Presiden Ramos–Horta soroti pentingnya kepemimpinan inspiratif untuk perubahan sosial

DILI, 31 Juli 2025 (TATOLI)—Presiden Republik, Jose Ramos-Horta, menyoroti pentingnya Kepemimpinan Inspiratif untuk Perubahan Sosial saat menjadi Pembicara utama di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Indonesia, dengan tema “Memberdayakan Masyarakat : Pendidikan, Kewirausahaan Sosial, dan Perdamaian”.
“Hari ini, saya ingin berbagi beberapa refleksi tentang apa yang saya yakini sebagai “Kepemimpinan Inspiratif untuk Perubahan Sosial”, yang diambil dari kemenangan dan tantangan yang telah saya saksikan dan alami. Dan, apa arti sebenarnya menjadi pemimpin yang inspiratif dalam konteks perubahan sosial?,” kata Presiden Ramos-Horta, saat menjadi pembicara Utama di UGM, Yogyakarta, Indonesia, Kamis ini.
Dikatakan, lebih dari sekadar gelar atau otoritas formal, kepemimpinan inspiratif sejati terletak pada upaya menyalakan api potensi dalam diri orang lain, memobilisasi individu dan komunitas menuju visi bersama tentang masa depan yang lebih adil, inklusif, berkelanjutan, dan damai.
Presiden Ramos-Horta mengatakan, kepemimpinan semacam itu menuntut, pertama dan terutama, empati, yaitu kemampuan untuk mendengarkan dan merasakan perjuangan serta harapan orang-orang yang ingin dilayani, terutama mereka yang paling rentan, kurang beruntung, dan terpinggirkan.
Kedua, kepemimpinan ini membutuhkan ketekunan dan ketahanan. Jalan menuju perubahan itu sulit. Seorang pemimpin yang inspiratif harus memiliki kekuatan untuk bertahan, bangkit setelah setiap kegagalan, dan menanamkan keuletan yang sama kepada orang lain.
Integritas juga penting. Kepercayaan adalah fondasi dari setiap gerakan yang langgeng. Seorang pemimpin harus mewujudkan kejujuran, transparansi, dan kesetiaan pada prinsip-prinsipnya, meskipun sulit dan tidak populer.
Dikatakan, seorang pemimpin harus mampu mengartikulasikan visi yang meyakinkan untuk masa depan yang bebas dari konflik, kemiskinan, dan ketidakadilan serta visi tersebut harus didasarkan pada pemahaman yang realistis tentang masa kini dan ditegakkan dengan langkah-langkah serta tujuan yang konkret dan dapat dicapai. Ini tentang bermimpi besar, tetapi bertindak cerdas!
Kepemimpinan yang inspiratif, di atas segalanya, berpusat pada masyarakat. Ini bukan tentang memaksakan solusi, tetapi tentang mendengarkan secara mendalam masyarakat, memahami kebutuhan mereka, kekuatan inheren mereka, dan kearifan tradisional mereka serta menghargai pengetahuan lokal serta memberdayakan mereka untuk menjadi arsitek transformasi mereka sendiri, dan membekali mereka dengan perangkat, keterampilan, dan peluang sehingga mereka dapat membangun jalan mereka sendiri.
Dalam semangat ini, katanya pengalaman Timor-Leste, saat bergerak menuju keanggotaan penuh ASEAN, yang diharapkan pada Oktober 2025, menawarkan perspektif yang unik dan berharga.
“Di Timor-Leste, kami percaya bahwa perubahan sosial muncul ketika masyarakat lokal dan lembaga akademik bersatu, terlibat dalam dialog, dan bersama-sama menciptakan solusi. Oleh karena itu, kami mengusulkan agar ASEAN mengakui dan memperkuat model kepemimpinan yang berakar pada tradisi lokal, sistem pengetahuan adat, dan praktik rekonsiliasi masyarakat,” katanya.
Kepala Negara juga menjelaskan bahwa, model seperti “Tara Bandu” dan lingkaran dialog antargenerasi tradisional lainnya harus diakui sebagai alat yang efektif untuk mediasi, transformasi, dan perdamaian sosial di berbagai konteks.
Pilar Perubahan Sosial : Pendidikan, Kewirausahaan Sosial, dan Perdamaian
Kepala Negara juga mengatakan bahwa berdasarkan pengalamannya, inisiatif perubahan sosial yang paling efektif didasarkan pada tiga pilar yang saling terkait. “Menurut pengalaman saya, inisiatif perubahan sosial yang paling efektif didasarkan pada tiga pilar yang saling terkait : Pendidikan, Kewirausahaan Sosial, dan Perdamaian,” katanya.
Pendidikan bukan hanya tentang akumulasi pengetahuan, tetapi tentang pembebasan pikiran dan kesadaran. Di Timor-Leste, setelah bertahun-tahun konflik, sekolah-sekolah hancur dan ribuan anak tidak mendapatkan pendidikan.
