Presiden GGN Artur Sá : Gunung Lesululi merupakan situs warisan geologi bernilai internasional

BOBONARU, 29 Juli 2026 (TATOLI) – Presiden Global Geopark Network (GGN), Artur Sá, menegaskan bahwa Gunung Lesululi di kotamadya Bobonaro merupakan situs geologi yang memiliki nilai penting secara internasional, karena menyimpan fosil reptil laut Ichthyosaurus yang berusia lebih dari 200 juta tahun.
Artur Sá menyatakan bahwa warisan ini memiliki nilai yang sangat besar bagi Timor-Leste serta harus dilindungi dan dilestarikan.
Pernyataan ini disampaikan ketika Artur Sá, didampingi tim dari Institut Geosains Timor-Leste (IGTL), mengunjungi Gunung Lesululi untuk melihat langsung lokasi penemuan fosil Ichthyosaurus.
Menurut Presiden GGN, Gunung Lesululi merupakan peristiwa geologi unik yang memiliki signifikansi internasional.
Baginya, penemuan ini langka di skala global karena memberikan bukti kehidupan laut purba yang ada sebelum manusia dan sebagian besar organisme yang dikenal saat ini.
“Hewan ini hidup di lautan yang berbeda dari lautan yang kita kenal saat ini. Itu adalah lautan di masa lampau—masa sebelum keberadaan manusia dan sebelum munculnya berbagai makhluk yang kini menjadi bagian dari keanekaragaman hayati kita. Oleh karena itu, meneliti dan mempelajari tulang-tulang ini, serta memahami signifikansi evolusionernya, memiliki arti penting bagi dunia, bukan hanya bagi Timor-Leste,” ujar Artur Sá.
Ia mengatakan bahwa nilai penting Lesululi tidak hanya terletak pada fosil-fosilnya, tetapi juga karena warisan ini hidup di tengah masyarakat Maliana, dan penduduk setempatlah yang menjadi pemilik tempat ini. Oleh karena itu, masyarakat memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan melestarikan warisan ini bagi generasi mendatang.
Artur Sá menjelaskan bahwa situs ini memiliki potensi untuk menjadi pusat pembelajaran dan penelitian ilmiah yang dapat menarik minat banyak orang. Ia menyebutkan bahwa fosil-fosil semacam itu membantu para ilmuwan memahami evolusi kehidupan serta perubahan lingkungan yang telah terjadi di bumi selama jutaan tahun.
Ia juga mengaitkan penemuan ini dengan diskusi global mengenai perubahan iklim. Menurutnya, catatan atau penemuan fosil menunjukkan bahwa perubahan lingkungan di masa lampau sering kali menyebabkan kepunahan, namun juga berkontribusi pada evolusi dan munculnya spesies baru.
Artur Sá menegaskan bahwa IGTL adalah entitas yang tepat untuk memimpin penelitian ilmiah, perlindungan, dan pengelolaan situs ini. IGTL memiliki sumber daya manusia dengan keahlian di bidang paleontologi, sedimentologi, geokimia, dan geologi struktur, serta mampu bekerja sama dengan para ahli internasional untuk memajukan penelitian ilmiah.

“IGTL tidak hanya memikul tanggung jawab untuk meneliti tempat ini, tetapi juga untuk melindunginya. Upaya ini sangat penting bagi perlindungan dan pendidikan, guna memastikan warga setempat memahami nilai warisan ini sehingga mereka turut melindungi dan menjaganya, serta menjadi penjaga bagi warisan tersebut,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa perlindungan situs ini tidak perlu hanya bergantung pada tim keamanan, tetapi terutama pada kesadaran masyarakat, karena warisan ini milik Timor-Leste.
Ia menegaskan kembali bahwa UNESCO, Jaringan Geopark Global, dan mitra akademis siap bekerja sama dengan IGTL bila diperlukan, untuk memperkuat penelitian ilmiah dan pengelolaan warisan geologi ini.
Sementara itu, Wakil Ketua IGTL, Victor Aleluia de Sousa, mengatakan bahwa pihaknya saat ini sedang berupaya keras melakukan penelitian ilmiah bersama para ahli dari Norwegia, Swiss, dan Australia untuk menghasilkan publikasi ilmiah penting yang menunjukkan betapa berharganya fosil ichthyosaurus tersebut.
Hasil publikasi ini akan menjadi landasan yang sangat kuat untuk mendukung pengajuan status Situs Warisan Dunia UNESCO bagi Timor-Leste.
Victor mengimbau masyarakat di wilayah Lesululi untuk terus menjaga kelestarian situs tersebut, mengingat lokasi ini kini terbuka bagi kunjungan wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Saya sampaikan kepada masyarakat Maliana bahwa kekayaan ini adalah milik Anda. Jadi, Anda harus menjaganya serta bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk mempertahankan kondisi situs ini saat ini—tanpa merusaknya ataupun melakukan aktivitas apa pun yang dapat mengancam kelestariannya,” ujarnya.
Di lain pihak, Wakil Kepala Kampung Bereleu, Kecamatan Meligu, Pos Administratif Cailaku, kotamadya Bobonaro, Helena da Silva, merasa bangga bahwa Lesululi juga merupakan situs penting di Kailaku.
Ia mengatakan perlunya menjaga tempat ini, sembari pihak berwenang terus menyosialisasikan kepada masyarakat cara melestarikannya.
“Selama ini kami tahu bahwa ini adalah jalan menuju lahan pertanian kami, namun akhirnya kami mengetahui bahwa tempat ini juga penting bagi Timor-Leste dan dunia,” ujarnya.
Reporter : Arminda Fonseca (Penerjemah : Tim TATOLI)

