DILI, 29 Agustus 2025 (TATOLI) – Dalam Dili International Trade Expo (DITE) 2025 edisi perdana, Kamboja menekankan pentingnya integrasi ekonomi regional dan global bagi diversifikasi dan transformasi ekonomi ekspor negara tersebut.
Menteri Perdagangan Kamboja, Pich Rithi, menyampaikan hal ini pada hari kedua DITE 2025 di Gedung Serbaguna Grup Media Nasional di Dili, dengan tema “Integrasi Ekonomi Kamboja di ASEAN: Pengalaman dan Peluang”.
Ia menekankan bahwa keanggotaan Kamboja di ASEAN sejak 1999 menjadi pengalaman transformatif yang mendorong pertumbuhan ekonomi signifikan.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita meningkat dari $400 pada 2004 menjadi $1.875 pada 2023, sementara volume perdagangan naik dari $2,8 miliar pada 2000 menjadi $55,4 miliar pada 2023.
“Saat ini, Kamboja mengekspor ke lebih dari 170 pasar, dengan portofolio yang melampaui sektor tekstil, kini mencakup produk pertanian, elektronik, dan komponen otomotif,” ujar Pich Rithi.
Ia menambahkan bahwa posisi Kamboja dibandingkan Negara-Negara Terbelakang (LDC) meningkat dari peringkat 470 pada 1995 menjadi 70 pada 2023, dan menargetkan keluar dari kategori LDC pada Desember 2029.
Kamboja juga berambisi menjadi negara berpenghasilan menengah pada 2029–2030, dan berpenghasilan tinggi pada 2050. Meski kemajuan besar telah dicapai, tantangan seperti disparitas pembangunan antarnegara ASEAN, hambatan non-tarif, ketidakpastian rantai pasok global, risiko iklim, dan volatilitas pasar tetap ada.
Transformasi digital, pertumbuhan hijau, dan pengembangan sumber daya manusia disebut Pich Rithi sebagai peluang strategis untuk kawasan ini. Ia menekankan bahwa integrasi ekonomi ASEAN adalah tanggung jawab bersama yang dapat mengubah tantangan menjadi peluang dan mendorong kemakmuran berkelanjutan.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Timor-Leste, Francisco Guterres, mewakili Wakil Perdana Menteri Francisco Kalbuadi Lay, menekankan komitmen pemerintah untuk menciptakan lingkungan bisnis yang kuat, transparan, dan ramah investasi.
“Timor-Leste bukan hanya negeri dengan lanskap yang menakjubkan dan budaya yang kaya, tetapi juga negara penuh peluang yang menunggu untuk dijelajahi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kepastian hukum, stabilitas, dan prediktabilitas adalah pilar utama investasi, serta hak properti dan supremasi hukum dijamin sepenuhnya.
Menteri Perdagangan dan Industri, Filipus Nino Pereira, menyatakan bahwa DITE 2025 bukan sekadar acara kalender, melainkan bagian dari visi strategis Timor-Leste untuk integrasi ekonomi global, pengembangan sektor swasta, dan penciptaan kemitraan yang saling menguntungkan.
Ia menekankan bahwa keanggotaan negara ini di WTO dan integrasinya ke ASEAN adalah langkah penting untuk menjadikan Timor-Leste mitra ekonomi yang andal dan tujuan investasi yang menarik. Pengembangan UMKM juga menjadi prioritas pemerintah sebagai penggerak ekonomi dan tulang punggung masyarakat.
Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri Timor-Leste (CCI-TL), Jorge Serrano, menyoroti peran CCI-TL dalam memfasilitasi ekosistem bisnis, mempertemukan wirausahawan dengan peluang nyata, serta mendorong pertumbuhan ekonomi, diversifikasi produksi, dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Ia menekankan pentingnya kemitraan publik-swasta di sektor strategis seperti infrastruktur, agribisnis, energi, pariwisata, transformasi digital, perdagangan, dan industri lokal, dengan menekankan transparansi, etika, dan tanggung jawab perusahaan.
“Forum ini lebih dari sekadar konvensi bisnis. Ini adalah tempat bertemunya ide, individu, dan proyek yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat Timor-Leste,” pungkas Jorge Serrano.
Reporter: Cidalia Fátima
Editor: Armandina Moniz