“Kami memahami bahwa untuk membangun kembali negara, kami harus membangun kembali pendidikan. Kami menerapkan program pemberian makanan sekolah untuk mencegah kelaparan, malnutrisi, dan stunting, serta memastikan anak-anak dapat tetap bersekolah. Dengan menyediakan makanan bergizi, kami tidak hanya memberi makan pada tubuh, tetapi juga memberi makan pikiran, memungkinkan anak-anak untuk tetap bersekolah, fokus, dan menyerap pengetahuan yang akan memberdayakan mereka seumur hidup,” ungkap Presiden Republik.
Dalam konteks ini, katanya Timor-Leste mengusulkan agar ASEAN mengintensifkan upaya untuk menghubungkan universitas-universitasnya dengan komunitas lokal, menciptakan Jaringan Universitas ASEAN untuk Transformasi Sosial, dengan program bersama dalam literasi digital, inklusi sosial, keadilan iklim, dan kewirausahaan komunitas, guna mendorong kemitraan inovatif dalam Ekonomi Hijau dan Biru.
Jadi, katanya, pengetahuan akademis harus meninggalkan ruang kelas, mengembangkan usaha mikro dan kecil, bisnis keluarga, dan koperasi yang dapat berkembang di desa, lingkungan sekitar, ladang, dan pasar.
Beralih ke Kewirausahaan Sosial, ini merupakan alat yang ampuh dan modern untuk mengubah tantangan sosial menjadi peluang berkelanjutan. Dimana, kaum muda harus menjadi pusat kebijakan publik dan integrasi regional.
“Pemuda kita adalah sumber daya terbesar kita. Kami mengadvokasi, di ASEAN, pembentukan Program Muda ASEAN untuk Kepemimpinan Transformatif, yang berbasis pada magang komunitas, pertukaran antarbudaya, dan laboratorium inovasi lokal, untuk membentuk pemimpin yang mengabdi dengan etika, visi, dan empati,” paparnya.
Dan yang paling mendalam, Perdamaian. Tanpa perdamaian, tidak akan ada pembangunan. Dimana, rekonsiliasi datang dari hati dan pikiran, dan membutuhkan keberanian politik.
“Kami membangun proses kebenaran dan rekonsiliasi, mempromosikan dialog, dan berinvestasi dalam membangun kembali tatanan sosial. Berdasarkan pengalaman ini, kami mengusulkan pembentukan Pusat Studi Perdamaian dan Rekonsiliasi Komunitas ASEAN, yang menyatukan universitas dan organisasi masyarakat sipil di seluruh kawasan untuk mempelajari dan mempromosikan metode resolusi konflik lokal dan keadilan restoratif,” jelasnya.
Bergabung dengan Program KKN-PPM UGM
Presiden Ramos-Horta juga menyoroti program KKN (Kuliah Kerja Nyata) -PPM (Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat) di UGM. “Saya kembali ingin membahas inisiatif Anda yang luar biasa, program KKN-PPM. Integrasi pendidikan dengan pengabdian kepada masyarakat merupakan contoh teladan tentang bagaimana universitas dapat memimpin transformasi sosial,” kata Kepala Negara.
Kepala Negara juga mendorong para mahasiswa, untuk menghayati pengalaman ini sepenuhnya. “ Kehadiran Anda di masyarakat, kedengaran dan tindakan Anda sangat berharga. Terapkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang inspiratif : empati, ketahanan, integritas, dan visi. Dimana, setiap langkah Anda dapat menciptakan dampak yang berkelanjutan,” kata Presiden Ramos-Horta.
Visi untuk Masa Depan
Sebagai Pembicara utama di UGM, Presiden Ramos-Horta juga mengatakan, dunia saat ini menghadapi tantangan yang sangat besar yaitu, kemiskinan multidimensi, ketimpangan ekonomi dan sosial, perubahan iklim, dan konflik yang berkepanjangan.
“Namun, kita juga memiliki kapasitas manusia yang luar biasa untuk inovasi, kerja sama, dan ketahanan. Saya sangat yakin bahwa melalui kepemimpinan yang berdedikasi, kekuatan pendidikan, kreativitas kewirausahaan sosial, dan perjuangan perdamaian yang tak kenal lelah, kita dapat membangun dunia yang lebih baik,” katanya.
Di ASEAN, kepemimpinan yang inspiratif untuk perubahan sosial haruslah yang berani menyatukan tradisi dan inovasi, kearifan lokal dan pengetahuan akademis, pemuda dan orang tua, komunitas dan lembaga.
Kepala Negara juga mengatakan semoga Timor-Leste, meskipun dengan berbagai tantangannya, tetap menjadi contoh sederhana dari harapan, rekonstruksi, dan visi transformatif.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editor : Armandina Moniz

