Top

Hari Kedua Science for Development Summit Soroti Pemuda, Inovasi dan AI

Para pembicara peraih Nobel Perdamaian pada hari kedua KTT Science for Development Summit 2026 yang digelar di Dili Convention Centre (DCC). Foto TATOLI/António Daciparu

DILI, 25 Agustus 2026 (TATOLI) – Hari kedua Science for Development Summit 2026 di Dili Convention Centre (DCC), Selasa, menyoroti peran pemuda, inovasi, kecerdasan buatan (AI), serta kemitraan institusi dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di Timor-Leste.

Pertemuan tersebut mempertemukan ilmuwan terkemuka dunia, peraih Nobel dan Turing Award, akademisi, mahasiswa, pemerintah serta mitra internasional untuk membahas pemanfaatan ilmu pengetahuan dalam mendukung transformasi ekonomi, kesehatan, pertanian, pendidikan dan pembangunan digital.

Wakil Perdana Menteri, Francisco Kalbuadi Lay, dalam sambutannya menegaskan bahwa nilai utama pertemuan tersebut tidak hanya terletak pada pengetahuan yang dibagikan, tetapi bagaimana pengetahuan itu diterjemahkan menjadi tindakan nyata untuk menjawab tantangan pembangunan nasional.

“Nilai sesungguhnya dari pertemuan ini akan datang dari apa yang kita pelajari, hubungan yang kita bangun, dan apa yang mampu kita lakukan secara berbeda setelah hari ini. Pengetahuan hanya menjadi bernilai bagi pembangunan ketika kita mengubahnya menjadi tindakan,” kata Kalbuadi Lay.

Ia mengatakan Pemerintah Konstitusional IX melalui Dana Pengembangan Sumber Daya Manusia telah membentuk berbagai program yang memberikan kesempatan kepada warga Timor-Leste, khususnya generasi muda, untuk melanjutkan pendidikan tinggi di berbagai universitas berkualitas di negara-negara ASEAN dan negara lainnya.

Menurutnya, investasi di bidang pendidikan dan sumber daya manusia harus diimbangi dengan kemampuan untuk mengubah pengetahuan yang diperoleh menjadi solusi praktis bagi berbagai persoalan yang dihadapi Timor-Leste.

Kalbuadi Lay juga menyambut keterlibatan aktif universitas dan mahasiswa dalam Science for Development Summit, karena generasi muda memiliki peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di masa depan.

Rangkaian kegiatan hari kedua diawali dengan pidato utama Sekretaris Jenderal Muslim Council of Elders, Mohamed Abdelsalam, bertema Science for Peace: Why Human Fraternity Must Underpin Innovation. Ia mengangkat pentingnya nilai persaudaraan manusia sebagai landasan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan inovasi.

AI dan keamanan digital

Dalam panel tentang keamanan, kepercayaan dan dunia digital, pakar kriptografi Whitfield Diffie, penerima Turing Award 2015, dan Gilles Brassard, penerima Turing Award 2025, membahas pembangunan kepercayaan digital di Timor-Leste.

Diskusi yang dimoderatori Abel P. da Silva itu menyoroti enkripsi, autentikasi dan tata kelola keamanan siber sebagai unsur penting dalam memastikan infrastruktur digital yang aman seiring berkembangnya layanan elektronik di negara tersebut.

Sementara itu, panel tentang komputasi, AI dan pembangunan menghadirkan Richard S. Sutton, Jack Dongarra dan Torsten Hoefler.

Para pakar membahas penerapan AI secara praktis di negara dengan sumber daya terbatas, termasuk peluang pengembangan teknologi AI untuk Bahasa Tetun yang masih tergolong sebagai bahasa dengan sumber daya digital terbatas (low-resource language).

Mereka juga mendorong pemanfaatan infrastruktur open-source serta pengembangan model AI yang lebih efisien agar teknologi tersebut dapat digunakan sesuai kebutuhan dan kemampuan negara berkembang seperti Timor-Leste.

Di bidang pendidikan, Sara Seager, penerima Kavli Prize 2024 dalam bidang Astrofisika, berbicara mengenai pengajaran ilmu pengetahuan di negara berkembang. Ia mendorong pendekatan pendidikan berbasis rasa ingin tahu, pertanyaan besar dan eksperimen berbiaya rendah untuk meningkatkan minat generasi muda terhadap sains.

 Dorong pemuda Timor-Leste tekuni sains

Generasi muda menjadi salah satu fokus utama melalui sesi Youth Dialogue: Science Careers Around the World yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berdialog langsung dengan sejumlah ilmuwan internasional.

Sesi yang dimoderatori Guteriano Neves tersebut menghadirkan penerima Nobel Kimia Benjamin List, penerima Nobel Fisika Sir Konstantin Novoselov dan mantan Presiden Association for Computing Machinery (ACM), Yannis Ioannidis.

Mereka berbagi pengalaman mengenai perjalanan karier di bidang ilmu pengetahuan serta mendorong generasi muda Timor-Leste untuk memanfaatkan kesempatan pendidikan dan karier internasional, sekaligus menggunakan pengetahuan dan pengalaman tersebut untuk berkontribusi terhadap pembangunan nasional.

Selain dialog dan panel tingkat tinggi, hari kedua pertemuan juga menghadirkan sejumlah lokakarya mengenai pertanian dan kesehatan.

Lokakarya transformasi pertanian membahas strategi meningkatkan ketahanan sektor pertanian melalui agroforestri, diversifikasi tanaman serta solusi yang disesuaikan dengan kondisi lokal untuk memperkuat ketahanan pangan.

Sementara itu, lokakarya mengenai penerapan hasil penelitian kesehatan menghadirkan penerima Nobel Frederick J. Ramsdell. Pembahasan berfokus pada penerjemahan penelitian imunologi menjadi terapi baru serta pentingnya membangun kapasitas penelitian untuk menjawab prioritas kesehatan Timor-Leste.

Sejumlah kegiatan paralel juga digelar di berbagai institusi di Dili dengan pembahasan mengenai perlindungan sosial dan hak anak, kebijakan berbasis data, konflik global dan deglobalisasi, kontribusi fisika terhadap pembangunan berkelanjutan, serta pemanfaatan AI dalam pelayanan kesehatan.

Di Universidade Católica Timorense (UCT), penerima Nobel Perdamaian Kailash Satyarthi membahas hak anak, pendidikan dan sistem perlindungan berbasis masyarakat.

Sementara itu, penerima Nobel Ekonomi James A. Robinson dan Robert C. Merton membahas tantangan ekonomi global serta pentingnya pertukaran ilmu pengetahuan internasional.

Di Universidade Nacional Timor Lorosa’e (UNTL), penerima Nobel Fisika Sir Konstantin Novoselov dan Brian P. Schmidt membahas kontribusi ilmu fisika terhadap pembangunan berkelanjutan melalui inovasi berbiaya rendah dan kerja sama internasional.

Science for Development Summit 2026 merupakan inisiatif Presiden Republik, José Ramos-Horta, yang diselenggarakan di bawah patronase bersama Presiden Republik dan Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão serta didanai sepenuhnya oleh Pemerintah Timor-Leste.

Melalui keterlibatan ilmuwan internasional, pemerintah, universitas dan generasi muda, pertemuan tersebut diarahkan untuk menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan pembangunan serta mendorong penerapan inovasi yang sesuai dengan konteks Timor-Leste.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor   : Armandina Moniz

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!