BOBONARO, 16 Oktober 2025 (TATOLI) – Perdana Menteri Republik Demokratik Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão, menyerukan agar generasi kini terus menegakkan kebenaran dan kebebasan pers, sembari mengenang keberanian lima jurnalis asing yang gugur di Balibo pada 1975.
“Kebenaran tidak bisa dibungkam. Semoga semangat Balibo Five terus menginspirasi generasi jurnalis berikutnya. Viva Timor-Leste, viva Balibo!” kata Xanana dalam pesan video pada acara peringatan di Balibo, Bobonaro, Kamis ini.
Ia menambahkan “16 Oktober adalah hari yang penuh duka dan perenungan. Hari ini kita mengenang keberanian lima jurnalis internasional yang dibunuh di Balibo karena menjalankan tugas mereka mencari kebenaran”.
Kelima jurnalis tersebut adalah Greg Shackleton dan Anthony Stewart asal Australia, Brian Peters dan Malcolm Rennie asal Inggris, serta Gary Cunningham asal Selandia Baru. Mereka tewas saat meliput situasi di perbatasan Timor-Leste menjelang invasi Indonesia tahun 1975.
Menurut Xanana, para jurnalis muda itu percaya bahwa status mereka sebagai wartawan akan dihormati.
“Mereka melukis bendera Australia di dinding rumah yang kini dikenal sebagai Flag House, tanda harapan bahwa mereka dilindungi oleh kebenaran,” ungkapnya.
Rekaman video yang mereka hasilkan di Balibo dan Maliana memperlihatkan bukti pelanggaran batas oleh pasukan Indonesia serta seruan para pemimpin Timor kepada PBB untuk bertindak. Rekaman itu kemudian dikirim ke Dili oleh jurnalis muda Timor saat itu, José Ramos-Horta, yang kini menjabat Presiden Republik.
“Beberapa hari setelah laporan itu disiarkan di televisi Australia, mereka dibunuh. Pemerintah Australia, Inggris, dan Selandia Baru menerima klaim Indonesia. Keluarga mereka menunggu puluhan tahun untuk mendapatkan kebenaran. Namun, keberanian dan dedikasi mereka tidak akan pernah kita lupakan,” ujar Xanana.
Xanana juga mengenang jurnalis asing lain yang gugur demi melaporkan kebenaran di Timor-Leste, seperti Roger East, yang dibunuh di tepi laut Dili pada 7 Desember 1975, serta Sander Thoenes asal Belanda dan Agus Mulyawan asal Indonesia yang tewas pada September 1999.
Selain itu, Perdana Menteri memberikan penghormatan kepada jurnalis Australia John Martinkus, yang meninggal dunia di Melbourne pada 14 September 2025. Martinkus dikenal sebagai suara lantang yang melaporkan kekerasan di Timor pada masa akhir kekuasaan rezim Soeharto.
“Kita, rakyat Timor-Leste, tahu apa artinya dibungkam. Selama 24 tahun penjajahan, suara kita ditekan dan martabat kita dirampas. Namun, kebenaran tetap menemukan jalannya,” tegas Xanana.
Dalam pidatonya, Xanana juga memuji kerja Balibo House Trust, lembaga yang didirikan keluarga Balibo Five dengan dukungan Pemerintah Victoria pada 2003 untuk melestarikan ingatan mereka sekaligus membantu masyarakat lokal.
Balibo House Trust telah memulihkan Flag House yang kini menjadi Balibo Community Learning Centre dan Balibo Dental Clinic, serta merevitalisasi Benteng Portugis Balibo sebagai pusat pelatihan dan pariwisata komunitas.
“Mereka telah mengubah tragedi menjadi kesempatan, dan kenangan menjadi aksi nyata. “Trust ini menghormati para jurnalis Balibo dengan cara paling bermakna dan memberi harapan serta martabat kepada rakyat yang untuknya mereka berkorban,” kata PM Xanana.
Menutup pesannya, Xanana menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk melindungi kebebasan pers di Timor-Leste.
“Sebagai Perdana Menteri, saya menegaskan bahwa pemerintah akan terus menjamin kebebasan pers, menjaga independensi media, dan memastikan tak ada lagi jurnalis yang mengalami nasib seperti di Balibo hanya karena menjalankan tugasnya,” ucapnya.
Reporter : Cidalia Fátima
Editor : Armandina Moniz




