iklan

AINARO, BAUCAU, BOBONARO, DILI, EKONOMI, LAUTÉM, MANATUTO, MANUFAHI, OÉ-CUSSE (RAEO), SOSIAL INKLUSIF, VIQUEQUE

Festival Tais : 42 kelompok pengrajin ikut berpartisipasi

Festival Tais : 42 kelompok pengrajin ikut berpartisipasi

Kelompok pengrajin dari sembilan kotamadya ikut berpartisipasi dalam Festival Tais. Foto Tatoli/Cidalia Fatima

DILI, 28 februari 2022 (TATOLI)— Sebanyak 42 kelompok pengrajin dari sembilan kotamadya ikut berpartisipasi dalam Festival Tais yang digelar  Pemerintah bersama dengan para mitra untuk menjaga, mempromosikan serta melestarikan produk tais.

Ketua Komite Nasional untuk Warisan Budaya dan Takbenda (PKI) Timor-Leste, Manuel Ximenes Smith menyebutkan kesembilan kotamadya tersebut terdiri dari Ainaro, Baucau, Bobonaro, Oecusse, Viqueque, Dili, Lautem, Manufahi dan Manatuto .

“Festival tidak hanya ini saja. 42 kelompok pengrajin yang ikut dalam festival terdiri dari Sembilan kotamadya.  Kita lihat ada juga generasi baru yang ikut berpartisipasi. Ini adalah proses baru untuk mendorong generasi yang lain untuk bisa mengambil inisiatif untuk berpartisipasi,” ungkap Manuel dalam Festival Tais di Novo Turismo, senin ini.

Menurutnya, Tais sudah melekat dalam tradisi orang Timor-Leste dan pengalaman mereka ini adalah turun temurun dari setiap generasi yang harus dijaga bersama.

Dilain pihak, Perwakilan Fundasaun Alola, Maria Imaculada dalam pidatonya mengatakan, kegitan tersebut adalah rencana untuk melindungi testil Tais TL serta mempromosikan proses pembuatan tais dengan warna natural dari TL itu sendiri.

“Kita sangat bangga karena Tais   sudah diakui. Kita disini untuk mendukung para pengrajin. Kita juga menghargai pemerintah yang mengambil aksi ini sebagai salah satu prioritas dan diharapkan pemerintah memberikan dana bantuan pada PKI untuk mengembangkan Tais ini sendiri. Karena Tais memiliki nilai yang sangat berharga bagi orang Timor,” katanya.

Perwakilan USAID, Harold Carey menghargai usaha dari TL yang telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO untuk Tais yang memberikan nilai berharga khususnya pada para perempuan pengrajin yang memiliki kemampuan untuk menenun Tais.

“Ini bukan hanya sebuah testil biasa tetapi ini adalah warisan dan tradisi yang melekat di antara perempuan dari ibu ke anak menjadi turun temurun dan ini juga mewakili kepercayaan masyarakat TL,” jelas Harold.

Pemerintah sendiri mendapatkan bantuan dana dari UNESCO Paris, negara anggota, para mitra seperti USAID dan UN Women sebesar $451.000 untuk mempersiapkan rencana perlindungan Tais dalam jangka waktu 2022 hingga 2025.

Reporter : Cidalia Fátima

Editor    : Armandina Moniz

iklan
iklan

Leave a Reply

iklan
error: Content is protected !!