Top

Pekan Hijau dimulai, Presiden Ramos-Horta ajak masyarakat hadapi fenomena Super El Nino

Program Horta Show, yang mengangkat tema " Super El Nino, Ketahanan Iklim, Lingkungan, dan Ekonomi Hijau” yang dipandu Presiden Republik, José Ramos-Horta dengan menghadirkan tiga narasumber. Foto Media Kepresidenan Republik

DILI, 05 Agustus 2026 (TATOLI) – Presiden Republik, José Ramos-Horta, mengajak masyarakat Timor-Leste memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi dampak fenomena Super El Nino melalui langkah-langkah proaktif untuk menjamin ketersediaan air, melindungi sumber daya alam, serta mengurangi dampak perubahan iklim.

Pernyataan tersebut disampaikan Ramos-Horta dalam program Horta Show bertema “Super El Nino, Ketahanan Iklim, Lingkungan, dan Ekonomi Hijau” yang menandai peluncuran Semana Verde (Pekan Hijau).  Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara pendukung Dili International Marathon yang berlangsung di kompleks Istana Kepresidenan, Dili, Selasa (04/08) sore.

Program yang dipandu langsung oleh Kepala Negara itu menghadirkan Direktur Nasional Meteorologi dan Geofisika Kementerian Transportasi dan Komunikasi, Terêncio Fernandes Moniz, Kepala Departemen Konservasi Flora dan Fauna Kementerian Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan, Pedro Pinto, seorang petani dari Balibo, kotamadya Bobonaro, serta Sekretaris Negara Kehutanan, Fernandinho Vieira.

Dalam diskusi tersebut, Ramos-Horta menyoroti tantangan akses air bersih yang telah dihadapi masyarakat meski pada tahun-tahun dengan kondisi cuaca normal. Menurutnya, situasi tersebut dapat memburuk apabila fenomena El Nino semakin menguat sehingga pemerintah bersama para mitra perlu melakukan persiapan sejak dini, terutama di daerah-daerah terpencil.

“Bahkan pada tahun normal tanpa El Nino, masyarakat sudah mengalami kesulitan memperoleh air. Karena itu, pemerintah bersama para mitra harus menyiapkan langkah-langkah di setiap munisipalitas dan daerah administrasi, khususnya di wilayah terpencil yang paling rentan terhadap krisis air,” ujar Ramos-Horta.

Ia menjelaskan kemarau panjang tidak hanya menyebabkan berkurangnya curah hujan, tetapi juga meningkatkan suhu udara yang berdampak pada keanekaragaman hayati, sektor pertanian, dan kehidupan masyarakat.

Presiden Republik juga menyinggung kondisi di Pulau Jaco, Kotamadya Lautem tempat sejumlah rusa dilaporkan mati akibat kekurangan air. Menurutnya, Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão telah menginisiasi pengerahan relawan pemadam kebakaran untuk mengangkut air ke pulau tersebut sebagai upaya menyelamatkan satwa liar.

Ramos-Horta menambahkan, Horta Show bertujuan mendekatkan pengetahuan ilmiah kepada masyarakat dengan menghadirkan para ahli untuk menjelaskan risiko yang ditimbulkan fenomena iklim ekstrem serta langkah-langkah yang perlu dilakukan guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Sementara itu, Direktur Nasional Meteorologi dan Geofisika, Terêncio Fernandes Moniz, menjelaskan El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah meningkat di atas kondisi normal sehingga memengaruhi pola cuaca global.

Menurutnya, Timor-Leste saat ini telah berada di bawah pengaruh El Nino. Data meteorologi menunjukkan suhu permukaan laut meningkat sekitar 1,9 derajat Celsius di atas rata-rata dan berpotensi mendekati 3 derajat Celsius, yang mengindikasikan fenomena El Niño dengan intensitas kuat.

Meski demikian, Terêncio Moniz mengatakan Timor-Leste diperkirakan masih akan menerima curah hujan hingga September, terutama di wilayah pesisir selatan, meskipun jumlahnya berada di bawah kondisi normal.

“El Nino bukan berarti tidak akan turun hujan. Hujan tetap akan terjadi di beberapa wilayah, hanya saja curahnya lebih sedikit dibandingkan biasanya,” katanya, seraya mengimbau masyarakat agar tidak panik karena masih terdapat faktor-faktor meteorologi lain yang turut memengaruhi kondisi cuaca nasional.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Departemen Konservasi Flora dan Fauna, Pedro Pinto, mengatakan El Nino menjadi tantangan besar bagi Timor-Leste mengingat tingginya kerentanan lingkungan dan keterbatasan sumber daya alam yang dimiliki negara tersebut.

Ia menjelaskan dampak yang diperkirakan terjadi meliputi kemarau berkepanjangan, berkurangnya sumber mata air, serta menurunnya produksi pertanian yang berpotensi mengganggu ketahanan pangan.

Sebagai langkah adaptasi, Kementerian Pertanian terus mendorong program rehabilitasi hutan, restorasi kawasan mangrove, dan konservasi lahan.

Pedro Pinto juga mengungkapkan Timor-Leste kehilangan sekitar 1,7 persen tutupan hutan setiap tahun, atau setara dengan sekitar 14.000 hektare, akibat alih fungsi kawasan hutan. Kondisi tersebut dinilai semakin meningkatkan kerentanan negara terhadap bencana dan cuaca ekstrem.

Sementara itu, Sekretaris Negara Kehutanan, Fernandinho Vieira, mengatakan perlindungan hutan dan satwa liar menjadi kunci untuk menjamin pembangunan berkelanjutan.

Ia menjelaskan pemerintah tengah mengintensifkan kampanye kepada masyarakat guna mencegah kebakaran hutan dan lahan, penebangan liar, serta perburuan satwa liar. Menurutnya, kebakaran hutan mempercepat peningkatan suhu udara, mengurangi ketersediaan air, mengeringkan mata air, serta berdampak pada kesehatan masyarakat.

Kepala Staf Kepresidenan Republik, Henriqueta da Silva, mengatakan tema Super El Nino dipilih berdasarkan proyeksi ilmiah dan meteorologi yang menunjukkan Timor-Leste berpotensi mengalami kondisi serupa dengan negara-negara lain yang terdampak fenomena tersebut.

Ia menjelaskan Horta Show menjadi sarana edukasi publik yang mempertemukan para ahli dengan masyarakat untuk membahas langkah-langkah mitigasi perubahan iklim sekaligus menandai dimulainya Semana Verde, yang digelar bersamaan dengan Dili International Marathon.

Henriqueta menambahkan, selain meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi Super El Nino, inisiatif tersebut juga bertujuan mendorong kesadaran masyarakat untuk melindungi hutan dan satwa liar yang terus mengalami degradasi.

Menurutnya, pelestarian sumber daya alam merupakan fondasi penting dalam memperkuat ketahanan iklim, menjaga keanekaragaman hayati, serta mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis ekonomi hijau di Timor-Leste.

Reporter: Cidalia Fátima

Editor   : Armandina Moniz 

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!