WFP : El Nino berpotensi dorong 49 juta orang ke dalam kerawanan pangan akut

DILI, 06 Agustus 2026 (TATOLI)— Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) memperingatkan bahwa penguatan fenomena El Nino dapat menyebabkan setidaknya 49 juta orang lagi mengalami kerawanan pangan serius sebelum akhir tahun 2027, dan menyatakan bahwa badan tersebut sedang meningkatkan upaya kesiapsiagaan dan respons di negara-negara yang rentan.
Dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis WFP, pada Rabu (05/08/2026), itu mengeluarkan analisis terbaru yang menunjukkan bahwa El Nino diproyeksikan akan memperburuk kerawanan pangan di 45 negara yang sudah menghadapi kelaparan, meningkatkan jumlah orang yang mengalami kerawanan pangan parah dari sekitar 225 juta menjadi 274 juta.
Pelaksana Tugas Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, menekankan: “El Nino menimbulkan ancaman yang sangat signifikan terhadap ketahanan pangan jutaan orang yang sudah rentan”.
Sebagai tanggapan, badan tersebut dan para mitranya meningkatkan upaya di delapan negara untuk melindungi beberapa komunitas yang paling rentan yang sudah berjuang dengan kemiskinan, konflik, pengangguran, dan bencana iklim ekstrem yang berulang.
Prioritas utama meliputi persiapan menghadapi banjir, kekeringan, dan badai sebelum terjadi. “ Semakin cepat kita membantu keluarga untuk mempersiapkan diri menghadapi guncangan iklim ini, semakin besar kemampuan kita untuk menyelamatkan nyawa dan melindungi mata pencaharian,” kata Carl Skau.
Kelaparan akut merujuk pada orang-orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan harian mereka.
Belajar dari El Nino di masa lalu
WFP mencatat bahwa El Nino 2015-2016 berdampak pada ketahanan pangan 60 hingga 100 juta orang. Proyeksi awal menunjukkan bahwa El Niño 2026-2027 dapat mendorong setidaknya 49 juta orang lagi ke dalam kerawanan pangan akut pada akhir tahun depan.
Sebagian wilayah Amerika Tengah dan Afrika selatan diperkirakan akan menanggung dampak terberat dari perubahan iklim ekstrem, meskipun dampak signifikan juga diperkirakan terjadi di Afrika timur serta Asia Selatan dan Tenggara.
Temuan dalam laporan WFP yand dirilis menyebutkan, di Amerika Latin dan Karibia berpotensi mengalami salah satu peningkatan paling tajam dalam kerawanan pangan, dengan lebih dari 16 juta orang yang terdampak. Sementara itu, Amerika Tengah diproyeksikan mengalami peningkatan proporsional terbesar (83,1 persen) di antara semua wilayah yang dianalisis dalam laporan tersebut.
Selain itu, di Afrika Timur dan Selatan menghadapi risiko besar, terutama di daerah di mana musim hujan mendatang sangat penting untuk produksi pangan. Lebih dari 18 juta orang dapat mengalami penurunan ketahanan pangan, yang mewakili peningkatan sebesar 26 persen dan Negara-negara Afrika bagian selatan sangat rentan karena banyak rumah tangga bergantung pada pertanian subsisten yang bergantung pada curah hujan.
Selanjutnya, di Asia dan Pasifik dapat merasakan dampak signifikan di beberapa negara yang sudah rentan, dengan perkiraan tambahan 8,2 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut, sementara di Afrika Barat dan Tengah juga berisiko, dengan kerawanan pangan diproyeksikan meningkat sebesar 12 persen, yang akan memengaruhi hampir enam juta orang tambahan.
WFP dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) telah menyerukan peningkatan dukungan untuk membantu komunitas yang berisiko mempersiapkan diri menghadapi El Nino guna membantu melindungi nyawa, mata pencaharian, dan ketahanan pangan sebelum keadaan darurat memburuk.
Pengganda investasi
El Nino diperkirakan mencapai puncaknya antara September dan Desember 2026, tetapi dampaknya akan terasa sepanjang tahun 2027 di banyak negara, karena pengaruhnya terhadap panen di masa mendatang. “Kekeringan, banjir, dan suhu ekstrem sudah membahayakan masyarakat,” demikian peringatan WFP.
Dengan bekerja sama erat dengan FAO , OCHA , dan mitra lainnya, WFP memiliki rencana pencegahan aktif di lebih dari 50 negara dan mendukung pemerintah serta masyarakat untuk mengurangi risiko.
Sejak Mei, WFP telah mengaktifkan rencana aksi antisipatif di Sudan Selatan, Chad, Mauritania, Uganda, Guatemala, dan El Salvador, menyediakan lebih dari $14 juta dalam bentuk bantuan penyelamatan jiwa untuk mendukung setengah juta orang.
Ini termasuk peningkatan mekanisme pembiayaan yang telah diatur sebelumnya seperti asuransi risiko bencana, kredit, dan pembayaran digital, untuk menyediakan lebih banyak uang dengan biaya lebih rendah.
Tim TATOLI

