iklan

HEADLINE, SOSIAL INKLUSIF

Sosok Mendiang Lú Olo di mata Alkatiri : Pribadi sederhana, jujur, dan memiliki integritas tinggi

Sosok Mendiang Lú Olo di mata Alkatiri : Pribadi sederhana, jujur, dan memiliki integritas tinggi

Mantan Perdana Menteri Mari Alkatiri dan Mantan Presiden Republik Francisco Guterres Lú Olo. Foto Dokumen GPM

DILI, 24 Juni 2026 (TATOLI) – Wafatnya  Mantan Presiden Republik Demokrat Timor-Leste (RDTL), Francisco Guterres “Lú Olo” meninggalkan duka mendalam.  Sekretaris Jenderal Partai FRETILIN, Mari Alkatiri yang merupakan rekan seperjuangan sekaligus sahabat dekat mengenang Mendiang Lú Olo sebagai pribadi yang sederhana, jujur, dan memiliki integritas tinggi. 

Sekretaris Jenderal Partai FRETILIN, Alkatiri sebagai sahabat seperjuangannya setelah tiga hari memilih diam dan menahan duka, Mari Alkatiri, akhirnya angkat bicara mengenai kepergian sosok sahabat seperjuangannya, Francisco Guterres Lú Olo. Dengan suara yang beberapa kali terdengar berat, Alkatiri mengungkapkan bahwa pesan terakhir yang ditinggalkan mendiang Lú Olo adalah agar perjuangan untuk bangsa dan negara tidak berhenti.

Sejak kabar wafatnya mantan Presiden Republik itu pada Minggu, 21 Juni 2026, di Kuala Lumpur, Malaysia, Alkatiri nyaris tidak memberikan komentar kepada publik. Bahkan saat mendampingi kepulangan jenazah bersama keluarga mendiang ke Dili pada 23 Juni, ia memilih tidak menyampaikan sepatah kata pun kepada awak media yang menunggu di Bandara Internasional Presiden Nicolau Lobato.

Bagi banyak orang yang menyaksikannya, kesedihan Alkatiri tampak begitu mendalam. Bukan hanya karena Lú Olo adalah Ketua Umum Partai FRETILIN dan tokoh penting dalam sejarah bangsa, tetapi juga karena hubungan keduanya telah terjalin selama puluhan tahun dalam perjuangan kemerdekaan Timor-Leste.

Sekretaris Jenderal Partai FRETILIN, Mari Alkatiri menggelar konfrensi pers. Foto TATOLI

Baru pada Rabu pagi (24/06), melalui konferensi pers di kediaman mendiang di Farol, Dili, Alkatiri memutuskan berbicara kepada publik mengenai sosok yang selama ini menjadi rekan seperjuangan sekaligus sahabat dekatnya.

Dalam kesempatan itu, Alkatiri mengenang Lú Olo sebagai pribadi yang sederhana, jujur, dan memiliki integritas tinggi. Menurutnya, mendiang merupakan pemimpin yang tidak pernah memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi dan selalu mengutamakan kepentingan rakyat serta negara.

“Lú Olo adalah orang yang sangat jujur. Ia tidak pernah mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Ia selalu bekerja dengan hati yang bersih untuk bangsa ini,” katanya.

Alkatiri  juga mengenang salah satu percakapan terakhirnya dengan Lú Olo yang hingga kini masih terpatri kuat dalam ingatannya.

“Suatu ketika kami berbicara. Ia mengatakan bahwa jika suatu hari salah satu dari kami pergi lebih dulu, maka yang masih hidup harus melanjutkan perjuangan. Hari ini saya teringat kembali kata-kata itu,” ujarnya.

Menurut Alkatiri, pesan tersebut bukan sekadar ungkapan pribadi, melainkan amanat yang harus diteruskan kepada generasi penerus bangsa. Ia mengaku bahwa menerima kenyataan kehilangan sosok seperti Lú Olo bukanlah perkara mudah.

“Lú Olo telah pergi, tetapi perjuangan tidak boleh berhenti. Kita harus melanjutkan apa yang telah kami bangun bersama selama bertahun-tahun,” tegasnya.

