iklan

HEADLINE, SOSIAL INKLUSIF

Kampung Tugu : warisan budaya Portugis yang bertahan di tengah arus globalisasi

Kampung Tugu : warisan budaya Portugis yang bertahan di tengah arus globalisasi

Keroncong Tugu dari Kampung Tugu, Jakarta Utara, Indonesia menampilkan musik keroncong dengan alat tradisional, di hari ketiga Konferensi Komunitas Portugis-Asia edisi keempat, di CCD, Minggu (27/06/2025). Foto TATOLI/António Daciparu

DILI, 29 Juni 2025 (TATOLI)Dosen Senior Departemen Sejarah di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang, Profesor Daya Negri Wijaya, dalam presentasi berjudul ‘Kampung Tugu di Persimpangan Budaya Global (Abad ke-17–20)’ menyoroti pentingnya Kampung Tugu sebagai mikrokosmos keberagaman Indonesia.

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta Utara, tersembunyi sebuah kawasan yang menyimpan jejak sejarah dan budaya unik yang telah terbentuk sejak abad ke-17. Kampung Tugu, yang kini menjadi bagian dari Kelurahan Semper, Kecamatan Cilincing, bukan sekadar perkampungan biasa. Ia merupakan saksi hidup dari persimpangan budaya global dan identitas hibrida yang terbentuk oleh arus kolonialisme, perdagangan, agama, dan migrasi dunia.

Ia menjelaskan bagaimana kawasan ini dibentuk oleh keturunan Mardijkers budak yang dibebaskan oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Perusahaan Hindia Timur Belanda) asal India, Malaka, dan keturunan Portugis-Eurasia — yang kemudian menetap di lahan rawa-rawa di luar benteng Batavia sejak 1661.

“Kampung Tugu adalah pertemuan lintas zaman yang mencerminkan interaksi budaya global, mulai dari bahasa, musik keroncong, makanan khas, hingga arsitektur gereja dan makam,” ujar Profesor Daya dalam paparannya di Konferensi Komunitas Portugis-Asia (APCC) edisi keempat, di Pusat Konvensi Dili (CCD), Minggu ini.

Kawasan ini telah mengalami berbagai transformasi sejarah, dari era Hindu-Buddha (Tarumanegara), masa Kesultanan Islam (Demak dan Banten), pendudukan kolonial Belanda, hingga penjajahan Jepang.

Masyarakat Tugu atau Tuguese memadukan unsur budaya Portugis seperti bahasa Kreol, nama keluarga (seperti Quiko, De Sousa, Cornelis), kuliner khas seperti pindang serani dan pastel tutup, serta musik keroncong Tugu yang kini menjadi ikon budaya Indonesia.

Berita terkait : Jejak budaya Portugis di ASEAN, dorong peluang ekonomi baru

Meski Belanda sempat mencabut status kewarganegaraan komunitas Tugu pada 1815 dan kemudian mengklasifikasikan mereka sebagai ‘Kristen Bumiputera’, warga Tugu tetap mempertahankan identitas mereka. Hingga awal abad ke-20, komunitas ini masih terjaga meski perlahan mengalami penurunan jumlah akibat migrasi dan perubahan politik pascakemerdekaan Indonesia.

Dalam catatan sejarah, pada 1920-an, terdapat sembilan keluarga besar yang membentuk struktur sosial Kampung Tugu, di antaranya keluarga Abrahams, Michiels, Salomons, dan Braune. Namun, situasi berubah drastis setelah pendudukan Jepang dan ketegangan pascakemerdekaan. Banyak keturunan Tuguese memilih bermigrasi ke Belanda, Suriname, dan Papua Nugini. Pada tahun 1975, populasi mereka diperkirakan hanya tinggal sekitar 500 jiwa.

Menurut Prof. Daya, pemahaman terhadap hibriditas budaya di Kampung Tugu dapat membuka cakrawala baru tentang bagaimana identitas lokal-negara berkembang dari interaksi global.

Ia menggunakan pendekatan etno-historis dengan merujuk pada arsip kolonial, sejarah lisan, artefak budaya material, hingga batu nisan tua di kompleks Gereja Tugu yang berusia ratusan tahun.

“Kampung Tugu adalah bukti bahwa identitas Indonesia bukanlah satu warna, melainkan hasil dari percampuran sejarah yang kaya. Ia bukan sekadar komunitas Portugis, melainkan mosaik budaya yang tetap bertahan dalam pusaran modernitas Jakarta,” jelasnya.

Kini, Kampung Tugu menghadapi tantangan baru dari pembangunan kota dan tekanan modernisasi. Namun, semangat pelestarian masih menyala, baik melalui komunitas adat maupun perhatian dari peneliti dan sejarawan. Kampung ini tidak hanya layak dikenang, tetapi juga dirawat sebagai warisan identitas multikultural bangsa Indonesia.

 Reporter     : Cidalia Fátima

Editor           : Julia Chatarina

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!