Top

MCI dan Perusahaan M2T luncurkan platform E-Commerce Digital untuk produk lokal

Kementerian MCI dan Perusahaan M2T meluncurkan platform E-Commerce Timor Shop sebagai langkah mempromosikan produk lokal. Foto Tatoli/Felicidade Ximenes

DILI, 14 September 2026 (TATOLI)— Kementerian Perdagangan dan Industri (MCI) meluncurkan produk Marungi (Daun Kelor) yang diproduksi oleh Perusahaan M2T (Mina Marungi Tradisional) serta meluncurkan juga platform E-Commerce Timor Shop sebagai langkah penting untuk mempromosikan produk lokal dan mendorong perdagangan digital di Timor-Leste.

Peluncuran  produk Marungi dan platform E-Commerce Timor Shop  dilakukan oleh Menteri Perdagangan dan Industri (MCI), Filipus Nino Pereira, bersama CEO Perusahaan M2T Unip. Lda, Cristiano do Santos, didampingi oleh Direktur Jenderal Industri dan Wakil Ketua Bidang Perdagangan dan Industri, Kathleen Gonçalves, meluncurkan produk lokal dan aplikasi E-commerce di aula MCI, Senin ini.

Menteri Nino Pereira mengatakan peluncuran ini untuk memberikan ruang bagi produsen lokal, khususnya perusahaan M2T, untuk  guna mempromosikan dan mengomersialkan produk Marungi.

“Hari ini, kami meluncurkan kedua kegiatan ini untuk memberikan ruang bagi produsen lokal, khususnya M2T, guna mempromosikan dan mengomersialkan produk Marungi, serta produk-produk lain yang diolah dari bahan baku lokal,” ujar Menteri  Nino Pereira.

Foto MCI

Ia menambahkan bahwa M2T telah menunjukkan kreativitas dalam mengolah Marungi menjadi produk bernilai ekonomi serta menciptakan rantai nilai, mulai dari para petani penanam Marungi hingga ke tangan konsumen.

“Ini merupakan inisiatif atau kreativitas M2T dalam mengubah  Marungi menjadi produk sehat yang memiliki nilai ekonomi. Terdapat pula rantai nilainya, yang mencakup perjalanan produk dari petani penanam Marungi hingga ke tangan konsumen,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Konstitusional ke-IX menginginkan MCI untuk mempromosikan dan mengomersialkan produk-produk lokal, agar menjadi produk yang membanggakan bangsa.

Terkait Timor Shop, Nino Pereira mengatakan bahwa platform daring tersebut dapat menjadi saluran digital untuk mempromosikan dan menjual produk M2T serta produk lokal lainnya, termasuk dalam upaya memfasilitasi sistem pembayaran digital.

“Ini merupakan langkah strategis agar kita dapat memanfaatkan saluran digital yang tersedia untuk mempromosikan produk,” ujarnya.

Menteri Nino Pereira   menegaskan bahwa Timor-Leste—yang kini telah bergabung dengan komunitas ASEAN dan membahas ekonomi digital—perlu memanfaatkan aplikasi serta platform digital untuk mendorong kemajuan perdagangan.

Ia mengatakan bahwa pemerintah akan berupaya melalui berbagai kebijakan dan regulasi untuk mempromosikan produk lokal serta menjamin kualitas dan keamanannya, agar produk-produk tersebut dapat beredar di pasar nasional maupun internasional, termasuk menjangkau peluang ekspor.

Ia menyebutkan bahwa M2T kini telah mendiversifikasi produk Marungi Tahan (Daun Kelor) menjadi 13 jenis produk dan jumlahnya akan terus bertambah.

Foto MCI

“Khusus untuk produk Marungi Tahan saja, mereka telah melakukan diversifikasi menjadi 13 jenis produk, dan jumlahnya akan terus bertambah,” ujarnya.

Ia juga mendorong para produsen dan pelaku usaha untuk memanfaatkan pameran nasional, pameran internasional, serta saluran daring seperti Facebook dan TikTok guna mempromosikan produk lokal. Namun, metode pemasaran yang paling efektif adalah pemasaran dari mulut ke mulut.

Di tempat yang sama, Manajer Perusahaan M2T (Unip, Lda), Cristiano dos Santos, mengatakan bahwa peluncuran Timor Shop dan produk-produk lokal seperti Moffu serta Marungi Uut bukan sekadar tentang penjualan produk, melainkan juga upaya mempromosikan produk lokal, budaya, pengetahuan tradisional, gaya hidup sehat, inovasi, dan perekonomian Timor-Leste.

Ia menyatakan bahwa M2T ingin menghubungkan pengetahuan tradisional dengan sains, kualitas, inovasi, dan pasar digital.

“Melalui Timor Shop, kami ingin membangun jembatan antara produsen lokal dan pasar. Teknologi digital dapat membantu produk lokal menjangkau konsumen dengan cara yang lebih mudah,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa Moffu, Marungi Uut, Green T Mor, dan produk-produk lain dari M2T merupakan bagian dari upaya untuk memberikan nilai tambah pada produk lokal serta menciptakan rantai nilai—mulai dari bahan baku, pengolahan, pengemasan,  dan pemasaran hingga sampai ke tangan konsumen.

“Melalui sistem ini, kami dapat menciptakan peluang bagi para petani, produsen, wirausahawan, dan kaum muda di Timor-Leste,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa pengembangan produk herbal harus dilakukan secara bertanggung jawab—terutama terkait aspek kualitas, keamanan, bukti ilmiah, dan regulasi—serta tidak boleh menjanjikan bahwa produk herbal dapat menggantikan pengobatan medis.

Ia menambahkan bahwa sektor produk herbal dan ekonomi hijau dapat membuka peluang bagi kaum muda di berbagai bidang, seperti pertanian, pengolahan, pengemasan, pemasaran digital, E-commerce, desain, serta penelitian dan teknologi.

Ia menegaskan bahwa pengembangan produk lokal memerlukan kolaborasi antara pemerintah, kementerian terkait, tenaga kesehatan, perguruan tinggi dan lembaga penelitian, sektor swasta, produsen, masyarakat, serta mitra internasional.

Tim TATOLI

Publisidade

Leave a Reply

Latest Post

error: Content is protected !!