DILI, 24 Juni 2026 (TATOLI) – Sekretaris Jenderal FRETILIN, Mari Alkatiri, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah yang telah memutuskan lokasi tempat pemakaman mantan Presiden Republik Timor-Leste, Francisco Guterres Lú Olo, di Jardim dos Heróis atau Taman Makam Pahlawan (TMP) Metinaro, tepatnya di antara makam Proklamator Francisco Xavier do Amaral dan pejuang nasional José António da Costa “Ma’Huno”.
Alkatiri mengatakan keputusan tersebut merupakan hak yang layak diterima oleh mendiang Lú Olo atas jasa dan kontribusinya bagi bangsa dan negara.
“Atas keputusan ini kami berterima kasih. Kami mengatakan bahwa Ia memiliki hak untuk mendapatkannya,” ujar Alkatiri kepada wartawan dalam konfrensi pers di kediaman rumah duka, Farol, Rabu ini.
Menurut Alkatiri, Lú Olo berasal dari rakyat biasa dan sejak tahun 1975 telah mengabdikan diri dalam perjuangan kemerdekaan Timor-Leste. Ia memulai perannya sebagai militan FRETILIN, kemudian menjadi asisten politik, Sekretaris Komisi Direksi FRETILIN dalam perjuangan bersenjata, hingga dipercaya memegang berbagai jabatan penting setelah kemerdekaan.
Berita terkait : Presiden Ramos-Horta : Warisan perjuangan Lú Olo akan terus jadi inspirasi bagi semua rakyat
“Ia pernah menjadi Ketua Majelis Konstituante yang menyusun Konstitusi, kemudian Ketua Parlemen Nasional, dan akhirnya Presiden Republik. Semua itu menunjukkan bahwa Ia benar-benar berasal dari rakyat dan menjadi tokoh negara yang ikut membangun fondasi negara ini,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa meskipun banyak pihak terlibat dalam perjuangan tersebut, Lú Olo merupakan salah satu pemimpin utama yang menggerakkan proses itu.
“Kami bekerja bersama dalam perjuangan itu, tetapi Ia yang memimpin proses tersebut,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Negara Urusan Veteran, César dos Santos da Silva “Merak”, mengonfirmasi bahwa Lú Olo akan dimakamkan di antara makam Francisco Xavier do Amaral dan Ma’Huno di TMP Metinaro.
César dos Santos menjelaskan bahwa upacara pemakaman kenegaraan akan dilaksanakan pada 26 Juni 2026 dengan serangkaian kegiatan penghormatan yang telah disiapkan sebelumnya.
Pada pagi hari sebelum pemakaman, jenazah akan diberangkatkan dari kediaman duka menuju Kantor Pusat Komite Sentral FRETILIN dan kemudian dibawa ke Markas Besar F-FDTL di Fatuhada.
“Setelah kunjungan penghormatan ke institusi-institusi tersebut selesai, jenazah akan dibawa ke TMP Metinaro, tempat yang telah dipersiapkan untuk pemakamannya di dekat makam Avó Ma’Huno dan Avó Xavier,” jelas César dos Santos.
Berita terkait : Uskup Leandro akan pimpin Misa Requiem untuk Francisco Guterres Lú Olo
Misa requiem akan dilaksanakan di Gereja Katedral Dili pada Jumat (26/06) pukul 11.00 waktu Timor-Leste. Setelah rangkaian penghormatan di sejumlah institusi negara selesai, jenazah akan dibawa ke Katedral untuk mengikuti misa dan penghormatan terakhir sebelum dimakamkan.
César dos Santos menambahkan bahwa kegiatan penghormatan akan terus berlangsung hingga 25 Juni 2026. Panitia penyelenggara mengimbau seluruh masyarakat yang datang untuk mematuhi aturan dan prosedur yang telah ditetapkan agar seluruh rangkaian acara berjalan dengan tertib.
“Kami mengarahkan seluruh masyarakat yang hadir untuk mengikuti aturan yang telah ditetapkan sehingga upacara ini dapat berlangsung dengan baik dan teratur,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa penghormatan resmi telah dimulai sejak 23 Juni 2026 pukul 13.00 waktu Timor-Leste dengan kehadiran berbagai institusi negara di Dili.
Terkait kemungkinan kehadiran Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão dan anggota Pemerintah lainnya dalam upacara pemakaman, César dos Santos mengatakan hingga kini belum ada konfirmasi resmi karena Perdana Menteri masih menjalankan kunjungan luar negeri.
