijing. Kemampuan untuk mengamati, bertanya, bereksperimen dan berimajinasi dimiliki setiap manusia. Kalian harus percaya pada diri sendiri dan satu sama lain,” pesannya.
Presiden Republik juga menilai Timor-Leste sendiri merupakan tempat yang memiliki potensi besar untuk pengembangan ilmu pengetahuan karena memiliki kekayaan laut dan keanekaragaman hayati, ekosistem yang unik, tradisi pertanian, bahasa dan pengetahuan lokal.
Selain itu, posisi Timor-Leste di antara Asia Tenggara dan Pasifik serta besarnya populasi generasi muda dinilai sebagai modal penting untuk pembangunan berbasis ilmu pengetahuan.
“Kita memiliki banyak hal untuk dipelajari dari dunia. Tetapi kita juga memiliki sesuatu untuk disumbangkan,” katanya.
Ramos-Horta mengatakan sejumlah diskusi selama Science for Development Summit menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan harus dimulai dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, termasuk malnutrisi, produksi pangan, pengembangan benih, pengelolaan air dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan teknologi digital yang memberikan peluang besar bagi Timor-Leste.
Namun, teknologi tersebut menurutnya harus digunakan secara bijaksana untuk memperluas kemampuan manusia dan bukan menggantikan kemampuan manusia dalam berpikir, mempertanyakan dan mengambil keputusan.
Mengakhiri pidatonya, Presiden Republik berkomitmen agar gagasan yang lahir selama Science for Development Summit tidak berhenti setelah pertemuan berakhir, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan nyata di sekolah, masyarakat, universitas dan berbagai institusi di Timor-Leste.
“Ilmu pengetahuan memberikan kekuatan luar biasa kepada umat manusia. Tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa ilmu pengetahuan juga memberikan kebijaksanaan, dan manfaat serta peluangnya tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang yang beruntung, tetapi oleh semua orang,” tutup Presiden Ramos-Horta.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz

