BALI, 26 November 2025 (TATOLI)—Negara-negara ASEAN bersama Australia menegaskan kembali komitmen untuk memperkuat peran pemuda dalam mencegah radikalisasi dan ekstremisme kekerasan melalui ASEAN–Australia Counterterrorism Workshop yang berlangsung pada 26–27 November 2025 di Bali, Indonesia.
Brigadir Jenderal Polisi Oktavianus Martin, Kepala Pelaksana Biro Kerja Sama Internasional Divisi Hubungan Internasional Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam pesan yang dibacakan menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Australia atas dukungan berkelanjutan terhadap agenda kontra-terorisme ASEAN.
Ia menegaskan bahwa, pemuda memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi radikalisasi, terutama di ruang digital.
“Pemuda bukan sekadar penerima manfaat dari kebijakan, tetapi mitra, inovator, dan rekan pencipta bagi kawasan yang lebih aman dan tangguh,” ungkapnya dalam pesan yang dibacakan di kegiatan yang digelar di Anvaya Resort Bali, Rabu ini.
Berita terkait : ASEAN setujui rencana sektoral transportasi 2026-2030
Brigjen Martin menekankan bahwa sekitar sepertiga populasi ASEAN adalah pemuda, yang menjadikan kelompok ini rentan dieksploitasi oleh kelompok ekstremis, namun sekaligus memiliki kapasitas besar untuk menjadi agen perubahan.
Ia juga menggarisbawahi berbagai kerangka kerja regional yang menempatkan pemuda sebagai pilar penting upaya pencegahan ekstremisme, termasuk Manila Declaration 2017, Bali Work Plan 2019–2025, serta ASEAN Leaders’ Declaration on the Use of Sports for Preventing Violent Extremism.
Workshop ini merupakan bagian dari implementasi Bali Work Plan yang diperpanjang hingga 2026 serta SOMTC–Australia Work Plan on Cooperation to Combat Transnational Crime 2022–2025. Indonesia, sebagai Voluntary Lead Shepherd untuk sektor kontra-terorisme, menegaskan komitmen memperkuat kerja sama lintas sektor dan memastikan suara pemuda terintegrasi dalam kebijakan.
Dalam pesan video, Duta Besar Australia untuk Kontra-Terorisme, Gemma Huggins, menekankan pentingnya kemitraan ASEAN–Australia dalam menghadapi ancaman terorisme yang terus berkembang.
“Tantangan radikalisasi pemuda terjadi secara regional dan global. Pemuda bukan hanya bagian dari solusi, mereka adalah mitra yang tepercaya,” ujarnya.
Huggins menyoroti meningkatnya paparan anak muda terhadap konten ekstremis di ruang digital. Karena itu, kata dia, kolaborasi dan pemberdayaan pemuda menjadi kunci untuk mencegah radikalisasi sejak dini.
Direktur Counterterrorism Asia Section DFAT Australia, Robert Rushby, menegaskan kembali komitmen Australia mendukung ASEAN dalam membangun ketahanan regional.
“Kita jauh lebih efektif ketika bekerja bersama. Workshop ini memperkuat momentum kerja sama dalam memberdayakan pemuda sebagai mitra pencegahan,” katanya.
Rushby juga mengapresiasi peran Indonesia sebagai penggerak utama kerja sama regional serta dukungan teknis dari berbagai lembaga di Indonesia dan Australia.
Selama dua hari, workshop membahas sejumlah isu kunci, di antaranya, tren baru radikalisasi online, inisiatif ketahanan komunitas berbasis pemuda, sistem peringatan dini dan pencegahan berbasis masyarakat, dialog antar generasi, peran gender dan kepemimpinan pemuda.
Diskusi-diskusi ini bertujuan memperkuat arsitektur keamanan kawasan dan memastikan partisipasi pemuda dalam kebijakan prevention/countering violent extremism (P/CVE).
Tahun ini, Timor-Leste juag mengambil bagian sebagai anggota ASEAN dengan menghadirkan perwakilan dari Layanan Migrasi, Direktorat Jenderal Pemuda, Sentru ba Haburas Movimentus Direitus Umanus (SBHMDU), Asosiasi Jurnalis Timor-Leste (AJTL).
Workshop ASEAN–Australia ini menegaskan komitmen kedua pihak untuk memperkuat peran pemuda sebagai mitra strategis dalam menciptakan kawasan yang lebih aman, inklusif, dan damai.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Julia Chatarina




