iklan

EKONOMI, HEADLINE

Jejak budaya Portugis di ASEAN, dorong peluang ekonomi baru

Jejak budaya Portugis di ASEAN, dorong peluang ekonomi baru

Pertunjukan tari budaya dalam rangka Konferensi Komunitas Portugis Asia (Asian Portuguese Community Conference/APCC), ke – IV yang digelar, Dili Convention Center (CCD), Timor-Leste, Jumat (27/06). Foto Tatoli/Antonio Daciparu

DILI, 27 Juni 2025 (TATOLI) — Promotor Asian Portuguese Community Conference (APCC) dan anggota komunitas lingkungan Portugis Malaka, Joseph de Santa Maria, menegaskan bahwa kehadiran budaya Portugis yang tersebar di seluruh Asia Tenggara membuka peluang besar untuk kerja sama ekonomi antara ASEAN dan negara-negara berbahasa Portugis (CPLP).

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam pidatonya pada Konferensi Komunitas Portugis Asia ke-4 (APCC) yang berlangsung di Dili. Dalam pidato itu, Joseph menyampaikan apresiasi atas pencapaian Timor-Leste yang akan secara resmi bergabung menjadi anggota penuh ASEAN pada Oktober mendatang.

“Saya ingin menyampaikan ucapan selamat kepada para pemimpin Timor-Leste atas tercapainya impian menjadi bagian dari blok ekonomi Asia Tenggara ini,” kata Joseph di Pusat Konvensi Dili (CCD), jumat ini

Ia menekankan bahwa pengaruh Portugis telah menjadi bagian dari sejarah dan identitas budaya di hampir seluruh negara ASEAN, mulai dari alfabet modern Vietnam, musik keroncong di Indonesia, hingga komunitas Kristang di Malaysia dan Singapura.

Dalam pemaparannya, Joseph menjelaskan secara rinci pengaruh Portugis di kawasan Asia Tenggara, termasuk, Vietnam, di mana misionaris Portugis berperan penting dalam pembentukan alfabet Latin modern.

Berita terkait : Joseph de Santa Maria: “Timor-Leste adalah masa depan komunitas Portugis Asia”

Adapaun di Kamboja dan Laos, tempat pertukaran budaya berlangsung melalui misi keagamaan dan perdagangan sejak abad ke-16 bahkan di Filipina, yang mengakui peran navigator Portugis Fernão de Magalhães (Ferdinand Magellan) dalam sejarah kolonial awal negara tersebut.

Selain itu, di Myanmar, di mana komunitas keturunan Portugis masih eksis dan mempertahankan identitas serta agama Katolik mereka dan Thailand, yang mendapat pengaruh Portugis dalam bidang kuliner, arsitektur, dan bahasa sejak 1511.

Indonesia, khususnya di wilayah timur dan Kampung Tugu, Jakarta, di mana musik keroncong yang berasal dari warisan Portugis tetap hidup.

Dari Malaysia dan Singapura, yang masih memiliki komunitas Kristang dengan budaya Luso-Melayu yang unik bahkan di Brunei pernah menjadi mitra dagang Portugis pada awal abad ke-16.

“Jejak ini bukan sekadar sejarah, tetapi aset yang bisa dimanfaatkan untuk membangun jembatan kerja sama antara ASEAN dan CPLP,” tegas Joseph.

Menurut Joseph, keanggotaan penuh Timor-Leste dalam ASEAN dapat menjadi penghubung strategis antara ASEAN dan CPLP (Comunidade dos Países de Língua Portuguesa), membuka potensi pembentukan blok ekonomi bersama dengan skala besar.

“ASEAN memiliki populasi sekitar 678 juta jiwa, sementara CPLP mencakup 287 juta jiwa. Bila digabungkan, kita berbicara tentang potensi pasar bersama sebesar 965 juta jiwa salah satu yang terbesar di dunia,” jelasnya.

Ia menambahkan, kerja sama antara kedua blok dapat dikembangkan dalam bentuk perluasan perdagangan, investasi, serta pertukaran budaya dan pendidikan.

Berita terkait : Konferensi APCC 2025 : Presiden Horta serukan persatuan sejarah dan budaya

Menutup pidatonya, Joseph mengutip kata-kata penulis besar Portugis Joao de Barros dari tahun 1540 : “Lambang dan batas Portugis… adalah hal-hal material dan waktu dapat menghancurkannya; tetapi itu tidak akan menghancurkan agama, adat istiadat, dan bahasa yang ditinggalkan Portugis di tanah-tanah itu”.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor     : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!