DILI, 18 Februari 2026 (TATOLI) – Menteri Luar Negeri II Brunei Darussalam, Erywan Pehin Yusof, dalam Kuliah Umum yang digelar Kementerian Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama (MNEC) Republik Demokratik Timor-Leste, menyoroti negara-negara kecil, seperti Brunei Darussalam, dapat memberikan pengaruh regional yang signifikan melalui konsistensi, kredibilitas, dan kerja sama strategis.
Dalam Kuliah Umum yang digelar dengan tema “ “ASEAN: Lessons from a Small State”, itu diadakan di Aula Utama Kementerian Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Timor-Leste, Pantai Kelapa, Dili, Rabu (18/02).
Kuliah Umum tersebut juga dihadiri oleh anggota Pemerintah, Korps Diplomatik, perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi internasional, akademisi, mahasiswa, dan diplomat Timor-Leste.
Menteri Erywan Pehin Yusof dalam pidatonya itu, menekankan bahwa Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menawarkan peluang nyata untuk pertumbuhan ekonomi, integrasi perdagangan, dan penguatan kelembagaan, dan menegaskan bahwa ketahanan negara-negara kecil bergantung pada sumber daya manusia yang terampil, lembaga yang kuat, dan kohesi sosial.
“Ketika aturan-aturan jelas dan dihormati, bahkan negara-negara terkecil pun dapat menegaskan diri. Pengalaman Brunei menunjukkan bahwa diplomasi yang didasarkan pada kepercayaan dan konsistensi memiliki bobot nyata, bahkan untuk negara-negara kecil,” ujarnya.

Berita terkait : Brunei Darussalam dukung kesiapan Timor-Leste pimpin Kepresidenan ASEAN pada 2029
Menteri Erywan Pehin Yusof juga menambahkan bahwa integrasi ekonomi regional menawarkan keuntungan yang “nyata”, seperti pengurangan tarif, akses pasar, peningkatan daya saing ekspor, dan pembukaan peluang di bidang jasa keuangan, teknologi, dan pendidikan.
“Nilai sebenarnya terletak pada implementasi aturan yang efektif, kesederhanaan, dan transparansi. Hal ini memastikan bahwa semua orang dapat memperoleh manfaat dari integrasi. Kita bukan tamu di meja perundingan, tetapi anggota keluarga regional, dengan suara dan tanggung jawab yang jelas. Persatuan regional adalah strategi yang berhasil dan memperkuat semua peserta,” tambahnya.
Anggota Pemerintah Brunei itu menekankan bahwa aksesi Timor-Leste ke ASEAN menyiratkan tanggung jawab aktif: “untuk berkontribusi pada stabilitas kolektif dan menegaskan kedaulatan negara dalam konteks regional”.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Timor-Leste, Bendito Freitas dalam sambutannya menekankan bahwa aksesi Timor-Leste ke ASEAN pada Oktober lalu “bukan hanya tindakan formal, tetapi sebuah proses yang menuntut penguatan kelembagaan, penyelarasan kebijakan, dan disiplin diplomatik”.
“Menjadi anggota penuh ASEAN bukanlah titik akhir, tetapi tantangan berkelanjutan yang mewajibkan kita untuk berkontribusi secara aktif dan bertanggung jawab terhadap pembangunan regional. Partisipasi kita memungkinkan kita tidak hanya untuk menegaskan kedaulatan Timor-Leste, tetapi juga untuk memperkuat stabilitas dan kemakmuran bersama,” tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa partisipasi aktif menawarkan peluang strategis di berbagai sektor, seperti ekonomi, perdagangan, pendidikan, dan keamanan. Ia juga menekankan pentingnya kerja sama dengan mitra regional untuk mengatasi tantangan global seperti perubahan iklim, transformasi digital, dan persaingan ekonomi.
Sementara itu, berdasarkan agenda Menteri Erywan Pehin Yusof akan bertemu dengan Perdana Menteri, Xanana Gusmão, dan Presiden Republik, José Ramos-Horta.
Menteri Luar Negeri II Brunei Darussalam, Erywan Pehin Yusof bersama delegasi akan berada di Timor-Leste selama tiga hari terhitung pada 18 – 20 Februari.
Reporter : Afonso do Rosário (Penerjemah : Armandina Moniz)
Editor : Isaura Lemos de Deus