Alkatiri juga mengaitkan pesan sahabatnya itu dengan warisan perjuangan para pendiri bangsa, termasuk mendiang Nicolau Lobato, yang selalu menekankan pentingnya keberlanjutan perjuangan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Dalam situasi sedih seperti ini, kita harus bersatu dan mengubah kesulitan yang kita hadapi menjadi kekuatan. Dengan pertolongan Tuhan, kita harus terus melangkah maju,” kata Alkatiri.

 Alkatiri juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat berangkat ke Malaysia saat Lú Olo menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Prince Court. Saat itu ia berharap sahabatnya dapat pulih dan kembali ke tanah air.

Namun kondisi kesehatan Lú Olo yang terus menurun membuat harapan tersebut tidak terwujud. “Kami semua berharap ia bisa sembuh dan pulang bersama kami. Tetapi Tuhan memiliki rencana lain,” tuturnya.

Meski demikian, Alkatiri menegaskan bahwa kepergian Lú Olo tidak akan mengakhiri cita-cita yang selama ini diperjuangkannya. Sebaliknya, ia mengajak seluruh kader FRETILIN dan rakyat Timor-Leste untuk menjadikan duka tersebut sebagai sumber kekuatan dalam melanjutkan pembangunan bangsa.


Mantan Perdana Menteri Mari Alkatiri dan Mantan Presiden Republik Francisco Guterres Lú Olo. Foto Dokumen Kepresidenan Republik

“Pesan terakhirnya jelas. Kita harus terus berjuang. Kita harus melanjutkan pekerjaan yang belum selesai demi rakyat dan demi Timor-Leste,” pungkas Alkatiri.

Francisco Guterres Lú Olo meninggal dunia pada 21 Juni 2026 di Rumah Sakit Prince Court, Kuala Lumpur, Malaysia, pada usia 71 tahun. Tokoh yang lahir di Ossu, Kotamadya Viqueque, pada 7 September 1954 itu dikenal sebagai salah satu pemimpin utama perjuangan kemerdekaan Timor-Leste, mantan Presiden Republik periode 2017–2022, serta Ketua Umum Partai FRETILIN yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk bangsa dan negara.

Mari Alkatiri ingin Pemimpin Politik Bersatu

Mari Alkatiri juga dalam konferensi pers itu, mengatakan bahwa sejak lama dirinya memiliki harapan agar para pemimpin politik Timor-Leste dapat bersatu dan menghindari konflik demi membangun dan memajukan negara.

Alkatiri menjelaskan bahwa seruan untuk bersatu bukanlah hal baru. Ia mengingat kembali imbauan yang pernah disampaikannya pada Pemilu 2018, ketika ia menegaskan bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan FRETILIN atau CNRT semata, melainkan kemenangan rakyat Timor-Leste.

“Pada waktu itu saya bahkan menulis surat kepada para pemimpin utama politik agar kita duduk bersama dan mengevaluasi apa lagi yang bisa diperbaiki. Itu bukan baru saya pikirkan sekarang. Jika saat itu saya sudah melakukannya, maka hari ini saya merasakan hal itu lebih dalam lagi. Kita harus memanfaatkan situasi sulit ini untuk mencari jalan memperkuat saling pengertian,” kata Alkatiri.

Menurutnya, ajakan untuk kembali mempererat persatuan telah lama ia suarakan karena ia meyakini bahwa cita-cita para pendiri bangsa dan para martir hanya dapat diwujudkan apabila seluruh elemen bangsa bekerja bersama.

Alkatiri menegaskan bahwa persatuan di antara para pemimpin politik dan tokoh perjuangan akan memperkuat upaya mengatasi kemiskinan, mengurangi konflik, serta menghapus penderitaan yang masih dialami sebagian rakyat Timor-Leste.

“Ketika kita bersatu kembali, kita mengangkat satu tujuan bersama. Tujuan itu adalah membebaskan rakyat dari kesulitan dan kemiskinan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa generasi yang terlibat dalam perjuangan sejak masa perlawanan hingga kemerdekaan memiliki tanggung jawab untuk meninggalkan warisan positif bagi generasi muda agar dapat dilanjutkan dan disempurnakan di masa depan.

“Yang terpenting adalah bekerja bersama demi kepentingan bersama. Kami yang berasal dari generasi perjuangan harus meninggalkan sesuatu yang positif agar generasi baru dapat meneruskannya dan membuatnya lebih baik lagi,” katanya. 

Reporter  : Cidalia Fátima

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!