“Saya belum dapat memberikan informasi yang pasti karena Perdana Menteri masih berada dalam kunjungan resmi ke luar negeri. Oleh karena itu, kami belum dapat memberikan jawaban definitif mengenai kehadiran mereka dalam upacara pemakaman ini,” ujarnya.
Di sisi lain, Perdana Menteri Sementara, Mariano Assanami Sabino, mengatakan bahwa Lú Olo akan dimakamkan di lokasi yang lebih tinggi di sisi makam Ma’Huno sebagai bentuk penghormatan atas perjalanan perjuangannya.
“Alasan lokasi itu berada lebih tinggi adalah karena penghormatan terhadap seluruh proses perjuangannya, mulai dari masa gerilya di hutan hingga menjadi Ketua Majelis Konstituante yang menyusun dan mengesahkan Konstitusi Timor-Leste. Itu adalah peristiwa bersejarah yang hanya terjadi satu kali dan tidak akan terulang lagi,” tutur Mariano Assanami Sabino.
Mantan Presiden Francisco Guterres “Lú Olo” meninggal dunia di Rumah Sakit Prince Court, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Minggu (21/06) malam, pada usia 71 tahun, setelah menjalani perawatan kesehatan intensif.
Wafatnya, Mantan Presiden Lú Olo menjadi pukulan terbesar bukan hanya bagi keluarga, para pemimpin, teman seperjuangan, namun gelombang duka juga di rasakan rakyat Timor-Leste. Duka cita itu terlihat jelas saat Jenazah Mantan Presiden Lú Olo dari Malaysia tiba di Bandara Internasional, Dili, isak tangis pun pecah.
Rakyat Timor-Leste kehilangan seorang pahlawan, pejuang, dan pemimpin yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya bagi perjuangan kemerdekaan, pembangunan bangsa, dan perdamaian nasional.
Francisco Guterres “Lú Olo” lahir di Ossu, Kotamadya Viqueque, pada 07 September 1954. Francisco Lú-Olo menikah dengan Cidália Lopes Nobre Mouzinho Guterres, dan memiliki empat anak, tiga laki-laki dan satu perempuan yaitu, Francisco Cidalino Guterres, Eldino Nobre Guterres, Felezito Samora Guterres dan Dália Luliana Nobre Guterres.
Francisco Lú-Olo selama masa hidup telah mengabdikan sebagian besar hidupnya bagi perjuangan pembebasan nasional Timor-Leste. Setelah wafatnya Konis Santana pada 1998, ia dipercaya memimpin sayap politik perjuangan kemerdekaan Timor-Leste.
Setelah kemerdekaan, ia terpilih sebagai Ketua Majelis Konstituante pada 2001 yang bertugas menyusun Konstitusi Republik. Ia kemudian menjabat sebagai Ketua Parlemen Nasional pertama periode 2002–2007 sebelum terpilih sebagai Presiden Republik pada 2017 dan mengemban jabatan tersebut hingga 2022.
Lú-Olo diakui sebagai pemimpin perlawanan yang berhasil melakukan transisi dari seorang pejuang menjadi seorang pemimpin di era Pemerintahan Konstitusional dan dalam Supremasi Hukum yang Demokratis.
Francisco Lú-Olo, satu-satunya pemimpin pejuang dari masa perlawanan di Timor-Leste yang berhasil belajar dan akan segera menyelesaikan kursus praktiknya di bidang Hukum, dan akan segera mendapatkan lisensi sebagai seorang pengacara.
Atas dedikasi dan jasa-jasanya, Lú Olo menerima berbagai penghargaan kenegaraan, termasuk Colár Orden Timor-Leste pada 2009, Grande Colár Orden Timor-Leste pada 2022, serta Grande Colar da Ordem do Infante D. Henrique dari Republik Portugal sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam memperkuat hubungan antara Timor-Leste dan Portugal.
Sementara itu, misa requiem untuk mendiang Francisco Lú-Olo akan digelar di Gereja Katedral Dili, pada Jumat (26/06) pukul 11.00 WTL dan akan dipimpin Uskup Keuskupan Baucau, Leandro Maria Alves.
Selanjutnya, proses pemakaman Mantan Presiden “Lú Olo” akan dilakukan pada Jumat, 26 Juni 2026, di Taman Makam Pahlawan Metinaro, Dili.
Tim TATOLI




